Translate

Minggu, 10 Juni 2012


Perbincangan Sekitar Mimpi, Firasat Dan Kaitannya, Pembahasan Sekitar Musibah

Artikel-artikel dibawah ini saya kumpulkan hasil browsing di www.google.com sebagai referensi tentang dalil firasat dan mimpi dan kalau saya tarik kesimpulan apa yang diungkapkannya tidak banyak perbedaan dengan yang saya rasakan baik berupa firasat atau mimpi, untuk itu maaf kalau sumbernya saya tidak sertakan alamat url nya, dan saya ucapkan terima kasih atas artikelnya semoga alloh membalasnya.

hadis riwayat Abu Hurairah, ia berkata: Dari Nabi bahwa beliau bersabda: Ketika kiamat telah mendekat, mimpi seorang muslim hampir tidak ada dustanya. Mimpi salah seorang di antara kalian yang paling mendekati kebenaran adalah mimpi orang yang paling jujur dalam berbicara. Mimpi orang muslim adalah termasuk satu dari empat puluh lima bagian kenabian. Mimpi itu dibagi menjadi tiga kelompok: Mimpi yang baik, yaitu kabar gembira yang datang dari Allah. Mimpi yang menyedihkan, yaitu mimpi yang datang dari setan. Dan mimpi yang datang dari bisikan diri sendiri. Jika salah seorang di antara kalian bermimpi yang tidak menyenangkan, maka hendaknya dia bangun dari tidur lalu mengerjakan salat dan hendaknya jangan dia ceritakan mimpi tersebut kepada orang lain. Beliau berkata: Aku gembira bila mimpi terikat dengan tali dan tidak suka bila mimpi dengan leher terbelenggu. Tali adalah lambang keteguhan dalam beragama. Kata Abu Hurairah : Aku tidak tahu apakah ia termasuk hadis atau ucapan Ibnu Sirin. (Shahih Muslim No.4200)
Menurut hadist Nabi diatas, mimpi dibagi dalam tiga bagian yakni :
·         Mimpi yang datang dari Allah. Mimpi ini adalah mimpi yang baik.
·         Mimpi yang datang dari Syaitan. Mimpi ini adalah mimpi buruk
·         Mimpi yang datang dari bisikan diri sendiri (mimpi yang berasal dari keinginan hawa nafsu,karena seperti kita ketahui nafsu itu ada tiga, yaitu nafsu mutmainnah, nafsu lawwamah dan nafsu ammarah -lengkapnya klik disini-.Mimpi seperti ini terjadi kerana pengaruh pikiran. Sesuatu yang kita lakukan atau yang kita khayalkan siang hari atau menjelang tidur itulah yang selalu menjelma ketika kita terlelap)
Kedua jenis mimpi yang terakhir tidak boleh dipercayai. Hadis riwayat Abu Qatadah, ia berkata : Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda: "Mimpi baik itu datang dari Allah dan mimpi buruk datang dari setan. Maka apabila salah seorang di antara kalian bermimpi yang tidak menyenangkan hendaklah dia meludah ke samping kiri sebanyak tiga kali dan memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatannya sehingga mimpi itu tidak akan membahayakannya" (Shahih Muslim No.4195)
Hadis riwayat Anas bin Malik, ia berkata:Rasulullah bersabda: Mimpi seorang mukmin adalah termasuk satu dari empat puluh enam bagian kenabian. (Shahih Muslim No.4201)
Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa melihatku dalam mimpi, maka dia benar-benar telah melihatku. Sesungguhnya setan tidak dapat menjelma sepertiku. (Shahih Muslim No.4206)
Hadis riwayat Abu Qatadah ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: "Barang siapa yang melihat aku dalam mimpi, maka dia benar-benar melihat sesuatu yang benar (hak)". (Shahih Muslim No.4208)
Satu perkara yang perlu disadari bahwa mimpi tidak boleh dijadikan hujjah atas hukum syara (dalam artian mempercayai bahwa mimpi merupakan suatu tanda/isyarat akan terjadinya sesuatu dalam hidup). Ia sekedar berita-berita yang menggembirakan atau bunga tidur. Tidak lebih dari itu. Mimpi yang benar datang dari orang yang tidak pernah berbohong dalam hidupnya. Menurut Ibn Al-Qayyim semakin benar hidup seseorang maka semakin benar pula mimpi yang dialaminya. Selain itu orang yang bermimpi itu hendaklah berada dalam keadaan berwudhu (satu hal yang perlu aku biasakan ...) dan sehingga tertidur dalam keadaan suci, ini sesuai dengan sunnah Nabi.
Tidak semua mimpi dapat ditafsirkan, apa makna yang terkandung didalamnya. Ada kalanya mimpi bagaikan angin lalu namun ada pula yang benar-benar menjadi kenyataan. Seperti kisah Rasulullah SAW.
Dalam suatu riwayat dikisahkan, seorang wanita bertanya,"Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya bermimpi melihat sebagian tubuh baginda berada di rumahku".Baginda menjawab, "Sesungguhnya Fatimah akan melahirkan seorang anak lelaki, kemudian engkau yang akan menyusukannya". Tidak lama kemudian Fatimah melahirkan Hussein dan disusukan oleh wanita tersebut. (Buku Tafsir Mimpi, Ibni Sirin)
Jadi sesungguhnya mimpi itu dapat ditafsirkan, namun tidak semua orang mampu menafsirkan kebenarannya. Mimpi diakui adanya dalam syariat Islam. Sedangkan ilmu untuk mentakwilkan, mentakbirkan atau menafsirkannya masih menjadi perkara ikhtilaf  (masih ada perbedaan pendapat) oleh para ulama. Ada banyak ulama yang ingin mendalami masalah takwil atau tafsir mimpi tetapi tidak banyak diantara mereka yang mengetahuinya.

Al-Imam Ibnu Syahin, dalam mukadimah kitabnya Al-Isyarat Fi Ilmi al-'Ibarat, berkata:
"Islam mencerca ilmu tenung kerena hanya Allah-lah yang mengetahui masalah ilmu ghaib. Saya menghindari ilmu-ilmu seperti itu dan tidak meminatinya, dan saya ingin membuat buku yang dapat menbedah perkara-perkara ghaib yang seharusnya diakui oleh syara, yakni ilmu takwil dan ta'bir mimpi."
(Diolah dari berbagai Sumber)



Apakah Ilham, Firasat, Mimpi, dan Kasyaf (Melihat Sesuatu yang Ghaib) Dapat Dijadikan Dalil?

Di dalam Lisanul Arab [4] disebutkan: “Ilham ialah bahwa ALLAH menanamkan di dalam jiwa seseorang sesuatu yang dapat mendorongnya untuk melakukan atau meninggalkan sesuatu, dan ia termasuk jenis wahyu yang dengannya ALLAH mengkhususkan siapa saja yang dikehendaki-NYA diantara hamba-hamba-NYA.”
Oleh :  Fadhilatu Syaikh, DR Yusuf Al-Qaradhawi [1]
Apakah Ilham Itu?
Dalam Al-Qur’an disebutkan dalam bentuk fi’il madhi (kata kerja lampau) yaitu dalam QS Asy-Syams 7-8 : “Dan demi jiwa serta penyempurnaannya, lalu IA meng-ILHAM-kan kepadanya jalan keburukan dan ketaqwaannya.”
Dalam Al-Mu’jam [2] disebutkan makna ayat tersebut : “ALLAH menanamkan dalam jiwa itu perasaan yang dapat membedakan antara kesesatan dan petunjuk.” Makna ini didasarkan oleh riwayat mufassir terdahulu seperti Mujahid dll tentang makna ayat ini. Mungkin dimasa sekarang orang biasa menyebutnya sebagai dhamir (hati nurani).
Di dalam kamus Al-Muhith, disebutkan: “ALLAH mengilhamkan padanya kebaikan, yaitu IA mengajarkannya kepadanya.” Adapun pen-syarah kitab Al-Muhith yaitu Az-Zubaidi [3] mengatakan: “Ilham ialah apa-apa yang diletakkan dalam hati dalam bentuk yang melimpah  dan khusus dengan sesuatu yang datangnya dari ALLAH atau dari para Malaikat.” Dikatakan pula: “Meletakkan sesuatu di dalam hati, yang karenanya hati menjadi tentram dan hal itu dikhususkan oleh ALLAH bagi para hamba yang dikehendaki-NYA.”
Di dalam Lisanul Arab [4] disebutkan: “Ilham ialah bahwa ALLAH menanamkan di dalam jiwa seseorang sesuatu yang dapat mendorongnya untuk melakukan atau meninggalkan sesuatu, dan ia termasuk jenis wahyu yang dengannya ALLAH mengkhususkan siapa saja yang dikehendaki-NYA diantara hamba-hamba-NYA.”
Di dalam Syarh Aqidah Nasafiyyah [5] disebutkan: “Ilham adalah menanamkan sesuatu dalam hati secara melimpah.” Sedangkan di dalam At-Ta’rifat [6] dikatakan: “Ilham adalah apa yang ditanamkan di dalam hati dengan cara yang melimpah.” Sementara di dalam An-Nihayah [7] dikatakan : “Ilham ialah bahwa ALLAH meletakkan di dalam jiwa seseorang perintah yang membangkitkannya untuk melakukan atau meninggalkan sesuatu dan hal itu termasuk jenis wahyu yang dikhususkan oleh ALLAH kepada siapa saja yang dikehendaki-NYA diantara para hamba-NYA.”
Sementara itu dalam bab had-da-tsa ia menyitir sebuah hadits shahih [8]: “Sungguh telah ada pada ummat-ummat terdahulu para muhaddatsun, dan jika ada seseorang dari ummatku, maka ia adalah Umar bin Khattab.” Kemudian ia berkata [9]: “Penafsiran dari hadits ini ialah bahwa mereka itu adalah orang-orang yang diberikan ilham & orang yang diberikan ilham adalah orang yang dalam dirinya diletakkan sesuatu lalu dengannya ia diberi tahu tentang suatu perkiraan atau suatu firasat. Hal ini semacam sesuatu yang dikhususkan oleh ALLAH kepada siapa saja yang dikehendaki-NYA dari para hamba yang dipilih-NYA, misalnya Umar, seolah-olah disampaikan pembicaraan kepada mereka lalu mereka mengatakannya.”
Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa: Ilham adalah penyampaian suatu makna, pikiran atau hakikat di dalam jiwa atau hati – terserah mau dinamakan apa saja – secara melimpah. Maksudnya ALLAH SWT menciptakan padanya ilmu dharuri yang ia tidak dapat menolaknya, yaitu bukan dengan cara dipelajari akan tetapi dilimpahkan ke dalam jiwanya bukan karena kemauannya.
Perbedaan ilham dan tahdits menurut Imam Ibnul Qayyim [10] bahwa tahdits sifatnya lebih khusus dari ilham, berdasarkan hadits Bukhari tentang Umar ra di atas, sehingga setiap tahdits adalah ilham tapi tidak setiap ilham adalah tahdits. Seorang mu’min (manusia yang mukallaf) akan diberikan ilham sesuai taraf keimanannya kepada ALLAH SWT, seperti disebutkan dalam ayat-ayat:
وَأَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّ مُوسَى أَنْ أَرْضِعِيهِ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ وَلَا تَخَافِي وَلَا تَحْزَنِي إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ
“Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa: Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya, maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil), dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, Karena Sesungguhnya kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul.” (QS Al-Qashshash, 28/7)
وَإِذْ أَوْحَيْتُ إِلَى الْحَوَارِيِّينَ أَنْ آَمِنُوا بِي وَبِرَسُولِي قَالُوا آَمَنَّا وَاشْهَدْ بِأَنَّنَا مُسْلِمُونَ
“Dan (ingatlah), ketika AKU ilhamkan kepada pengikut Isa yang setia: Berimanlah kamu kepada-Ku dan kepada rasul-Ku. Mereka menjawab: Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang patuh (kepada seruanmu)”. (QS Al-Ma’idah, 5/111)
Dan bisa juga diberikan kepada makhluk yang tidak mukallaf, sebagaimana dalam firman-NYA yang lain;
وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ
“Dan RABB-mu mewahyukan kepada lebah: Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibuat manusia.” (QS An-Nahl, 16/68)

Ilham, Kasyaf, Mimpi, dan Firasat Tidak Bisa Dijadikan Hujjah Syari’at
Kesepakatan para ulama ushul bahwa ilham, firasat, mimpi dan kasyaf, semuanya itu adalah bukan hujjah syari’at baik dalam masalah amal dan ibadah apalagi dalam masalah i’tiqad (aqidah). Para ulama ushuluddin dan ushul fiqh telah ijma’ dalam masalah ini, mereka menolak orang yang menganggapnya sebagai hujjah dan menolak segala sesuatu yang didasarkan kepadanya. An-Nasafi [11] berkata: “Menurut ahlul-haqq ilham itu bukanlah salah satu sebab dari sebab-sebab untuk mengetahui kebenaran sesuatu.”

Kamis, 2008 Juni 26

Kedutan, Benarkah Sebagai Firasat?

Dan hanya kepada ALLAH hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman." (QS. Al-Maa’idah: 23)

Pernah seorang ‘kyai’ tiba-tiba menghentikan ceramahnya lalu berkata: “Disini ada yang mengunjing saya, buktinya, daun telinga saya kedutan.” Percayakah anda dengan kesimpulan sang kyai tersebut?
Mungkin anda pernah mengalami kedutan, yakni adanya getaran cepat pada bagian tubuh tertentu. Datangnya tiba-tiba, dan tidak dapat dikendalikan gerakannya. Mungkin dari sinilah kemudian orang membuat tafsiran yang bermacam-macam tentang kedutan. Untuk setiap anggota badan yang kedutan memiliki tafsiran yang berbeda.
Konon, jika seluruh bagian tubuh berkedut, itu tandanya akan menghadapi banyak urusan. Jika hanya kepala sebelah kiri saja berarti akan mendapat rezeki ‘nomplok’. Jika kepala sebelah kanan yang berkedut, artinya akan mendapat pujian orang banyak. Jika alis yang berkedut katanya pertanda akan bertemu dengan orang dicintai. Lain halnya jika yang berkedut adalah kulit mata sebelah kanan, konon dia akan menangis karena akan mendapatkan kejadian yang menyakitkan. Ada juga yang bilang kalau daun telinga berkedut itu tandanya orang membicarakan keburukannya.
Begitulah seterusnya, orang membuat tafsir kedutan dari ubun-ubun hingga ujung kaki. Katanya kedutan pada ubun-ubun adalah alamat akan diangkat jadi pemimpin, sedangkan kedutan ditumit pertanda dia akan prihatin dan bekerja keras.
Bagi orang yang mempercayai kebenaran bahwa kedutan membawa tanda-tanda tertentu, maka dia akan berharap-harap mendapat kebaikan apabila kedutan tersebut pada bagian-bagian yang dianggap membawa kebaikan. Dan bila kedutan tersebut memberi tanda keburukan, maka hatinya akan cemas memikirkan keburukan yang akan menimpanya tersebut.

Firasat Memang Ada
Kalangan ulama tidak mengingkari adanya firasat yang dimiliki oleh orang mukmin, apalagi ada hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi yang berbunyi, “Hati-hatilah dengan firasatnya orang mukmin, karena dia melihat dengan cahaya ALLAH.” (HR. Tirmidzi, Gharib)
Ibnul Qayyim Al-Jauziyah termasuk ulama yang menguatkan adanya firasat bagi orang mukmin, seperti terlihat dalam karya-karya beliau. Di antara yang beliau katakan adalah, “Barangsiapa yang menjaga dhahirnya dengan mengikuti sunnah, menjaga hatinya dengan muraqabah, menjaga matanya dari yang haram dan mencegah nafsunya dari syubhat dan makan (hanya) dari yang halal, niscaya firasatnya tidak salah.”
Hanya saja, hakikat dan bagaimana terjadinya firasat sangatlah berbeda dengan apa yang dipahami oleh orang-orang yang mempercayai hubungan kedutan dengan peristiwa yang akan terjadi.
Al-Hafizh Al-mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwazhi bi syarh jami’ Tirmidzi, ketika menjelaskan hadits di atas menyatakan: (firasat) bisa memiliki dua pengertian, seerti yang terlihat pada dhahir hadits, yakni ALLAH menyusupkan firasat itu di hati para wali-NYA, sehingga mereka mengetahui kondisi seseorang sebagai bagian dari karomah, atau memiliki ketepatan wawasan, dugaan dan kemantapan. Makna kedua, dia mendaptkan (firasat) itu berdasarkan pengalaman, keadaan, ata perilaku kebiasaan yang dengannya bisa diketahui kondisi manusia.
Para ulama tidak menyebutkan bahwa firasat itu hadir dengan adanya sinyal dari gerakan tubuh tertentu (kedutan), arah angin tertentu atau suara burung tertentu. Bahkan mengaitkan kedutan dengan peristiwa tertentu lebih layak dikatakan tathayyur yang merupakan kesyirikan.
Secara bahasa kata ini berasal darikata thair yang bermakna burung, yakni meramal kejadian berdasar suara burung. Namun pengertian tersebut secara istilah juga mencakup seluruh keyakinan yang mengaitkan peristiwa tertentu dengan tanda tertentu yang secara ilmiah dan syar’i tidak ada kaitannya, lalu hal itu dijadikan acuan untuk melangkah atau mengurungkan suatu perbuatan. Perbuatan ini termasuk syirik. Imam Ahmad meriwayatkan hadits dari Ibnu Amru, “Barangsiapa yang mengurungkan hajatnya karena tathayyur, maka dia telah berbuat syirik.” (HR. Ahmad)
Tak ada hubungannya telinga kedutan dengan orang menggunjingnya di tempat jauh, baik secara ilmiah maupun secara syar’i. sehingga tidak layak kita menjadi sedih karena menunggu musibah yang akan terjadi setelah ada sinyal kedutan, atau mengurungkan niat baik gara-gara kedutan.

Khurafat
Hasil otak-atik orang yang mengaitkan kedutan dengan peristiwa tertentu bisa pula dikatakan khurafat. Karena makna khurafatI berasal dari kata kharaf yang bermakna pikiran yang bingung. Sedangkan secara istilah ada yang mengartikan sebagai dongeng, isu tau rumor yang tidak ada bukti kebenarannya.
Terdapat pula riwayat yang menyebutkan asal-usul khurafat. Aisyah berkata, “Suatu hari Rasulullah SAW bercerita di hadapan para istrinya, lalu salah seorang di antara mereka berkata, ‘Wahai Rasulullah, cerita itu hanyalah khurafat!’ Nabi bertanya, ‘Tahukah kalian apakah khurafat itu? Ada seorang laki-laki dari Udzrah yang ditawan oleh jin pada masa jahiliyah dahulu, lalu orang itu tinggal bersama jin selama berbulan-bulan. Setelah itu dia dikembalikan ke alam manusia, lalu dia bercerita kepada orang-orang tentang peristiwa ajaib yang dialaminya,kemudian orang-orang berkata: ‘Itu cerita khurafat.’’’(HR. Ahmad)
Khurafat bisa juga bermakna suatu keyakinan yang dihasilkan dari rekaan, khayalan, atau otak-atik orang yang mengaitkan kejadian satu dengan yang lain tanpa dasar ilmiah dan syar’iyah. Istilah lain yang mungkin dekat dengan khurafat adlah mitos.
Kedutaan bukan merupakan tanda apa-apa. Apalagi sebab terjadinya bisa dijelaskan secara medis. Kedutan pada kelopak mata misalnya, itu bisa saja terjadi akibat gangguan syaraf pada kelopak mata sehingga otot pada pada kelopak mata berkontraksi secara ritmis, tak ada hubungannya dengan peristiwa yang dialami.
Walaupun terkadang setelah dia kedutan misal di tangan kemudian setelah itu dia menerima duit. Kejadian tersebut hanya kebetulan belaka, yang tidak ada hubungan sama sekali. Bisa jadi dia menerima uang tersebut karena sebelumnya dia bekerja dan mendapat upah, maka pekerjaannya itulah yang menyebabkan dia mendapatkan uang, bukan karena kedutan di tangan.
ALLAH telah memperingatkan untuk tidak menduga-duga suatu perkara ghaib, “Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran.” (QS. Yunus: 36)

Sumber: Ar-Risalah no. 38 Tahun 2004
Abu Hasan


Bashirah, mata hati..., mata batin...

    Konsep firasat berkaitan dengan bashirah. Bashirah secara literal berarti persepsi, intelijensi, kebijaksanaan dan juga kesaksian. Definisi bashirah adalah mata hati yang terbuka dan persepsi mendalam, dan sebagai sebuah kemampuan untuk melihat konsekuensi saat bebuat, atau kemampuan untuk melihat ke depan

    Bashirah adalah sumber pengetahuan spiritual yang diperoleh melalui pemikian reflektif dan inspiratif yang melibatkan ruh terhadap realitas segala sesuatu. Karena pemahaman ini dipeoleh melalui cahaya ilahiah, akibatnya akal terjerat kualitasnya. Pemahaman ini didapat tanpa perlu mencari bukti dahulu seperti kebenaran ilmiah.

    Nah, dari bashirah ini akan membawa manusia kedalam kedalaman pencerahan sehingga memahami   materi dan non materi, dan kesadarannya menjadi eksistensi dimana dengannya dia melihat. ketika bashirah ini aktf dimana persepsi telah menjadi pengetahuan maka disebut firasat.

    Orang-orang yang memiliki firasat akan terbuka kepada manifestasi cahaya Ilahi, tidak akan bingung bila melihat elemen2 yang bertentangan.

    Melalui firasat ini eksistensi adalah sebuah kitab yang halamannya  tak terhitung, kalimatnya memancarkan ribuan makna dani setiap orang adalah realitas tersembunyi. Pesan-pesan yang disampaikan kadang tak terungkap, tetapi kejutannya menunggu di akherat, yang tidak bisa diindrawikan di dunia.

 Salam,
Http://ferrydjajaprana.multiply.com

Dalil Firasat

Dalil untuk hal ini adalah firman Allah subhanahu wata
،¦ala, artinya,
"Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (keuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda." (QS.al-Hijr:75) Sebagian ulama mengatakan bahwa ayat ini turun terhadap para ahli firasat.

Artikel : Bulein Annur - Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits

SEKELUMIT TENTANG FIRASAT

Rabu, 07 Maret 07
Ketika hati memiliki hubungan dengan Allah subhanahu wata،¦ala dan anggota-anggota badan bekerja untuk berbuat ta'at kepada-Nya dengan menahan dari hal-hal yang diharamkan-Nya, maka Dia akan mengaruniai cahaya ke dalam hati yang dengannya ia dapat membedakan antara haq dan batil, antara orang-orang yang jujur dan orang-orang yang berdusta.!

Pemilik hati dan anggota badan seperti ini, melihat secara hakiki melalui cahaya dari Allah subhanahu wata
،¦ala. Rasulullah shallallahu ،¥alaihi wasallam bersabda, "Sesungguhnya Allah memiliki para hamba yang mengenali manusia dengan memperhatikan tanda-tanda (firasat)." (Dihasankan Syaikh al-Albani) Pengetahuan batin dan anugerah seperti inilah yang sering dinamakan ulama sebagai Firasat Imaniah.

Sebagian ulama mengatakan, "Firasat adalah bersitan pertama (dalam hati), tanpa penentang; jika ada penentang dari yang sejenisnya, maka disebut Hadits an-Nafs (kata hati), bukan firasat."

Salah seorang ulama mengatakan, "Firasat hanya terjadi melalui penanaman iman. Selamanya, tidak akan ada firasat tanpa iman. Iman diserupakan dengan tanaman sebab ia selalu bertambah, tumbuh dan bersih dengan siraman, buahnya dapat dihasilkan setiap waktu atas izin Allah subhanahu wata
،¦ala, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Barangsiapa yang menanam iman di 'bumi' hatinya yang baik dan bersih lalu menyiraminya dengan 'air' keikhlasan, kejujuran dan mutaba'ah, maka sebagian dari buahnya adalah firasat."

Dalil Firasat

Dalil untuk hal ini adalah firman Allah subhanahu wata
،¦ala, artinya,
"Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (keuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda." (QS.al-Hijr:75) Sebagian ulama mengatakan bahwa ayat ini turun terhadap para ahli firasat.

Mengenai kata "al-Mutawassimin" dalam ayat ini, Ibn al-Qayyim rahimahullah berkata, "Mujahid rahimahullah berkata, ' (Mereka adalah) Para ahli firasat.' Ibn 'Abbas radhiyallahu
،¥anhu berkata, 'Ahli Nazhar.' Qatadah rahimahullah berkata, 'Orang-orang yang mengambil pelajaran.' Muqatil rahimahullah berkata, Orang-orang yang berfikir.،¨ Mengomentari makna-makna tersebut beliau mengatakan bahwa hal itu merupakan salah satu sifat seorang Mukmin, bagian dari kemuliaan yang Allah anugerahkan padanya, bagian dari buah-buah keimanan, dan bagian dari pahala amal shalih yang dilakukan pelakunya.

Dalam ayat lain, Allah subhanahu wata
ala berfirman, artinya, "Dan kalau Kami menghendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu, sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kamu." (QS. Muhammad :30). Asal firasat ini adalah kehidupan dan cahaya yang dianugerahkan Allahƒnkepada siapa saja dari para hamba yang dikehendaki-Nya, sehingga hatinya bersinar. Untuk selanjutnya firasatnya tidak akan pernah meleset sebagaimana firman Allah subhanahu wata،¦alaƒnyang lain. (Baca: QS.al-An'am:122-123).

Sebagian orang-orang shalih mengatakan, "Barangsiapa yang memenuhi lahiriahnya dengan mengikuti sunnah dan batiniahnya dengan Muraqabatullah (merasa diawasi Allah subhanahu wata
،¦ala), menahan pandangannya dari hal-hal yang diharamkan, mengekang dirinya dari hawa-hawa nafsu, dan terbiasa dengan makanan yang halal, maka firasatnya tidak akan pernah meleset." Ibn al-Qayyim rahimahullah mengatakan, "Rahasia hal ini, bahwa suatu perbuatan akan dibalas dengan hal yang setimpal. Barangsiapa yang memicingkan pandangannya dari apa yang diharamkan Allah, maka Allah Dia akan menggantinya dengan yang sejenisnya, yang lebih baik darinya. Sebagaimana ia telah mengekang cahaya pandangannya dari hal-hal yang diharamkan, maka Allah melepaskan cahaya batin dan hatinya sehingga dengannya ia dapat melihat apa yang tidak dapat dilihat oleh orang yang melepaskan pandangannya namun tidak mengekangnya dari hal-hal yang diharamkan Allah subhanahu wata،¦ala."

Firasat hanya dimiliki oleh seorang Mukmin sedangkan selain Mukmin tidak memiliki firasat tetapi kebodohan dan ilusi. Karenanya pula, perlu dibedakan antara firasat dan prasangka (Zhann), sebab prasangka bisa salah dan benar; bisa terjadi dengan keta'atan atau kemaksiatan; dengan hati yang hidup, sakit atau mati dan juga di antaranya ada yang haram. Hal ini sebagaimana firman Allah subhanahu wata
،¦ala, artinya, "Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa." (QS.al-Hujurat:12)

Ahli Firasat adalah Ahli Kebajikan dan Takwa

Sebagaimana telah disinggung di atas, bila seorang hamba dekat dengan Rabbnya, maka Dia akan melimpahkan nur-Nya kepadanya. Hal ini seperti dalam hadits Qudsi, "Dan tidaklah hamba-Ku bertaqarrub kepada-Ku dengan sesuatu lebih Aku cintai dari apa yang telah Aku wajibkan atasnya, dan senantiasalah hamba-Ku bertaqarrub kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah, hingga Aku mencintainya; bila Aku telah mencintainya, maka Aku-lah pendengaran yang dengannya ia mendengar, penglihatan yang dengannya ia melihat, tangan yang dengannya ia memukul, kaki yang dengannya ia berjalan. Dan jika ia meminta kepada-Ku, niscaya Aku pasti memberikannya dan bila ia berlindung kepada-Ku, niscaya aku pasti melindunginya
،K" (HR.al-Bukhari)

Tidak dapat disangkal lagi, bahwa para shahabat merupakan bagian dari umat ini yang paling banyak mendapatkan jatah sifat ini sebab mereka adalah umat yang paling berbakti hatinya, paling dalam ilmunya dan paling sedikit Takalluf-nya (membebani diri di luar batas kemampuan). Mereka adalah generasi yang telah dipilih Allah subhanahu wata
،¦alaƒnuntuk menemani Nabi-Nya dan menegakkan agama-Nya di mana Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar al-Faruq radhiyallahu ،¥anhu berdiri di garda paling depan. Sedangkan secara umum, maka seperti yang dikatakan Ibn Mas'ud radhiyallahu ،¥anhu, "Yang paling tajam firasatnya ada tiga orang: al-'Aziz terhadap Yusuf saat berkata kepada isterinya (QS.Yusuf: 21); putri nabi Syu'aib ،¥alaihissalam (QS.al-Qashash: 26) dan Abu Bakar radhiyallahu ،¥anhu terhadap Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ،¥anhu saat menunjuknya sabagai khalifah penggantinya. Ketika itu, ada yang berkata kepadanya, ،§Wahai Abu Bakar wahai khalifah Rasulullah, apakah engkau mengangkat pemimpin yang paling keras untuk kami.? Tidakkah engkau takut kepada Allah?،¨ Maka, ia pun menangis seraya berkata, ،§Andaikata Rabbku menanyakan kepadaku, pasti aku katakan kepada-Nya, wahai Rabb, aku telah mengangkat untuk mereka orang yang paling pengasih di antara mereka. Inilah yang aku ketahui; jika diganti dan diubah, maka aku tidaklah mengetahui hal yang ghaib." Setelah itu, ada Umar al-Faruq radhiyallahu ،¥anhu dan isteri Fir'aun, Asiah, sebagaimana disabdakan Nabi shallallahu ،¥alaihi wasallam mengenainya (HR.al-Bukhari, dari Abu Musa radhiyallahu ،¥anhu). Demikian juga sebagaimana terdapat dalam surat al-Qashash, yang merupakan pelengkap empat ayat dalam al-Qur'an berkenaan dengan firasat.

Contoh Kejadian Firasat

- Firasat Umar bin al-Khaththab radhiyallahu
،¥anhu: Tidaklah ia mengatakan sesuatu, ،§Aku kira,،¨ melainkan terjadi seperti yang dikatakannya. Salah satu bukti besar adalah demikian banyak ayat yang turun menyetujui apa yang diucapkannya, di antaranya pendapatnya mengenai tawanan perang Badar bahwa mereka harus dibunuh, lalu al-Qur'an turun menyetujuinya.

- Firasat 'Utsman bin al-'Affan radhiyallahu
،¥anhu: Seorang laki-laki menemuinya di mana di jalan ia telah melihat seorang wanita lalu memperhatikan kecantikannya, lantas 'Utsman radhiyallahu ،¥anhu berkata kepadanya, "Salah seorang di antara kamu menemuiku sementara di kedua matanya terdapat bekas zina begitu jelas.!" Lalu laki-laki itu berkata, "Apakah ada wahyu turun setelah Rasulullah shallallahu ،¥alaihi wasallam wafat?" Ia menjawab, "Bukan, akan tetapi pandangan batin, dalil dan firasat yang tulus.!"

Mengenai jenis firasat, keterkaitan nya, sebabnya dan berbagai hal lainnya secara lebih rinci dapat ditemukan pembahasannya dalam kitab 'Madarij as-Salikin' karya Ibn al-Qayyim. Silahkan untuk merujuknya, Wallahu a'lam. [Abu al-Harits]

Sumber: Madarij as-Salikin karya Ibn al-Qayyim; Firasah al-Mu'min karya Ibrahim bin Abdullah al-Hazimi


Tafsir Mimpi
08-05-2008 / 10:01:22

seperti mimpi Bilal yang melafazkan bacaan-bacaan azan

Mimpi merupakan sebuah keadaan ketika manusia mengalami suatu kejadian yang memberikan gambaran kehidupan lain yang terkadang bisa memberikan makna dalam kehidupan sesungguhnya.

Mimpi bisa jadi isyarat yang diberikan oleh Allah kepada hambanya berupa berita baik atau buruk dan mimpi ada yang memiliki makna dan ada pula yang berupa mimpi kosong sekadar permainan setan kepada manusia.

Banyak ayat Al Quran dan riwayat Nabi yang bercerita tentang mimpi. Misalnya, dalam Surat Ash-Shaaffaat (37) ayat 102 yang mengisahkan mimpi Ibrahim ketika ia diharuskan menyembelih putranya, Ismail. Juga dalam Surat Al Fath (48) ayat 27 mengenai mimpi Rasulullah sebelum terjadinya Perjanjian Hudaibiyah.

Tak hanya para nabi, para sahabat pun pernah mengalami mimpi yang pada akhirnya terbukti kebenarannya. Tak seperti mimpi nabi yang sangat terang dan tak perlu ditakwilkan lagi karena merupakan wahyu dari Allah, mimpi para sahabat ada yang perlu ditakwilkan
– seperti mimpi Abu Bakar yang menaiki tangga bersama Rasulullah, tetapi mereka berselisih dua anak tangga. Dalam takwilnya, Abu Bakar menyatakan bahwa kematiannya akan datang dua tahun setelah Rasulullah, dan itu benar-benar terjadi— dan mimpi yang tidak perlu ditakwilkan
– seperti mimpi Bilal yang melafazkan bacaan-bacaan azan. Ketika melaporkannya kepada Rasulullah saw., beliau mengatakan bahwa mimpinya adalah benar. Rasulullah saw. bersabda, “Jika masa semakin dekat, mimpi seorang muslim nyaris tidak pernah dusta. Muslim yang paling benar mimpinya adalah yang paling jujur perkataannya. Mimpi seorang mukmin merupakan satu bagian dari 46 bagian kenabian....”
(Muttafaq ‘alaih). Ini berarti mimpi seorang mukmin memiliki pertimbangan 1/46 karena 45/46 diberikan pada nabi.

Khalid al-Anbari dalam bukunya Kamus Tafsir Mimpi menyebutkan bahwa tanda mimpi yang benar adalah sebagai berikut.
1. Bersih dari mimpi kosong, bayangan-bayangan yang meresahkan dan menakutkan.
2. Dapat dipahami ketika terjaga.
3. Tidur dalam keadaan pikiran jernih, tidak disibukkan oleh persoalan apa pun.
4. Mimpi tersebut dapat ditakwilkan sesuai dengan apa yang ada di Lauh Mahfuzh.

"Raja berkata (kepada orang-orang terkemuka dari kaumnya), 'Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan tujuh bulir lainnya yang kering. Hai orang-orang yang terkemuka, terangkanlah kepadaku tentang takbir mimpiku itu jika kamu dapat menakbirkan mimpi.’” (Q.S. Yusuf 12: 43)
Ayat di atas merupakan salah satu contoh ayat yang menjelaskan mengenai sahnya mimpi seorang kafir, jika isi mimpinya berkaitan dengan orang mukmin.

Ada juga mimpi yang dianugerahkan Allah kepada yang dikehendakinya agar ia mendapatkan hidayah. Ini berdasarkan riwayat al-Hakim mengenai keislaman seorang seorang sahabat, Khalid bin Sa’id bin ‘Ash. Keislaman ini terjadi setelah Khalid mengalami mimpi yang sangat menyeramkan. Dalam mimpinya, dia melihat seakan-akan ayahnya hendak mendorongnya ke neraka, sementara Rasulullah saw. berusaha memegang pinggangnya agai ia tidak terjatuh. Juga atas dasar tafsiran Ibn Hasyirin ketika ia didatangi seseorang yang bermimpi jari-jari tangannya yang ketiga dan keempat buntung. Ia menakwilkan bahwa mimpi tersebut sebagai peringatan pada orang itu karena shalatnya bolong-bolong. Sepulangnya dari bertemu Ibn Hasyirin, ia pun bertobat.

Seorang yang merasa telah mengalami mimpi yang benar, janganlah bertindak sembrono meminta sembarang orang untuk menakwilkan mimpi yang dialaminya. Janganlah ia menceritakannya kepada orang yang dengki dan dendam dan kepada orang yang jahil yang ucapannya tertolak tetapi ceritakanlah kepada orang yang berilmu, para ulama yang memiliki keutamaan, orang-orang yang dalam pemahaman terhadap dien Islam.

Macam Mimpi

Rasulullah saw. bersabda, “Mimpi itu ada tiga. Mimpi yang baik merupakan kabar gembira dari Allah. Mimpi yang menyedihkan berasal dari setan, dan mimpi yang datang dari obsesi seseorang. Jika salah seorang di antara kalian mimpi yang menyedihkan maka hendaklah dia bangun lalu shalat dan tidak menceritakannya pada orang lain.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah saw. bersabda, “Mimpi yang baik adalah dari Allah. Sedangkan mimpi yang menakutkan berasal dari setan. Barangsiapa mimpi yang tidak menyenangkan maka hendaklah dia meludah ke sebelah kirinya tiga kali dan berlindung diri kepada Allah dari setan, maka mimpi tersebut tidak akan membahayakannya” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Bertolak dari hadis-hadis di atas, menurut Aam Amiruddin dalam bukunya Menelanjangi Strategi Jin, kita bisa membuat sejumlah kesimpulan.

1. Mimpi bisa terjadi karena suatu obsesi. Obsesi tersebut begitu kuat dalam memori kita sehingga muncul dalam mimpi. Misalnya, seorang pemuda yang terobsesi menikahi Dian Sastro, sangat mungkin dia bermimpi menikah atau bertemu dengannya. Ini adalah mimpi yang bersifat fitriah atau alamiah.

2. Bermimpi yang baik. Mimpi ini datangnya dari Allah, kita wajib mensyukurinya dan boleh menceritakannya pada orang lain sebagai wujud rasa syukur.

3. Mimpi buruk atau menakutkan. Mimpi ini datangnya dari setan. Kita wajib berlindung diri pada Allah, bahkan kalau memungkinkan meludah tiga kali ke sebelah kiri dan jangan menceritakannya pada orang lain –kecuali kalau ingin mengetahui takwil mimpi tersebut. Sebab kalau kita menceritakannya, setan akan merasa senang kalau gangguannya itu menjadi bahan pembicaraan manusia.

Berhati-hatilah jika kita bermimpi bertemu dengan orang yang sudah meninggal, misalnya bertemu dengan ayah atau ibu kita yang sudah wafat, sebab dikhawatirkan setan menyerupainya. Jadi, kalau kita bermimpi bertemu dengan orang yang sudah wafat, sebaiknya bersegeralah berlindung kepada Allah.

Tafsir Mimpi

Bolehkah kita menakwilkan mimpi? Mari kita becermin pada sejarah. Nabi Yusuf a.s. pernah menakwilkan mimpi dua orang tahanan ketika ia dipenjara bersama mereka dan juga mimpi seorang Raja Mesir. Abu Bakar merupakan orang yang pandai menakwilkan mimpi, salah satunya dengan takwilnya dalam peristiwa di atas. Ini membuktikan bahwa menakwilkan mimpi dibenarkan dalam ajaran Islam, namun kriteria seorang penakwil mimpi sangat jauh dari mudah.

Seorang penakwil mimpi haruslah orang yang jujur (shidiq), cerdas, cerdik, dan suci dari perbuatan keji. Ia harus mengerti tentang Kitab Allah dan sunah Rasulullah dan ia pun harus paham benar ilmu mentakwilkan mimpi. Ini sejalan dengan apa yang diungkapkan Imam al-Gazali yang menyatakan bahwa fungsi roh sebagai penangkap isyarat Ilahi bagaikan cermin. Dia bisa memantulkan cahaya. Orang yang sidiq merupakan cermin yang paling bersih dan paling bening di mana cahayanya tidak terdistorsi sama sekali. Jadi, dia bisa menangkap isyarat tersebut.

Untuk menjadi seorang penafsir mimpi, ada beberapa etika yang harus diperhatikan, di antaranya adalah menggembirakan saudaranya ketika ia menceritakan mimpinya; tidak menyebarkan mimpi tersebut karena itu merupakan amanah; tidak menakwilkannya dengan tergesa-gesa; jika tidak memungkinkan dirinya menakwilkan mimpi tersebut, jangan ragu untuk melimpahkan kepada orang yang lebih tahu (berilmu) dan jangan merasa berat melakukannya; memperlakukan pelaku mimpi secara berbeda, maksudnya tidak menakwilkan mimpi raja seperti menakwilkan mimpi rakyat, sebab mimpi itu berbeda karena perbedaan kondisi pelakunya; dan sebagainya.

Sangat disayangkan, dewasa ini terlalu banyak orang yang secara sembarangan menakwikan mimpi.
Di antara alasan keberanian mereka adalah adalah
(1) lemahnya keimanan;
(2) lalai dari kehidupan akhirat;
(3) cinta kemayhuran; dan
(4) kurangnya ilmu.

Dari syarat-syarat yang dikemukakan di atas, tak heran jika ada sebagian masyarakat yang mengharamkan penafsiran mimpi karena dikhawatirkan akan terjebak pada kemusyrikan. Pun dalam buku-buku takwil mimpi, tidak disebutkan secara gamblang tafsiran tersebut. Dalam satu mimpi saja, seorang penakwil bisa megartikan mimpi tersebut menjadi beberapa arti dan tidak ada jaminan mana yang benar. Bahkan mereka pun menganalogikan mimpi tersebut sebagai ramalan cuaca. Kita bisa mengantisipasi cuaca, namun tidak pasti karena Allah yang menentukan. Wallahu a’lam


Sumber : MaPI April 2006
1. Tentang sabda Nabi saw.: Barang siapa yang pernah melihat aku dalam mimpi, berarti dia benar-benar telah melihatku
Hadis riwayat Abu Qatadah, ia berkata:
Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda: Mimpi baik (rukyah) itu datang dari Allah dan mimpi buruk
(hilm) datang dari setan. Maka apabila salah seorang di antara kalian bermimpi yang […]
GEDUNG
  1. Melihat gedung yang sedang dibangun: Anda akan me­nerima penghargaan tinggi.
  2. Melihat gedung runtuh: suatu maksud akan dibatalkan.
  3. Melihat gedung-gedung yang sudah tua dan buruk: tanda kemalangan atau ketidak-bahagiaan.
  4. Melihat pe­rusakan sebuah gedung: jangan terlalu cepat tersinggung.
  5. Me­lihat sebuah gedung pencakar langit: Anda akan memiliki uang dalam jumlah yang banyak


Ilmu Firasat dalam Islam

Ditulis Oleh DR. Ahmad Zain An-Najah, M.A   
Wednesday, 30 April 2008
اتقوا فراسة المؤمن ، فإنه ينظر بنور الله
“Hati- hatilah dengan firasat orang yang beriman, karena dia melihat dengan cahaya Allah. “(HR Tirmidzi dengan sanad lemah ,dalam Al Sunan, Kitab : Tafsir, Bab : Tafsir surat Al Hijr (hadits 3127).
Pengertian Firasat
Firasat, kalau kita kaji dengan teliti, ternyata terdapat di dalam ajaran Islam. Dalilnya, selain hadits di atas, adalah beberapa ayat Al Qur’an yang menyentuh masalah firasat tersebut, di antaranya adalah firman Allah:
إن في ذلك لآيات للمتوسمين
Sesungguhnya pada peristiwa itu terdapat tanda- tanda bagi orang – orang yang “ Al Mutawassimin “ (QS Al Hijr: 75).
Al Mutawasimin menurut pengertian ulama adalah orang-orang yang mempunyai firasat, yaitu mereka yang mampu mengetahui suatu hal dengan mempelajari tanda-tandanya.
Sebagaimana firman Allah:
ولو نشاء لأريناكهم فلعرفتهم بسيماهم
Sekiranya Kami kehendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu, sehingga kamu benar- benar mengetahui mereka dengan tanda- tandanya.“ (QS Muhammad: 30).
Allah juga berfirman :
يحسبهم الجاهل أغنياء من التعفف تعرفهم بسيماهم
Orang – orang yang bodoh menyangka mereka adalah orang kaya, karena mereka memelihara diri dari meminta- minta, kamu mengetahui mereka dengan tanda- tandanya.“ (QS Al Baqarah: 273).
Walaupun hadits di atas sanadya lemah, namun makna dan artinya tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Banyak hal yang membuktikan bahwa orang yang beriman mampu memandang sesuatu dengan tepat dan akurat. Karena Allah memberikan kekuatan kepada orang yang beriman kepada-Nya, yang mana hal itu tidak diberikan kepada orang lain.
Kekuatan yang diberikan Allah tersebut, tidak hanya terbatas kepada cara memandang, melihat, memutuskan suatu perkara ataupun mencarikan jalan keluar. Akan tetapi, kekuatan tersebut mencakup seluruh aspek kehidupan ini. Orang yang beriman mempunyai kelebihan kekuatan dalam bersabar menghadapi ujian dan cobaan, karena dia yakin bahwa hanya Allah-lah yang mampu menyelamatkan dan memberikan jalan keluar dari ujian tersebut, sekaligus berharap dari ujian tersebut, bahwa dia akan mendapatkan pahala di sisi-Nya dan akan menambah ketinggian derajatnya di akherat kelak. Apalagi tatkala dia mendengar hadits yang menyatakan :
“ Jika Allah mencintai hamban-Nya , niscaya Dia akan mengujinya “,
tentunya, dia akan bertambah sabar, tabah dan tegar.
Di dalam peperangan, orang yang berimanpun mempunyai stamina dan keberanian yang lebih, karena mati syahid adalah sesuatu yang didambakan. Mati mulia yang akan mengantarkannya kepada syurga nan abadi tanpa harus dihisab dahulu. Belum lagi nilai jihad yang begitu tinggi, yang merupakan “puncak“ ajaran Islam, suatu amalan yang kadang, bisa menjadi wasilah(sarana) untuk menghapuskan dosa-dosanya, walaupun dosa tersebut begitu besar, seperti yang dialami oleh Ibnu Abi Balta’ah seorang sahabat yang terbukti berbuat salah, dengan membocorkan rahasia pasukan Islam yang mau menyerang Makkah. Keikutsertaannya dalam perang Badar, ternyata mampu menyelamatkannya dari tajamnya pedang Umar ibnu Khottob.
Dalam bidang keilmuan, tentunya keimanan seseorang mempunyai peran yang sangat urgen di dalamnya. Masalah keilmuan ini ada kaitannya dengan masalah firasat, yang merupakan pembahasan kita kali ini. Allah berfirman :
واتقوا الله ويعلمكم الله
Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, dan Allah mengajarimu“ (QS Al Baqarah: 282).
Ayat di atas menunjukan bahwa barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah akan mengajarinya( memberikan ilmu kepadanya ).Kalau orang – orang awam sekarang menyebutnya dengan “ Ilmu Laduni “ , yaitu ilmu yang diberikan Allah kepada seseorang tanpa melalui proses belajar, yang wajar dilakukan orang. Hakekat Ilmu Laduni ini sudah kita terangkan pada pembahasan sebelumnya.
Di sana juga, terdapat hadits yang mendukung ayat di atas, yaitu hadits yang berbunyi :
Barang siapa yang mengajarkan Al Qur’an , niscaya Allah akan mengajarkan sesuatu yang belum ia ketahui
Artinya : Mengajarkan Al Qur’an adalah salah satu dari kegiatan yang menambah ketaqwaan atau keimanan seseorang kepada Allah, sehingga dengan amalan tersebut Allah akan membalasnya dengan mengajarkan kepadanya sesuatu yang ia belum mengetahuinya.
Salah seorang sahabat Nabi Muhammad saw pernah berkata : “ Seorang yang alim melihat fitnah ( kekacauan dan sejenisnya ) sebelum datang, sedang orang yang jahil melihat fitnah setelah terjadi “ . Maksudnya , bahwa orang yang alim ( tentunya disertai dengan keimanan dan ketaqwaan kepada Alah ) mempunyai firasat atau pengetahuan akan sesuatu yang akan terjadi, sedang orang yang bodoh dan tidak bertaqwa kepada Allah , tidak mengetahuinya kecuali setelah peristiwa tersebut terjadi. Ini bukan berarti sang alim tadi mengetahui hal- hal yang ghoib dengan begitu saja, akan tetapi artinya bahwa dia mengetahuinya dengan tanda- tanda ( firasat ) yang telah diberikan Allah kepadanya, atau tanda-tanda tersebut telah disebutkan Allah di dalam kitab suci-Nya dan hadits nabi-Nya.
Beberapa Contoh Firasat yang benar
Sekedar contoh, bahwa seorang alim akan mengetahui runtuhnya suatu bangsa, atau terjadinya malapetaka mengerikan yang akan menimpa pada suatu tempat, dengan melihat tanda- tandanya, seperti menyebarnya perzinaan dengan cara yang terang-terangan, merebaknya perbuatan liwath atau homosex, semaraknya riba di bank- bank dan di pasar- pasar, serta perbuatan –perbuatan sejenis, yang kesemuanya itu akan mendatangkan murka Allah dan mengakibatkan turun adzab dari langit. Penyakit “ AIDS ” , yang sampai sekarang belum ada obatnya, merupakan bukti nyata akan statement di atas. Di tambah muncul wabah baru yang mengerikan dan pemburu nyawa yang ditakuti oleh semua orang, yaitu wabah “ SARS “ yang membuat kalang kabut negara- negara maju. Terakhir penyakit ini, malah menyerang tentara Amerika yang menjajah Irak.
Terpuruknya bangsa- bangsa yang ada adalah akibat jauhnya mereka dari ajaran Islam , termasuk di dalamnya negara Indonesia, yang terus – menerus mengumbar kemaksiatan, meraup harta- harta hasil korupsi dan menebar kejahatan riba serta memerangi Islam dengan terang- terangan. Dan sebentar lagi adalah negara Amerika Serikat yang sedang sekarat dan terpuruk dengan berbagai persoalan dalam dan luar negri . Negara ini konon telah memberikan lampu hijau bagi kaum homosex untuk mempraktekan kebejatannya, ini adalah salah satu indikasi bagi “Al-Mutawassimin “ ( orang – orang yang mempunyai firasat ) bahwa negara tersebut telah berada pada jurang kehancuran.
Allahpun sebenarnya telah memberikan contoh ilmu firasat ini dengan sangat jelas , sebagaimana yang tertera pada ( Q.S Al Hijr, ayat :75) diatas. Alur pembicaraan ayat tersebut, ternyata berkenaan dengan peristiwa atau kemaksiatan yang di lakukan oleh kaum Luth, suatu bangsa yang pertama kali mengajarkan “ homosex “ kepada manusia, sehingga di hukum oleh Allah dengan dibaliknya kota Soddom dan dihujani dengan batu- batu besar.
Sesungguhnya hal itu terdapat tanda- tanda bagi orang – orang yang mempunyai firasat.
Tanda- tanda ( firasat ) yang digunakan oleh seorang yang alim untuk mengetahui sebuah peristiwa, bukan hanya berupa “ fahisah “ ( kemaksiatan seperti zina dan sejenisnya ) saja, akan tetapi tanda-tanda itu bisa juga berupa penyelewengan dari manhaj Al Quran secara umum dan penyelewengan dari disiplin ilmu yang benar, walaupun kadang, penyelewengan tersebut dilakukan dengan tidak sengaja, seperti : tidak adanya amar ma’ruf dan nahi mungkar didalam suatu masyarakat, atau bahkan ada perbuatan amar ma’ruf dan nahi mungkar, tetapi tidak dilandasi dengan ilmu syar’I yang benar .Kita lihat umpamanya, Bani Israel mendapatkan laknat dan adzab dari Allah karena mereka meninggalkan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar.
Bahkan kesalahanan seorang pemimpin dalam berijtihadpun bisa dijadikan tanda bagi orang yang mempunyai firasat bahwa hal itu akan menyebabkan malapetaka. Inilah salah satu bentuk firasat yang dimiliki oleh Ibnu Umar ra, ketika melepas Husein bin Ali ra - walaupun dengan sangat berat hati - berangkat ke Iraq untuk memenuhi ajakan penduduk Iraq yang ingin membai’atnya jadi kholifah , beliau berkata kepada Husein bin Ali ra:
“ Saya menitipkanmu kepada Allah , wahai orang yang akan terbunuh “.
Firasat Ibnu Umar mengatakan bahwa Husein akan terbunuh dalam perjalanan menuju Iraq tersebut, ternyata menjadi kenyataan . Terjadilah peristiwa mengenaskan yang ditulis sejarah dengan lumuran darah , yaitu pembantaian terhadap Husein ra, cucu Rosulullah saw dan rombongannya di “ Karbela “ , yang akhirnya menimbulkan luka mendalam pada seluruh umat Islam bahkan menimbulkan fitnah yang berkepanjangan hingga hari ini.
Para sahabat lainnya juga mempunyai firasat yang benar, seperti yang dimiliki oleh Abu Musa Al Asy’ari ra, ketika melihat perselisihan antara Muawiyah dan Ali di dalam menentukan sikap terhadap para pembunuh kholifah Utsman bin Affan. Beliau melihat perselisihan tersebut sebagai bibit fitnah yang harus dijauhi, sehingga beliau dengan beberapa sahabat senior lainnya, seperti Sa’ad bin Abi Waqas, Ibnu Umar, Usamah bin Zaid, Abu Bakroh, Salamah bin Akwah, Abu Huroirah, Zaid bin Tsabit dan lainnya, menolak untuk ikut campur dalam peperangan antara kedua kelompok umat Islam tersebut. Dan sikap inilah yang lebih dibenarkan oleh beberapa ulama “ muhaqiqin “ dari dua kubu lainnya, yaitu kubu Ali bin Abi Tholib ra dan kubu Muawiyah ra. Walaupun mayoritas Ulama lebih membenarkan kubu Ali bin Abu Tholib ra, tetapi pendapat tersebut kurang kuat, karena ada riwayat yang menyatakan penyesalan Ali bin Tholib terhadap sikap yang beliau ambil di dalam menghadapi fitnah ini, yaitu setelah perang Siffin yang mengorbankan ribuan putra- putra terbaik umat Islam itu selesai.
Begitu juga firasat yang dirasakan oleh kholifah Utsman bin Affan ra, ketika seseorang datang menemuinya , beliau mengatakan :
“ Salah satu dari kalian menemuiku , sedang perbuatan zina nampak pada matanya “
Mendengar perkataan tersebut, spontas saja, yang hadir di situ mengatakan : “ apakah pernyataan tuan tersebut, merupakan wahyu dari Allah ? “ . Kholifah Utsman menjawab : “ Bukan, akan tetapi itu adalah firasat yang benar “ .
Juga, sebelum beliau meninggal dunia karena terbunuh, beliau merasakan bahwa ajalnya telah dekat dan dia akan mati terbunuh, maka beliau mengambil sikap untuk tidak mengadakan perlawanan ketika segerombalan orang masuk ke rumahnya, serta menolak bantuan yang di tawarkan oleh beberapa pengawal dan sahabatnya. Beliau ingin menghindari pertumpahan darah antara kaum muslimin, yang ujung-ujungnya, beliau jugalah yang akan menjadi korbannya.
Menentukan Hukum dengan Firasat
Bukan sampai di situ saja, firasatpun kadang bisa digunakan di dalam memutuskan suatu masalah. Yang perlu diingat kembali, maksud firasat di sini adalah firasat yang benar, yang merupakan tanda- tanda atau bukti- bukti yang hanya bisa diketahui oleh orang – orang tertentu dan tentunya bisa dicerna oleh akal sehat.
Salah contohnya, adalah apa yang dilakukan oleh nabi Allah Sulaiman as, ketika dua orang perempuan datang kepada nabi Daud as, untuk menyelesaikan perkara mereka berdua yang masing – masing mempunyai bayi, salah satu bayi dari keduanya dimakan srigala. Kedua- duanya mengaku bahwa bayi yang masih hidup adalah bayinya. Tidak ada satupun dari mereka mau mengalah dan ironisnya lagi, tidak ada tanda satupun untuk bisa dijadikan bukti dalam perkara tersebut. Setelah berpikir sejenak, nabi Daud as akhirnya memutuskan bahwa bayi tersebut milik perempuan yang lebih tua. Apa yang dijadikan dasar oleh nabi Daud as, sehingga mengambil keputusan tersebut ? Barangkali karena pertimbangan umur, atau karena Nabi Daud as sejak pertama kali melihat bahwa bayi tersebut selalu dalam dekapan ( gendongan ) perempuan yang tua. Keadaan seperti itu dijadikan Nabi Daud as, sebagai dasar pijakan untuk memutuskan bahwa anak tersebut milik perempuan yang mendekapnya. Dan teori ini dibenarkan di dalam Hukum Islam.
Namun, ketika kedua perempuan tersebut mendatangi Nabi Sulaiman as, dan menceritakan duduk perkaranya. Karena tidak ada bukti, Nabi Sulaiman as berpikir sejenak. Dan tanpa banyak bicara, beliau segera memerintahkan anak buahnya untuk mengambil pedang. Setelah pedang yang terhunus tersebut di tangan nabi Sulaiman as, beliau menyarankan agar salah satu dari dua perempuan tersebut untuk mengalah, sebelum pedang tersebut diayunkan ke tubuh bayi mungil, untuk kemudian dibagi menjadi dua bagian supaya adil. Sampai di situ, kedua perempuan tadi tidak bergeming dari pendiriannya masing-masing. Mereka mengira bahwa nabi Sulaiman tidak mungkin berbuat setega itu. Namun, ketika perempuan yang lebih muda melihat Nabi Sulaiman ra, serius dan tidak main- main dengan ancamannya, serta hendak mengayunkan pedangnya persis di tengah tubuh bayi tersebut, tiba- tiba dia berteriak : “ Jangan engkau laksanakan wahai nabi Allah Sulaiman, mudah- mudahan Allah memberikan rohmat kepadamu, saya nyatakan bahwa bahwa anak tersebut milik perempuan yang lebih tua dariku “. Mendengar teriakan tersebut, Nabi Sulaiman tersenyum dan tidak meneruskan rencananya tersebut. Kemudian memutuskan bahwa bayi tersebut adalah milik perempuan yang lebih muda.
Nabi Sulaiman dalam memutuskan perkara tersebut, telah menggunakan firasat dan ilmunya bahwa diamnya perempuan yang tua, dan menjeritnya perempuan yang lebih muda serta tidak sampai hatinya dia menyaksikan anak tersebut dibelah menjadi dua, merupakan bukti atau tanda yang sangat kuat bahwa anak tersebut milik perempuan muda . Bahkan bukti- bukti seperti itu, jauh lebih kuat dari pada sekedar pengakuan perempuan muda sendiri yang menyatakan bahwa anak tersebut bukan anaknya, tapi anak perempuan yang lebih tua. Peristiwa ini bisa dilihat di dalam buku Shohih Bukhori, Kitab ; tentang para nabi, no ( 3427) dan di Shohih Muslim, Kitab ; peradilan no ( 1720 ) Peristiwa tersebut sangat erat kaitannya dengan firman Allah :
وداود وسليمات إذ يحكمان في الحرث غذ نفشت فيه غنم القوم وكنا لحكمهم شاهدين ، ففهمناها سليمان وكلا آتيناه حكمة وعلما
“ Dan ingatlah kisah Daud dan Sulaiman, ketika mereka memberikan keputusan tentang tanaman, karena tanaman tersebut di rusak oleh kambing –kambing kaumnya , dan Kami adalah menyaksikan apa yang mereka putuskan. Adapun Sulaiman telah Kami berikan pengertian ( kepahaman ) terhadap hukum yang tepat, Dan masing- masing dari keduanya , Kami beri hikmah dan ilmu … “ (QS Al Anbiya’ 78-79 )
Dari ayat di atas, sebagian ulama berpendapat bahwa menentukan putusan dalam peradilan dengan tanda- tanda seperti itu, merupakan bagian dari “ al fahmu “ ( pemahaman) atau firasat, bukan sekedar ilmu belaka.
Namun , menurut hemat penulis “ al fahmu” atau firasat sebenarnya tidaklah bertentangan dengan Ilmu Syareat, bahkan “ al fahmu “ sendiri merupakan bagian dari Ilmu Syareat tersebut. Jadi, ilmu yang disebutkan Allah di dalam Qs Al Baqarah : 282 di atas,- yang datang karena ketaqwaan -, termasuk di dalamnya adalah ilmu “ alfahmu “ atau “ firasat yang benar “ .
Contoh lain, adalah apa yang terjadi pada masa kekholifahan Umar ibnu Khottob, ketika datang kepadanya seorang perempuan yang memuji sifat suaminya, seraya berkata : “ Suami saya adalah orang yang paling baik di dunia ini, dia selalu bangun untuk melakukan sholat malam hingga pagi, kemudian dia juga puasa pada siang harinya nya hingga malam “. Kemudian perempuan tersebut tidak sanggup meneruskan perkataannya, karena malu. Setelah perempuan tersebut pulang, berkata Ka’ab bin Suwar , seorang qhodi yang cerdas dari kalangan tab’in , kepada Umar : “ Wahai amirul mukminin, perempuan tadi sebenarnya ingin mengadu kepada tuan “. “ Mengadu tentang apa ? “ , tanya Umar. “ Mengadu tentang kedholiman suaminya “, jawab Ka’ab. “ Kalau begitu panggil mereka berdua dan kamu selesaikan masalahnya “, Jawab Umar tegas. “ Saya yang menyelesaikan urusan mereka, sedang tuan menyaksikannya ? “ tanya Ka’ab ragu. “ Iya, karena firasatmu dapat membaca sesuatu yang saya tidak memperhatikannya “ , jawab Umar ra. Mendengar hal tersebut Ka’ab menjadi tenang dan mulai menyelesaikan problematika kedua suami istri tersebut dengan membacakan firman Allah :
فانكحوا ما طاب لكم من النساء مثنى وثلاث ورباع
Maka hendaklah engkau nikahi wanita- wanita yang engkau senangi : dua , tiga atau empat “ ( QS An Nisa : 3 )
Kemudian Ka’ab berkata : “ Dengan dasar ayat tersebut, maka ( wahai suami ) hendaknya engkau puasa tiga hari saja, adapun hari keempat engkau harus berbuka( tidak puasa ) bersama istrimu, dan hendaknya engkau sholat malam selama tiga malam saja, dan pada malam keempat, engkau harus tidur bersama istrimu “.
Umar bin Khottob berdecak kagum, ketika mendengar keputusan yang diajukan oleh Ka’ab kepada dua orang suami istri tersebut, kemudian berkata : “ Firasatmu yang kedua ini jauh lebih canggih dari yang pertama “. Akhirnya , Umar mengangkatnya sebagai qhodhi di kota Basroh.
Dari keterangan di atas, bisa kita ambil kesimpulan bahwa firasat ternyata terdapat di dalam ajaran Islam, bahkan disebutkan di dalam Al Qur’an dan Hadits serta dilakukan oleh para sahabat dan para pengikutnya. Namun yang perlu di catat di sini, bahwa hal itu bukan berarti setiap orang boleh mengaku bahwa dia mempunyai firasat yang benar atau bahkan memutuskan sesuatu perkara dengan firasat , walaupun tanpa ada tanda- tanda atau bukti- bukti yang bisa di pertangungjawabkan baik secara Hukum Islam , maupun secara logika yang sehat.Karena hadits diatas, yang mengatakan untuk berhati- hati dengan firasat orang beriman , ditambah dengan contoh – contoh yang diutarakan di atas , telah membuktikan bahwa firasat yang bisa di terima adalah firasatnya orang yang beriman, yaitu orang yang benar- benar bertaqwa kepada Allah swt, disertai dengan bekal ilmu syar’I yang mapan.
Hal tersebut, dikuatkan dengan lafadh hadits bagian terakhir yang berbunyi ( karena dia melihat sesuatu dengan cahaya Allah ) maksud dari : “dengan cahaya Allah” di sini adalah dengan ketaqwaan dan dengan ilmu. Karena kalau sekedar mengaku taqwa tanpa bukti, tentunya tidak bisa di terima pengakuannya, karena salah satu bukti dari ketaqwaan adalah ilmu. Beribadah tanpa dasar ilmu bagaikan ibadahnya orang Nasrani (Kristen) yang dicap oleh Allah dengan golongan yang sesat. Seseorang tidak akan bisa beribadah dan bertaqwa kepada Allah dengan baik dan sempurna, kalau tidak mempunyai bekal ilmu yang cukup. Sebaliknya kalau hanya berbekal ilmu saja, tanpa ada keimanan dan ketaqwaan kepada Allah juga tidak akan terwujud sebuah cahaya, karena ia termasuk type orang Yahudi yang di murkai oleh Allah.
Akhirnya, kita mengatakan bahwa firasat yang benar dan yang bisa dipertanggung jawabkan, apalagi yang bisa digunakan sebagai dasar pijakan untuk memutuskan perkara, hanyalah dimiliki oleh orang– orang yang berilmu dan bertaqwa serta beriman.
Semoga Allah menganugrahkan firasat yang benar kepada kita semua. Amien.


Firasat Seorang Mukmin, kontribusi dari fiqy_z   
Thursday, 21 December 2006
Pada suatu hari, ia menghadiri majelis seorang ulama yang saleh. Para jamaah pun juga terlihat banyak. Momen yang baik itu segera ia gunakan untuk 'menjajaki' kemampuan sang ulama dengan mengajukan pertanyaan: "Wahai Tuan Guru, apakah makna sabda Nabi Muhammad SAW, 'Waspadalah terhadap firasat seorang Mukmin, karena sesungguhnya dia memandang dengan cahaya Allah.' Saya sama sekali tidak mengetahui makna hadis Nabi tersebut, bahkan para ulama yang telah saya datangi pun demikian."
Firasat Seorang Mukmin


republika - Dahulu ada seorang Ahli Kitab yang menyamar sebagai seorang muslim dan berusaha mencari-cari kesalahan umat Islam. Berbagai majelis pengajian pun telah ia datangi. Di sana, ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang cukup pelik bahkan yang bersifat khilafiyah sehingga cukup menyulitkan bagi sang ustadz untuk menjawabnya. Beberapa kali, memang, ia telah berhasil "memojokkan" ulama-ulama dalam pertanyaannya. Diam-diam, sang Ahli Kitab pun merasa bangga, karena ternyata para ulama yang ia jumpai tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaannya di hadapan jamaahnya.

Pada suatu hari, ia menghadiri majelis seorang ulama yang saleh. Para jamaah pun juga terlihat banyak. Momen yang baik itu segera ia gunakan untuk 'menjajaki' kemampuan sang ulama dengan mengajukan pertanyaan: "Wahai Tuan Guru, apakah makna sabda Nabi Muhammad SAW, 'Waspadalah terhadap firasat seorang Mukmin, karena sesungguhnya dia memandang dengan cahaya Allah.' Saya sama sekali tidak mengetahui makna hadis Nabi tersebut, bahkan para ulama yang telah saya datangi pun demikian."

Tampaknya, ulama yang saleh itu bukan seperti kebanyakan ulama yang telah didatangi Ahli Kitab itu. Beberapa saat setelah pertanyaan itu diajukan, Sang Guru spiritual itu menundukkan kepalanya sejenak, kemudian berkata: "Makna sabda Nabi Rasulullah SAW tadi yaitu potonglah zunnar (selendang yang harus dikenakanan oleh kafir dzimmi yang hidup di zaman Islam; untuk membedakan mereka dengan umat Islam) yang sekarang terikat di dadamu dan keluarlah engkau dari majelis ini!"

Betapa kagetnya sang Ahli Kitab begitu mendengar jawaban itu. Begitu pula dengan para jamaah yang hadir pada pengajian itu. Sebab, Sang Guru tidak hanya menjelaskan hakikat hadis Nabi saja, tetapi sekaligus membongkar rahasia si penanya yang kafir itu. Secara spontan, sang Ahli Kitab tadi segera tersungkur di hadapan ulama arif itu, kemudian menyatakan keislamannya dengan mengucapkan dua kalimat syahadat.

Adapun hadis Nabi SAW yang ia pertanyakan itu memang mengisyaratkan bahwa Allah SWT akan memberi seorang mukmin cahaya sesuai tingkat keimanannya. Dengan nur-Nya itu, dia mampu melihat hakikat segala sesuatu dan tidak tertipu oleh bentuk lahiriahnya. Sebab, pada dasarnya, iman seseorang akan bertambah dengan ketaatan yang ia kerjakan, sebaliknya menjadi berkurang dengan kemaksiatannya.

Oleh karena itu, seorang mukmin tidak boleh mencela orang lain jika ia tidak merasakan kehadiran cahaya Allah tersebut dalam dirinya. Allah berfirman dalam Surat an-Nur ayat 40: "Dan barangsiapa tidak diberi cahaya oleh Allah, maka sedikit pun dia tidak memiliki cahaya." Soal mata hati ini, Rasulullah bersabda: "Mintalah fatwa kepada hatimu (nurani), meskipun mereka (ulama) telah memberimu fatwa." Hati nurani yang dimaksud Rasulullah di atas, yakni hati yang bercahaya dan bebas dari belenggu hawa nafsunya. [Wawan Susetya]

BEBERAPA HUKUM SEPUTAR MIMPI

kebanyakan orang sebab tiada hari yang mereka lalui tanpa mengalaminya. Sementara syari'at kita yang suci telah memaparkan secara rinci hukum-hukum yang terkait dengan mimpi. Bahkan dasar-dasarnya telah termuat dalam al-Qur`an al-Karim. Landasan Mimpi (HR. al-Bukhari), dan hadits-hadits lainnya. Kedudukan Mimpi. Mimpi memiliki kedudukan yang agung sejak awal pertama terciptanya manusia. Mereka sangat perhatian terhadapnya karena ia merupakan hal yang aneh dan
Source: http://abufa.wordpress.com/2007/07/27/beberapa-hukum-seputar-mimpi/

Kitab Mimpi

1. Tentang sabda Nabi Shallallahu alaihi wassalam.: Barang siapa yang pernah melihat aku dalam mimpi, berarti dia benar-benar telah melihatku
- Hadis riwayat Abu Qatadah, ia berkata:
Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda: Mimpi baik (rukyah) itu datang dari Allah dan mimpi buruk (hilm) datang dari setan. Maka apabila salah seorang di antara kalian bermimpi yang tidak menyenangkan hendaklah dia meludah ke samping kiri sebanyak tiga kali dan memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatannya sehingga mimpi itu tidak akan membahayakannya. (Shahih Muslim No.4195)
- Hadis riwayat Abu Hurairah, ia berkata:
Dari Nabi bahwa beliau bersabda: Ketika kiamat telah mendekat, mimpi seorang muslim hampir tidak ada dustanya. Mimpi salah seorang di antara kalian yang paling mendekati kebenaran adalah mimpi orang yang paling jujur dalam berbicaRadhiyallahu’anhu Mimpi orang muslim adalah termasuk satu dari empat puluh lima bagian kenabian. Mimpi itu dibagi menjadi tiga kelompok: Mimpi yang baik, yaitu kabar gembira yang datang dari Allah.
Mimpi yang menyedihkan, yaitu mimpi yang datang dari setan. Dan mimpi yang datang dari bisikan diri sendiri. Jika salah seorang di antara kalian bermimpi yang tidak menyenangkan, maka hendaknya dia bangun dari tidur lalu mengerjakan salat dan hendaknya jangan dia ceritakan mimpi tersebut kepada orang lain. Beliau berkata: Aku gembira bila mimpi terikat dengan tali dan tidak suka bila mimpi dengan leher terbelenggu. Tali adalah lambang keteguhan dalam beragama. Kata Abu Hurairah: Aku tidak tahu apakah ia termasuk hadis atau ucapan Ibnu Sirin. (Shahih Muslim No.4200)
- Hadis riwayat Anas bin Malik, ia berkata:
Rasulullah bersabda: Mimpi seorang mukmin adalah termasuk satu dari empat puluh enam bagian kenabian. (Shahih Muslim No.4201)
- Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Barang siapa melihatku dalam mimpi, maka dia benar-benar telah melihatku. Sesungguhnya setan tidak dapat menjelma sepertiku. (Shahih Muslim No.4206)
- Hadis riwayat Abu Qatadah Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Barang siapa yang melihat aku dalam mimpi, maka dia benar-benar melihat sesuatu yang benar (hak). (Shahih Muslim No.4208)
2. Tentang penafsiran mimpi
- Hadis riwayat Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhu:
Ia bercerita bahwa seorang lelaki telah datang kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. dan berkata: Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku semalam bermimpi melihat segumpal awan yang meneteskan minyak samin dan madu. Kemudian aku melihat orang-orang menengadahkan tangannya pada tetesan tersebut mereka ada yang mendapat banyak dan ada pula yang hanya mendapat sedikit. Lalu aku melihat seutas tali yang terentang dari langit sampai ke bumi kemudian melihat engkau memegang tali tersebut lalu engkau naik ke atas. Kemudian ada seorang lelaki memegang tali tersebut setelahmu, dan naik ke atas. Ada juga seorang lelaki lain memegang tali tersebut namun terputus, kemudian setelah disambung lagi, lelaki itu naik ke atas. Abu Bakar berkata: Wahai Rasulullah! Untuk engkau aku mengorbankan bapakku dan demi Allah, izinkan aku untuk mentakwil mimpi tersebut. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Takwilkanlah! Abu Bakar berkata: Segumpal awan tersebut berarti awan Islam. Tetesan yang berupa samin dan madu adalah Alquran dari segi manis dan halusnya. Orang-orang yang menengadahkan tangannya pada tetesan tersebut berarti orang-orang yang banyak menghayati isi Alquran dan yang hanya sedikit penghayatannya terhadap Alquran. Adapun seutas tali yang tersambung dari langit sampai ke bumi adalah kebenaran yang engkau bawa. Engkau memegang tali tersebut lantas Allah mengangkat engkau dengan tali itu. Kemudian setelah engkau, ada seorang lelaki yang memegang tali tersebut dan naik ke atas dengan tali itu. Ada seorang lelaki lain yang memegang tali tersebut dan naik ke atas dengan tali itu. Dan ada seorang lelaki yang lain lagi memegang tali tersebut, namun terputus dan setelah disambung lagi baru dia naik ke atas dengan tali itu. Ceritakan kepadaku, wahai Rasulullah! Untuk engkau aku mengorbankan bapakku! Menurut engkau, apakah takwilku itu tepat atau tidak? Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Sebagian yang kamu jelaskan itu ada yang tepat dan sebagian ada yang salah. Selanjutnya Abu Bakar mengatakan: Demi Allah, wahai Rasulullah, beri tahu aku mana kesalahanku! Beliau bersabda: Kamu jangan sering bersumpah. (Shahih Muslim No.4214)
3. Mimpi Nabi Shallallahu alaihi wassalam.
- Hadis riwayat Abu Musa Radhiyallahu’anhu:
Dari Nabi Shallallahu alaihi wassalam. bahwa beliau bersabda: Aku pernah bermimpi seolah-olah berhijrah dari kota Mekah menuju ke suatu daerah yang banyak pohon kurma. Aku yakin itu adalah daerah Yamamah atau daerah Hajar, namun ternyata adalah daerah Madinah yang dahulu disebut Yatsrib. Dalam mimpiku ini aku seakan-akan menghunus sebilah pedang tiba-tiba matanya menjadi tumpul. Ternyata mimpi itu adalah musibah bagi orang-orang mukmin pada perang Uhud. Kemudian aku ayunkan sekali lagi dan ternyata pedang itu kembali baik seperti semula. Ternyata itu adalah kemenangan yang diberikan oleh Allah dan bersatunya orang-orang mukmin. Dalam mimpi itu aku juga melihat seekor sapi, Allah adalah Zat yang baik. Ternyata itu adalah (isyarat) sekumpulan orang-orang mukmin pada perang Uhud. Namun kebaikan Allah datangnya masih nanti. Balasan sebuah keyakinan yang diberikan oleh Allah setelah perang Badar. (Shahih Muslim No.4217)
- Hadis riwayat Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
Pada suatu hari Musailimah Al-Kadzab datang ke Madinah pada zaman Nabi Shallallahu alaihi wassalam. dan berkata: Jika Muhammad menyerahkan kepemimpinan kepadaku sepeniggalnya niscaya aku mau menjadi pengikutnya. Lalu Musailimah datang lagi (ke Madinah) bersama beberapa orang dari kaumnya kemudian Nabi Shallallahu alaihi wassalam. dengan Tsabit bin Qais bin syammas berangkat menemuinya sambil membawa sepotong pelepah kurma sampai beliau berdiri di hadapan Musailimah beserta teman-temannya lalu bersabda: Sekalipun kamu meminta kepadaku sepotong kayu ini, tidak akan aku berikan kepadamu dan aku tidak akan melanggar perintah Allah dalam berurusan denganmu. Jika kamu berpaling, niscaya Allah akan membinasakanmu. Sesungguhnya aku telah memimpikan kamu dan kamu telah diperlihatkan kepadaku dalam mimpi itu. Dan ini Tsabit bin Qais yang akan memberikan jawaban kepadamu. Kemudian beliau beranjak pergi meninggalkan Musailimah. Ibnu Abbas berkata: Aku bertanya tentang sabda Nabi Shallallahu alaihi wassalam.: Sesungguhnya aku telah memimpikan kamu dan kamu telah diperlihatkan kepadaku dalam mimpi itu. Lalu Abu Hurairah mengabarkan kepadaku bahwa Nabi Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Ketika sedang tidur aku bermimpi melihat sepasang gelang emas berada di tanganku. Sepasang gelang tersebut sangat menarik perhatianku. Dalam tidur aku mendapat wahyu supaya meniup sepasang gelang tersebut. Setelah aku tiup ternyata sepasang gelang tersebut terbang. Aku tafsirkan mimpi itu dengan akan munculnya dua pembohong sepeninggalku pertama adalah Unsi dari daerah Shan`a dan kedua adalah Musailimah dari daerah Yamamah. (Shahih Muslim No.4218)
- Hadis riwayat Samurah bin Jundub Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
Nabi Shallallahu alaihi wassalam. setiap kali selesai mengerjakan salat Subuh menghadapkan wajahnya kepada para sahabat dan bertanya: Apakah tadi malam ada salah seorang di antara kalian yang bermimpi. (Shahih Muslim No.4220)


Publikasi : 28-11-2006 @ 09:09

Ilham, Firasat, Kasyaf, Mimpi Dapat Dijadikan Dalil?
Penulis : DR. Yusuf Al-Qaradhawi

KotaSantri.com : Apakah Ilham Itu?

Dalam Al-Qur'an disebutkan, dalam bentuk fi'il madhi (kata kerja lampau) yaitu dalam QS. Asy-Syams 7-8 : "Dan demi jiwa serta penyempurnaannya, lalu IA meng-ILHAM-kan kepadanya jalan keburukan dan ketaqwaannya."

Dalam Al-Mu'jam [2] disebutkan makna ayat tersebut : "ALLAH menanamkan dalam jiwa itu perasaan yang dapat membedakan antara kesesatan dan petunjuk."
Makna ini didasarkan oleh riwayat mufassir terdahulu seperti Mujahid dan lain-lain tentang makna ayat ini. Mungkin di masa sekarang orang biasa menyebutnya sebagai dhamir (hati nurani).

Di dalam kamus Al-Muhith, disebutkan : "ALLAH mengilhamkan padanya kebaikan, yaitu IA mengajarkannya kepadanya." Adapun pensyarah kitab Al-Muhith yaitu Az-Zubaidi [3] mengatakan : "Ilham ialah apa-apa yang diletakkan dalam hati dalam bentuk yang melimpah dan khusus dengan sesuatu yang datangnya dari ALLAH atau dari para Malaikat." Dikatakan pula : "Meletakkan sesuatu di dalam hati, yang karenanya hati menjadi tentram dan hal itu dikhususkan oleh ALLAH bagi para hamba yang dikehendakiNYA."

Di dalam Lisanul Arab [4] disebutkan : "Ilham ialah bahwa ALLAH menanamkan di dalam jiwa seseorang sesuatu yang dapat mendorongnya untuk melakukan atau meninggalkan sesuatu, dan ia termasuk jenis wahyu yang dengannya ALLAH mengkhususkan siapa saja yang dikehendakiNYA di antara hamba-hambaNYA."

Di dalam Syarh Aqidah Nasafiyyah [5] disebutkan : "Ilham adalah menanamkan sesuatu dalam hati secara melimpah." Sedangkan di dalam At-Ta'rifat [6] dikatakan : "Ilham adalah apa yang ditanamkan di dalam hati dengan cara yang melimpah." Sementara di dalam An-Nihayah [7] dikatakan : "Ilham ialah bahwa ALLAH meletakkan di dalam jiwa seseorang perintah yang membangkitkannya untuk melakukan atau meninggalkan sesuatu dan hal itu termasuk jenis wahyu yang dikhususkan oleh ALLAH kepada siapa saja yang dikehendakiNYA di antara para hambaNYA."

Sementara itu dalam bab had-da-tsa ia menyitir sebuah hadits shahih [8] : "Sungguh telah ada pada ummat-ummat terdahulu para muhaddatsun, dan jika ada seseorang dari ummatku, maka ia adalah Umar bin Khattab." Kemudian ia berkata [9] : "Penafsiran dari hadits ini ialah bahwa mereka itu adalah orang-orang yang diberikan ilham dan orang yang diberikan ilham adalah orang yang dalam dirinya diletakkan sesuatu lalu dengannya ia diberi tahu tentang suatu perkiraan atau suatu firasat. Hal ini semacam sesuatu yang dikhususkan oleh ALLAH kepada siapa saja yang dikehendakiNYA dari para hamba yang dipilihNYA, misalnya Umar, seolah-olah disampaikan pembicaraan kepada mereka lalu mereka mengatakannya."

Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa : Ilham adalah penyampaian suatu makna, fikiran, atau hakikat di dalam jiwa atau hati -terserah mau dinamakan apa saja- secara melimpah. Maksudnya, ALLAH SWT menciptakan padanya ilmu dharuri yang ia tidak dapat menolaknya, yaitu bukan dengan cara dipelajari akan tetapi dilimpahkan ke dalam jiwanya bukan karena kemauannya.

Perbedaan ilham dan tahdits menurut Imam Ibnul Qayyim [10], bahwa tahdits sifatnya lebih khusus dari ilham, berdasarkan hadits Bukhari tentang Umar RA di atas, sehingga setiap tahdits adalah ilham tapi tidak setiap ilham adalah tahdits. Seorang mu'min (manusia yang mukallaf) akan diberikan ilham sesuai taraf keimanannya kepada ALLAH SWT, seperti disebutkan dalam ayat-ayat : "Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa : Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya, maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil), dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, Karena sesungguhnya kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul." (QS. Al-Qashshash, 28/7).

"Dan (ingatlah), ketika AKU ilhamkan kepada pengikut Isa yang setia : Berimanlah kamu kepadaKu dan kepada rasulKu. Mereka menjawab : Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang patuh (kepada seruanmu)." (QS. Al-Ma'idah, 5/111).

Dan bisa juga diberikan kepada makhluk yang tidak mukallaf, sebagaimana dalam firmanNYA yang lain; "Dan RABBmu mewahyukan kepada lebah : Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibuat manusia." (QS. An-Nahl, 16/68).

***

Ilham, Kasyaf, Mimpi, dan Firasat Tidak Bisa Dijadikan Hujjah Syari'at

Kesepakatan para ulama ushul bahwa ilham, firasat, mimpi dan kasyaf, semuanya itu adalah bukan hujjah syari'at baik dalam masalah amal dan ibadah apalagi dalam masalah i'tiqad (aqidah). Para ulama ushuluddin dan ushul fiqh telah ijma' dalam masalah ini, mereka menolak orang yang menganggapnya sebagai hujjah dan menolak segala sesuatu yang didasarkan kepadanya. An-Nasafi [11] berkata : "Menurut ahlul-haqq ilham itu bukanlah salah satu sebab dari sebab-sebab untuk mengetahui kebenaran sesuatu."

Imam Abu Zaid ad-Dabusi salah seorang ulama Hanafiyyah berkata : "Ijma' ulama bahwa ilham tidak boleh diamalkan, kecuali jika pada hal yang mubah yang tidak terdapat sama sekali dalil syari'ah tentangnya. Jadi bolehnya mengamalkan ilham terikat dengan 2 hal : 1) Hendaklah tidak ada dalil syari'ah dalam masalah tersebut, baik dalam Al-Qur'an, As-Sunnah, Ijma', Qiyas, dan dalil-dalil lain yang diperselisihkan. 2) Hendaknya hal itu dalam hal-hal yang mubah, sedangkan dalam masalah yang wajib, haram, makruh, dan sunnah maka tidak dapat disandarkan kepada ilham seorang mulhim maupun kasyaf seorang kasyif."

Imam Asy-Syathibi [12] lebih rinci berkata : "Diantara contohnya jika seorang Hakim yang telah mendengar kesaksian 2 orang saksi yang adil, lalu Hakim tersebut bermimpi Nabi SAW berkata bahwa kedua saksi itu tidak adil, maka mimpi itu harus ditolak karena bertentangan dengan prinsip syari'at. Demikian pula jika seseorang mendapat kasyaf atau firasat bahwa air yang akan dipakainya berwudhu' adalah najis, padahal berdasar fakta air tersebut tidak najis, maka ia pun tidak boleh meninggalkan air itu dalam keadaan apapun. Semua ini didasarkan dalil shahih dari nabi SAW : Dari Zainab RA dari Ummu Salamah RA : Nabi SAW bersabda : "Sesungguhnya kalian mengadukan perkara padaku, dan boleh jadi sebagian kalian lebih pandai berargumentasi dibanding yang lain, maka aku putuskan perkaranya sesuai dengan apa yang kudengar darinya." [13].

Demikianlah -lanjut Imam Asy-Syathibi rahimahuLLAAH- bahwa RasuluLLAH SAW mengambil keputusan berdasarkan bukti dan fakta, dan memerintahkan kita juga berbuat demikian, padahal banyak hal-hal yang beliau telah lebih dulu mengetahui permasalahannya ataupun hakikat kebatilannya, tapi beliau SAW tidak menghukumi kecuali berdasar bukti dan fakta, bukan berdasar hakikat yang telah beliau SAW ketahui sebelumnya." [14].

Sebagi contoh, Nabi SAW mengetahui rahasia orang-orang munafiq berdasarkan apa yang telah dibukakan ALLAH SWT padanya, tapi beliau SAW tetap menghukumi mereka berdasarkan lahiriah mereka dan baru bersikap tegas dan meluruskan jika telah ada pelanggaran terang-terangan dari mereka. Bahkan ketika para sahabat RA (yang juga telah membaca gelagat ketidakberesan isi hati para munafiqin tersebut berdasarkan firasat, -pen) ingin memperlakukan orang-orang munafiq tersebut seperti orang kafir, maka Nabi SAW bersabda : "Aku kuatir manusia akan berkata bahwa Muhammad membunuh sahabat-sahabatnya."

Demikianlah, beliau SAW tetap memperlakukan mereka seperti yang lainnya, berdasarkan zhahir dan bukan berdasarkan batin dan hal yang ghaib, maka kita tidak diperintah untuk membelah hati manusia untuk mengetahui hakikatnya. Jika terhadap firasat seorang mu'min saja tidak dapat menjadi hujjah syar'iyyah untuk menetapkan benar dan salah, halal dan haram, bahkan sekedar hukum makruh dan sunnah, apalagi berbagai kisah khurafat yang dituturkan oleh seorang kafir musyrik yang dipakai untuk menentukan kebenaran aqidah? Inna liLLAAHi wa inna ilayhi raaji'uun... Fa'tabiruu ya Ulil Abshaar...

WaLLAAHu a'lamu bish Shawaab...

Mimpi Bertemu Yesus

Jumat, 22/05/2009 13:03 WIB
Assalamu alaikum ustads,, Saat ini saya sedang menjalin hubungan dengan seorang nasrani, dengan harapan dia mau ikut agama saya. Sampai saat ini memang belum ada arah pembicaraan yg serius ke sana, tapi saya sangat menaruh harapan agar dia mau ikut saya. Setelah beberapa lama saya jalan dgnnya, saya pernah bermimpi bertemu dengan Tuhan Yesus, dalam mimpi saya, seolah-olah saya berada dalam sebuah gedung dan saya tidak bisa menemukan jln keluar dr gedung tsb, lalu seolah-olah Yesus menuntun saya untuk keluar dr gedung tsb dan akhirnya saya berhasil keluar. Yang ingin saya tanyakan,apa maksud dr mimpi saya ini ?? Saya sama sekali tidak ada niat untuk berpindah ke agama lain,tp knp saya bermimpi seperti itu, apakah ini sebuah tanda atu apa ?? Mohon penjelasannya. Terima kasih, wassalam
Wie

Jawaban

Waalaikumussalam Wr Wb
Didalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Said al Khudriy bahwa Rasulullah saw bersabda,”Jika seseorang diantara kalian bermimpi dengan mimpi yang ia sukai (mimpi yang baik) sesungguhnya ia datang dari Allah, maka pujilah Allah atasnya dan bicarakanlah mimpi tersebut. Dan jika seseorang diantara kalian bermimpi yang lain dari itu (mimpi yang buruk) da ia membencinya, maka sesungguhnya itu datangnya dari setan maka berlindunglah dari keburukannya dan janganlah membicarakannya kepada siapapun maka mimpi buruknya tersebut tidak merugikannya.” (HR. Bukhori)
Al Hafizh Ibnu Hajar menyebutkan bahwa didalam riwayat al Kusyhimaniy didalam bab “Apabila dia bermimpi dengan yang tidak disukai maka itu tidaklah membahayakannya.” Dia mengatakan bahwa adab mendapatkan mimpi yang baik ada tiga: memuji Allah swt, bergembira dengannya dan menceritakannya akan tetapi barangsiapa yang bermimpi buruk maka adabnya adalah : berlindung kepada Allah dari kejahatannya, berlindung kepada-Nya dari kejahatan setan, meludah ke sebelah kiri tatkala terjaga dari tidurnya dan tidak menceritakannya kepada seorang pun.
Selanjutnya al Hafizh menyebutkan pendapat para ulama tentang hikmah dibalik perkara-perkara itu :
1. Adapun berlindung kepada Allah dari kejahatannya adalah jelas disyariatkan tatkala menghadapi setiap perkara yang tidak disukainya.

2. Adapun berlindung kepada Allah dari setan maka terdapat di beberapa jalan hadits bahwa mimpi itu berasal darinya yang hendak memberikan khayalan kepada orang itu dengan tujuan memberikan kesedihan kepadanya dan menakut-nakutinya.
3. Adapun tentang meludah maka ‘Iyadh mengatakan bahwa hal ini diperintahkan untuk mengusir setan yang mendatangkan mimpi buruk sebagai penghinaan baginya dan menyatakan kejijikannya. Kemudian dikhususkannya ke sebelah kiri karena ia adalah tempat kotoran atau sejenisnya.
4. Sedangkan mimpi yang terkadang mengagetkan orang yang bermimpi namun ia tidak mendapatinya tatkala terjaga dan tidak pula ada sesuatu petunjuk tentang hal itu maka mimpi yang demikian masuk dalam bagian lain yaitu sesuatu yang ada didalam fikirannya yang menyibukkannya sebelum ia tidur dan terbawa saat tidur yang kemudian dia lihatnya didalam mimpi maka mimpi yang seperti ini tidaklah membahayakannya dan tidak pula memberikan manfaat baginya.” (Fathul Bari juz XII hal 431 – 434)
Sementara pemilik kitab “Tuhaftul Ahwadzi” menambahkan adab mendapatkan mimpi buruk selain dari empat yang disebutkan diatas dengan mengerjakan shalat dan mengganti arah tidurnya yang berbeda dengan arah sebelumnya.

Syeikh ‘Athiyah Saqar menyebutkan pendapat an Nablusi yang mengatakan bahwa sebagian mereka (ulama) mengatakan bahwa mimpi itu ada tiga :
1. Kabar gembira dari Allah dan inilah mimpi yang baik.
2. Mimpi buruk yang berasal dari setan.
3. Mimpi yang merupakan kejadian yang dialami oleh orang yang bermimpi.

Didalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Muslim bahwa seorang laki-laki mengatakan kepada Nabi saw dan berkata,”Aku bermimpi kepalaku terputus dan aku mengikutinya—dari belakang—.’ maka beliau saw bersabda,”Janganlah engkau ceritakan permainan setan terhadapmu didalam tidur (mu).”
Mimpi yang berasal dari dorongan jiwa seperti orang yang bermimpi bahwa dirinya bersama orang yang dicintainya atau takut terhadap sesuatu yang dilihatnya atau dirinya lapar dan bermimpi bahwa dia sedang makan.. (Fatawa al Azhar juz X hal 192)

Dengan demikian mimpi yang anda saksikan ketika tidur dimana anda bertemu dengan Yesus Kristus adalah mimpi buruk atau mimpi batil yang bersumber dari setan. Setan memanfaatkan fikiran anda yang senantiasa digelayuti perasaan cinta kepada orang nasrani yang anda cintai itu.
Mimpi yang anda dapati jekas bertentangan dengan aqidah islam yang tidak mengakui ketuhanan Isa as karena ia hanyalah seorang nabi dan rasul sebagaimana nabi-nabi dan rasul-rasul lainnya berdasarkan firman Allah swt :

Artinya : “Dan (Ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: "Hai Bani Israil, Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan Kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)." (QS. Ash Shaff : 6)


Artinya : “Sesungguhnya Telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Al masih putera Maryam", padahal Al masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu". (QS. Al Maidah : 72)

Untuk itu hendaklah anda melakukan adab-adab mendapatkan mimpi buruk didalam tidur—seperti yang disebutkan diatas—dan janganlah terpengaruh oleh isi dari mimpi itu sama sekali karena dapat membahayakan aqidah anda sebagai seorang muslimah dan perbanyaklah berlindung kepada Allah swt serta lebih dekatkan diri anda dengan-Nya.
Dan tentang hubungan anda dengan orang nasrani itu cobalah pertimbangkan pengaruh yang bisa muncul terhadap aqidah keislaman anda karena keburukannya lebih besar daripada kebaikannya. (baca : Mencintai dan Mendoakan Non Muslim)
Wallahu A’lam

Ustadz Menjawab Sebelumnya

Sabtu, 2009 Mei 09

Mimpi melihat gunung atau bukit

Mimpi melihat gunung atau bukit ta’birnya adalah orang-orang lelaki yang
kira-kiranya menurut besar gunung atau bukit yang dilihat dalam mimpinya itu.
Dan sedemikian pula mimpi melihat batuyang besar. Kadang-kadang mimpi melihat
gunung atau bukit mengandung ta’bir derajat yang tinggi yang akan diraih oleh
orang yang bermimpi.
Barang siapa mimpi mendaki gunung, maka akan mendapat martabat (jabatan). Hanya
saja mimpi melihat batu besar ta’birnya orang lelaki yang keras, kasar, jaht
perangaidan kasar. Mimpi melontarkan batuyang kecil menurut kebiasaannya
bermaksud menerka atau mengagak-agak.
Bermimpi berdiri di atas gunung maksudnya ia dapat mengatasi lelaki yang hal
ihwalnya seperti gunung itu (keras dan kasar).
Mimpi telah merobohkan gunung mengandung ta’bir membinasakan orang lelaki,
sedang mimpi melubangi atau menggali gunung ta’birnya ialah ia melakukan tipu
daya dan kilah pada orang lain.
Mimpi mendaki gunung ta’birnya mendapat kemuliaan, martabat (jabatan). Sedang
mimpi mendaki gunung yang posisinya tegak ta’birnya ialah mengalami kesulitan
dan kepayahan dalam menuntut urusan harta yang sedang diurus. Mimpi mendaki
keseluruhan gunung maksudnya terpuji, hanya saja mendaki dengan posisi berdiri
tegak naik ke atas bermaksud akan menjumpai kepayahan dan kesulitan. Adapun
mimpi naik ke atas sebagaimana dilakukan di waktu jaga, akan mendapatkan
kemuliaan dan ketinggian martabat. Dan inilah naik yang terpuji.
Setiap naik dalam mimpi makananya naik ke jenjang agama, harta dan derajatnya.
Sedangkan mimpi melihat gunung, goa, dan pohon kayu maknanya perlindungan dan
naungan.
Mimpi memindahkan batu yang besar dan gunung boleh dita’biri bahwa ia mempunyai
maksud dan tujuan sesuatu urusan yang sulit dan berat dalam menanggung beban
orang-orang lain seberat batu besar dan gunung itu sendiri.


Re: [keluarga-islam] Firasat ulama tentang Ibnu Abdul Wahab

bos gila
Mon, 11 Dec 2006 18:45:12 -0800

sesat karena mengatakan musyrik pada  orang yg tabarrukan, yaitu mengambil 
berkah dari benda, tanah dlsb,  padahal itu dilakukan Nabi saw dan sahabat 
dalam riwayat shahih..!
  
  mengatakan musyrik pada orang yg memuliakan dan menyanjung Nabi saw padahal 
ada hadits shahih nya yg mendukung itu..
  
  mengatakan musyrik bagi orang yg berdoa menghadap kuburan padahal nabi saw 
melakukannya, dan masih banyak lageeee...
 
Anto Sulistianto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                                     
             
Tolong donk disebutkan kesesatannya..!! dalam pengertian saya sih, sesat itu 
apabila ajarannya ataupun dakwahnya menyimpang dari Quran dan Sunnah, itu saja.
   
  Tolong donk diberikan list kesesatan beliau, biar orang-2, termasuk saya 
nggak ikut-2an "sesat"
  Hanya  memberi label "sesat" tanpa penjelasan yg syar'i di mana letak ke  
sesatannya, apakah dari segi aqidah, manhaj, dll  yg terbukti  menyimpang dari 
Quran dan Sunnah , maka itu hanya fitnah belaka...
   
  Syukron,
   
  Wassalam,
  Anto
  
 
 
  ----- Original Message ----
From: ahmad faqih <[EMAIL PROTECTED]>
To: keluarga-islam@yahoogroups.com
Sent: Monday, December 11, 2006 3:29:56 PM
Subject: [keluarga-islam] Firasat ulama tentang Ibnu Abdul Wahab
 
      
Assalamu'alaikum wr.wb.,
   
  Berikut informasi lain yang saya dapatkan, mohon untuk dapat diklarifikasikan 
bagi yang lebih mengetahui tentang hal ini.
   
    Habib Alwi bin Ahmad bin Hasan bin Shohibur Ratib Habib 'Abdullah al-Haddad 
dalam kitabnya "Misbahul Anam" halaman 15 menceritakan seperti berikut:-
    
   Aku  telah diberitahu oleh seorang tua yang bersinar wajahnya karena  
kesholehannya dan sudah melebihi 80 tahun umurnya, salah seorang pemuka  kita 
keluarga Abu 'Alawi yang lahir dan dibesarkan di Makkah dan sering  ke Madinah. 
Nama beliau Musa bin Hasan bin Ahmad al-'Alawi,  keturunan Sayyidina 'Uqail bin 
Salim, saudara Sayyidina Quthubus-Syahir  asy-Syaikhul Kabir Abu Bakar bin 
Salim. Beliau berkata:- " Aku  dahulu berada di Madinah belajar kepada 
asy-Syaikh Muhammad Hayat  (as-Sindi al-Madani). Muhammad bin 'Abdul Wahhab 
juga sering ke majlis  Syaikh Muhammad Hayat seperti murid-murid lainnya. Aku 
mendengar dari  orang-orang sholeh dan ulama, sebagai kasyaf dari mereka, 
firasat  mereka mengenai Muhammad bin 'Abdul Wahhab di mana mereka menyatakan  
bahawa dia akan sesat dan Allah menyesatkannya,  dengannya orang yang dijauhkan 
dari rahmatNya dan yang dibinasakanNya" Dan  demikian yang telah terjadi (yakni 
firasat mereka telah menjadi  kenyataan) sehingga Syaikh 'Abdul
 Wahhab, ayah Muhammad bin 'Abdul  Wahhab, juga berfirasat sedemikian terhadap 
anaknya, dia telah  menasihati dan mencelanya serta memperingati orang lain 
sehubungan  dengan anaknya tersebut. 
  Di antara ulama yang mempunyai firasat demikian juga ialah Syaikh Muhammad 
Hayat as-Sindi dan Syaikh Muhammad Sulaiman al-Kurdi al-Madani asy-Syafi`i .  
Sayyidi  Ahmad Zaini Dahlan menceritakan firasat Syaikh Muhammad Sulaiman  
al-Kurdi dalam kitab-kitabnya dan perlu diketahui Sayyidi Ahmad Zaini  Dahlan 
mempunyai sanad riwayat dari Syaikh Muhammad Sulaiman al-Kurdi  seperti 
berikut:- Sayyidi  Ahmad Zaini Dahlan dari Muhaddis Syam Syaikh Abdur Rahman 
al-Kuzbariy  dari al-Hafiz al-Hujjah 'Abdullah al-Kurdi al-Madani dari 
al-Muhaddis  al-Musnid Syaikh Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi al-Madani .  Dalam 
masalah  Muhammad bin 'Abdul Wahhab tidak ada penolakan secara langsung dari  
Syaikh 'Abdur Rahman al-Kuzbari etrhadap kata-kata Syaikh Muhammad  Sulaiman 
al-Kurdi dan beliau adalah tokoh utama dalam bidang  periwayatan hadis yang 
terkenal dalam dunia Islam. Kesimpulannya, perawi-perawi tersebut adalah orang 
yang dipercayai dan tidak berbohong .  Syaikh Sulaiman al-Kurdi bukan
 saja berfirasat mengenai Muhammad bin  'Abdul Wahhab, tetapi setelah fitnah 
nyata Muhammad bin Abdul Wahhab  beliau telah ditanyai tentangnya dan membuat 
jawaban untuk menolak  ajaran Muhammad bin Abdul Wahhab. 
  Jika  hanya ada kitab yang ditulis Syaikh Sulaiman bin 'Abdul Wahhab  
al-Hanbali, saudara kandung Muhammad bin 'Abdul Wahhab, yang berjudul 
"Syawa`iqul Ilahiyyah", itu  sudah cukup untuk membuktikan kesesatan Muhammad 
bin Abdul Wahhab dan  sekaligus membuktikan kebenaran firasat para ulama dan 
sholihin di  atas. Bukan Syaikh Sulaiman saja yang menceritakan kesesatan 
Muhammad  bin Abdul Wahhab, tetapi sangat banyak ulama yang menyatakan 
demikian. 
  Habib Alwi al-Haddad pada halaman 3 kitab "Misbahul Anam" membuat kesimpulan 
bahawa kesesatan  Muhammad bin 'Abdul Wahhab telah disampaikan oleh banyak 
ulama secara  tawatur dalam tulisan-tulisan mereka dari orang-orang yang tsiqah 
dari  kalangan ulama-ul-akhyar (terpilih) dan selain mereka, yang telah  
melihat dengan matanya sendiri dan mendengar dengan telinganya sendiri  akan 
kesesatan Muhammad bin 'Abdul Wahhab dan pengikut-pengikutny a dan  juga dari 
tulisan-tulisan, perkataan, perbuatan dan perintah Muhammad  bin Abdul Wahhab 
dan pengikut-pengikutny a .
  Firasat bukan hujjah, betul memang betul, tetapi jangan pula dikesampingkan 
mentah-mentah.   APalagi lagi jika ada qarinah lain membuktikan kebenaran 
firasat tersebut.  Sebagaimana Rasulullah SAW telah  bersabda dalam hadis yang 
diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dan Imam ath-Thobarani : " Ittaquu firasatal 
mu'min, fa innahu yandzuru bi nurIllah" (Takutilah firasat orang mukmin, kerana 
bahawasanya dia memandang dengan cahaya Allah). 
  Wallahu a'lam.
   
  Salam,
  Hidayat

Panjat
Jika anda bermimpi memanjat keatas loteng atau aaatap rum, bermakna
keberuntungan, memanjat pohon kelapa atu gunung hingga sampai puncaknya,
bertafsir kebaikan dalam kehidupan.

Firasat

Source : http://beranda.blogsome.com
Khazanah Islam meliputi seluruh potensi yang ada pada diri manusia. Termasuk didalamnya adalah potensi manusia untuk berfirasat, sesuatu yang kata sebagian orang adalah pikiran irasional. Akan tetapi, se-rasional apapun diri manusia, pasti pernah terlintas di hatinya suatu firasat atas keadaan sesuatu. Naluri firasat mampu membuatnya merasakan getaran kegelisahan hati orang lain, mampu merasakan kedatangan bahaya yang mengancam dirinya, mampu merasakan alur fikiran lawan bicaranya, dan banyak lagi contoh yang bisa disebutkan. Selanjutnya, firasat tersebut menjadi pegangan baginya untuk bertindak, untuk melangkah dan untuk memilih. Namun demikian harus dicatat, bahwa apapun yang dimunculkan oleh firasat, tidak bisa dijadikan landasan hukum syar’i. Sejauh manakah Nabi Muhammad SAW dan para sahabat mengomentari potensi firasat dan bersikap terhadapnya? Mari kita simak tulisan berikut.
Tiba-tiba saja Utsman bin Affan ra berkomentar saat ia didatangi seorang pemuda. “Saya didatangi orang yang tampak bekas zina pada matanya,” kata Utsman. Orang itu terkejut. Namun ia membenarkan perkataan Utsman, bahwa dalam perjalanannya menuju majlis itu, ia memang terpesona oleh kecantikan seorang wanita. “Apakah ada wahyu setelah Rasulullah saw?”. “Tidak ada” tukasnya. Utsman mengatakan, “Tidak, ini hanya pandangan, petunjuk dan firasat yang benar.”
Firasat, menurut Ibnul Qayyim adalah cahaya yang Allah berikan ke dalam hati hambaNya yang sholeh. Cahaya itu menjadikan seorang hamba dapat menduga sesuatu yang akan terjadi pada dirinya, atau menjadikannya dapat melihat sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh orang lain. (Ar-Ruh, 234).
Meski sama-sama lintasan hati, firasat tentu bukan su’u dzon atau buruk sangka. Firasat tumbuh dari kebersihan hati karena kedekatan seseorang kepada Allah. Sebaliknya buruk sangka tumbuh dari kekotoran hati dan kejauhan hubungan dengan Allah. Ibnu Abbas ra, memaknai kata mutawassimin dalam firman Allah “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang yang memperhatikan tanda-tanda (mutawassimin).” Menurut Ibnu Abbas, mutawassimin adalah mutafarrisin, atau orang-orang yang memiliki firasat.
Pandangan seperti itulah yang dimaksud dalam sabda Rasulullah saw, “Takutlah kalian dengan firasatnya orang mu’min karena ia melihat dengan cahaya Allah.” (HR. Turmudzi). Dalam sebuah hadits Qudsi yang shahih, Rasulullah menyebutkan, “Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri pada-Ku yang lebih Aku cintai dari melakukan apa yang telah Aku wajibkan. Dan tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepadaku dengan mengerjakan perintah yang sunnah, kecuali Aku pasti mencintainya. Dan bila aku mencintainya, maka Aku akan menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar. Aku akan menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat. Aku akan menjadi tangannya yang ia gunakan untuk memukul. Aku akan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Dengan-Ku lah ia mendengar, melihat, memukul dan berjalan.”
Hadits qudsi ini sekaligus menyebutkan korelasi yang kuat antara kedekatan seorang hamba dan Allah, dengan cahaya Allah yang akan menjadikannya mampu memiliki firasat yang benar.
Rasulullah bisa mengetahui sahabat yang sholat di belakangnya, seperti menyaksikan mereka di hadapannya. Rasulullah juga bisa melihat baitul Maqdis yang jauh secara detail dari tempatnya di Makkah. Ia juga dapat mengetahui kondisi para sahabatnya dalam perang mu’tah, ketika ia berada di Madinah. Rasulullah juga mengetahui ketika Najasyi wafat di Habasyah, padahal Rasulullah berada di Madinah. Atas firasat itulah, Rasulullah mengajak para sahabatnya untuk melakukan shalat ghaib atas wafatnya Najasyi.
Umar bin Khattab pun mengetahui kondisi pasukannya di Nahawand saat berperang melawan pasukan Persia, padahal Umar berada di Madinah. Itu yang menyebabkan secara tiba-tiba, khalifah pertama Islam itu mengatakan, “Pasukan!, naik ke gunung… pasukan naik ke gunung…”
Itulah firasat orang beriman. Ketika ketundukan dan kedekatan kalbu pada Yang Maha Kuasa , melahirkan pandangan yang bersih dan jernih. Wallahu’alam.

March 31, 2009

Permintaan menakwilkan mimpi dari si kecil...

Satu malam anakku tiba-tiba gelisah, dan mendadak bangun dari tidurnya. Tak biasanya hal tersebut terjadi. Sebagai orang tua, tentu aku harus mententramkannya. Ku peluk ia dengan erat, sampai ia merasa nyaman, barulah kemudian kutanyakan kepadanya, apa yang dialaminya. Hanya satu kalimat pendek berjawab “mimpi buruk”
Hal tersebut mungkin sudah umum terjadi, tapi pertanyaan berikutnya, cukup membuatku kelimpungan, “Abi, apakah artinya mimpiku itu.... ?”

Ini mungkin permasalahan yang cukup banyak ditemui oleh orang tua, dan menjadi satu masalah yang cukup pelik. Jangan sampai kita memberikan jawaban asal-asalan yang pada akhirnya membuat sang anak salah langkah di tengah usianya yang belia.

Ku raih tangannya, kemudian ku katakan jawaban penenteram hatinya, “Nak, jika engkau mimpi buruk, Nabi menyuruh kita untuk merahasiakannya dan meludah ke arah kiri. Beliau menjanjikan bahwa barang siapa yang berbuat demikian, maka mimpi tersebut tidak akan mencelakakannya.”

Sejenak aku ragu, apakah anak baru 8 tahun akan mengerti jika kuterangkan tentang mimpi ? Tapi akhirnya aku coba juga untuk melakukan “down grade” penjelasanku, agar bisa dimengerti anak kelas 2 SD.

Anakku, mimpi adalah bagian dari hidup dan merupakan bagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, sebagaimana juga tidur dan bangunmu. Menurut hadist riwayat muslim, mimpi ada dua jenis yaitu “ar-ru’ya” (mimpi kebaikan) berasal dari Allah, sedang al hulmu (mimpi buruk) berasal dari setan. Biasanya mimpi yang benar terjadi ketika malaikat yang mendampingi seseorang itu berada di sisinya. Demikian pula mimpi buruk, itu terjadi ketika setan sedang mendampinginya. Rupanya engkau lupa adab tidur yang abi (bapak) ajarkan kepadamu, ya ! Apa engkau lupa berwudhu sebelum tidur, ataukah kau lupa berdoa ?


Anakku, tersipu malu, kemudian menyeringai dan terkekeh-kekeh. Rupanya kelelahannya melakukan kegiatan outbound seharian menyebabkannya kelelahan, sehingga ia langsung tertidur, tanpa sempat membersihkan tempat tidurnya (dari setan). Kemudian ia kembali merengek minta dijelaskan tentang mimpinya. Kututup mulutnya, agar ia tidak menceritakan mimpinya, sebelum melanjutkan pembicaraanku.

Ketahuilah anakku, sebelum engkau mengerti perihal menkwilkan mimpi, bahwa mimpi terbagi menjadi beberapa jenis,

Pertama, adalah mimpi yang benar dan menjadi kenyataan. Mimpi ini menginformasikan kebenaran. Mimpi demikian merupakan bagian dari kenabian, seperti ketika Rasulullah saw., bermimpi memasuki masjidil haram (QS Al-Fath 27). Mimpi yang berasal dari Allah-lah seperti inilah yang dimaksud oleh Rasulullah sebagai satu bagian dari 46 bagian kenabian. Mimpi ini pun terbagi menjadi dua jenis,
1. Mimpi yang transparan, jelas dan nyata, dan kata-katanya menerangkan kenyataan.
Sehingga tidak perlu penjelasan dan penakwilan seperti mimpi Ibrahim as., menyembelih putranya. (QS Ash-Shafaat : 102)
2. Mimpi yang tersembunyi, tersamar, dan mengandung hikmah serta pemberitahuan. Jenis ini memerlukan penafsiran, seperti mimpi yang dialami nabi Yusuf as., yang bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan, semuanya bersujud kepadanya (QS Yusuf : 4-5), dan ketika yusuf as., menakwilkan mimpi raja. (QS Yusuf : 36-37)

Kedua, Mimpi yang baik. Ia merupakan kabar gembira dari Allah ta’ala. Misalnya mimpi melihat Nabi saw., sahabat nabi, atau orang-orang shaleh.

Ketiga adalah mimpi simbolis yang logis atau bisikan

Keempat adalah mimpi yang menakutkan, yang mengingatkan adanya bahaya atau gangguan. Hal ini seperti mimpi raja yang melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk dimakan oleh tujuh sapi betina yang kurus, dalam QS Yusuf : 43

Selain itu, mungkin juga mimpimu masuk dalam kategori “Mimpi yang mungkin benar” atau masuk ke dalam kategori “Mimpi Kosong (tidak memiliki makna)”

Terlintas dalam pikiranku, mungkin aku orang tua yang keterlaluan, menerangkan hal serumit ini pada anak kecil yang baru terbangun dari tidurnya. Ku tolehkan wajahku ke wajahnya, dan ternyata anakku, sudah tertidur lelap kembali. Wah..... ngak bener ini, aku capek-capek memeras otak, anakku malah tidur. Tapi biarlah, mungkin besok ia sudah lupa dengan mimpinya, sehingga aku punya lebih banyak kesempatan menunggu sampai ia beranjak dewasa, dan akalnya mencukupi untuk menampung ilmu mimpi.

Terakhir kubisikkan ke telinganya, “Semoga engkau dianugerahi kebaikan mimpi dan dilindungi dari keburukannya.”


Ah, fajar sudah menjelang. Tidur lagi merupakan kesia-siaan. Kubuka laptopku, klak-klik, klak-klik, anu menuliskan blog ini. Karena rasanya belum tuntas aku menjelaskan.

Mimpi, ah betapa banyaknya ia disalahartikan. Banyak orang yang pada akhirnya salah bersikap ketika bermimpi, mencoba mentakwilkannya, padahal banyak perkara yang harus diketahui oleh seorang pemula dalam menakwilkan mimpi,
1. Penakwil memerlukan pengetahuan tentang perumpamaan yang dikemukakan oleh para nabi dan ahli hikmah, serta memerlukan pengambilan pelajaran dari hadist Nabi saw., dan dari ilustrasi yang dibuatnya.
2. Selain itu, seorang penakwil pun memerlukan pengetahuan tentang perumpamaan yang bermakna kebalikan, seperti perkataan Ibrahim as., kepada anaknya Ismail, “Gantilah ambang pintu rumahmu”, yang berarti, ”Ceraikanlah istrimu.”
3. Penakwil pun harus memiliki pengetahuan tantang derivasi (turunan) kata, dan makna kosa kata.
4. Penakwil pun harus mengetahui keadaan mimpi. Apakah mimpi itu tentang kebaikan atau keburukan yang baru saja berlalu, telah lama berlalu, tengah berlangsung, akan terjadi, atau kelak akan terjadi.
5. Penakwil juga harus memperhatikan status manusia yang bermimpi. Perbedaan status ini menimbulkan perbedaan pula dalam penakwilan mimpinya. Mimpi seorang raja, tentu berbeda dengan seorang penjahat.
6. Demikianlah penakwilan mimpi bervariasi sesuai dengan keadaan, tempat, masa, waktu dan posisi orang itu ketika tidur.

Yang jelas, tidak semua manusia memiliki kemampuan untuk menafsirkan mimpi dengan jelas dan benar. Orang yang mampu melakukan hal itu adalah orang yang dikaruniai Allah sejak lahir, yang pada gilirannya ia merupakan daya lihat mata hati terhadap aneka perkara ghaib. Pemilik daya ini mampu mengendalikan karakteristik rohaninya untuk menakwilkan mimpi secara tepat dan sesuai dengan kenyataan, seperti Nabi Yusuf as.. Orang yang tidak memiliki keistimewaan ini hanya dapat memberikan takwil-takwil yang bohong.

Ibnu sirin dalam bukunya:
TAFSIR MIMPI MENURUT AL QURAN DAN AS-SUNAH

TAFSIR MIMPI MENURUT AL QURAN DAN AS-SUNAH, berkata bahwa Abu Dawud menceritakan sebuah hadist : “Mimpi itu bagaikan sesuatu yang tergantung pada kaki burung, selama ia tidak diceritakan. Jika diceritakan terjadilah ia.”

Ah, Anakku, semoga aku masih sempat memberikan buku ini kepadamu, ketika tiba saatnya, agar engkau tidak terbenam dalam khurafat dan khayalan, terkait dengan mimpimu.

Semoga engkau termasuk yang tidur dengan benar, agar mimpimu pun adalah mimpi yang benar.
Amin......


copy paste from:
http://ishakq.multiply.com/journal/item/25

Membongkar Kedok Sufi : Ilmu Laduni
Penulis: Buletin Islam Al Ilmu Edisi 31/II/I/1425
Firqoh-Firqoh, 28 Mei 2005, 15:45:05
Ilmu kasyaf atau yang lebih dikenal dengan ilmu laduni (ilmu batin) tidaklah asing ditelinga kita, lebih – lebih lagi bagi siapa saja yang sangat erat hubungannya dengan tasawuf beserta tarekat-tarekatnya.

Kata sebagian orang: “Ilmu ini sangat langka dan sakral. Tak sembarang orang bisa meraihnya, kecuali para wali yang telah sampai pada tingkatan ma’rifat. Sehingga jangan sembrono untuk buruk sangka, apalagi mengkritik wali-wali yang tingkah lakunya secara dhahir menyelisihi syariat.

Wali-wali atau gus-gus itu beda tingkatan dengan kita, mereka sudah sampai tingkatan ma’rifat yang tidak boleh ditimbang dengan timbangan syari’at lagi”. Benarkah demikian? Inilah topik yang kita kupas pada kajian kali ini.

Hakikat Ilmu Laduni
Kaum sufi telah memproklamirkan keistimewaan ilmu laduni. Ia merupakan ilmu yang paling agung dan puncak dari segala ilmu. Dengan mujahadah, pembersihan dan pensucian hati akan terpancar nur dari hatinya, sehingga tersibaklah seluruh rahasia-rahasia alam ghaib bahkan bisa berkomunikasi langsung dengan Allah, para Rasul dan ruh-ruh yang lainnya, termasuk nabi Khidhir. Tidaklah bisa diraih ilmu ini kecuali setelah mencapai tingkatan ma’rifat melalui latihan-latihan, amalan-amalan, ataupun dzikir-dzikir tertentu.

Ini bukan suatu wacana atau tuduhan semata, tapi terucap dari lisan tokoh-tokoh tenar kaum sufi, seperti Al Junaidi, Abu Yazid Al Busthami, Ibnu Arabi, Al Ghazali, dan masih banyak lagi yang lainnya yang terdapat dalam karya-karya tulis mereka sendiri.
1. Al Ghazali dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin 1/11-12 berkata: “Ilmu kasyaf adalah tersingkapnya tirai penutup, sehingga kebenaran dalam setiap perkara dapat terlihat jelas seperti menyaksikan langsung dengan mata kepala … inilah ilmu-ilmu yang tidak tertulis dalam kitab-kitab dan tidak dibahas … “. Dia juga berkata: “Awal dari tarekat, dimulai dengan mukasyafah dan musyahadah, sampai dalam keadaan terjaga (sadar) bisa menyaksikan atau berhadapan langsung dengan malaikat-malaikat dan juga ruh-ruh para Nabi dan mendengar langsung suara-suara mereka bahkan mereka dapat langsung mengambil ilmu-ilmu dari mereka”. (Jamharatul Auliya’: 155)
2. Abu Yazid Al Busthami berkata: “Kalian mengambil ilmu dari orang-orang yang mati. Sedang kami mengambil ilmu dari Allah yang Maha Hidup dan tidak akan mati. Orang seperti kami berkata: “Hatiku telah menceritakan kepadaku dari Rabbku”. (Al Mizan: 1/28)
3. Ibnu Arabi berkata: “Ulama syariat mengambil ilmu mereka dari generasi terdahulu sampai hari kimat. Semakin hari ilmu mereka semakin jauh dari nasab. Para wali mengambil ilmu mereka langsung dari Allah yang dihujamkan ke dalam dada-dada mereka.” (Rasa’il Ibnu Arabi hal. 4)
Dedengkot wihdatul wujud ini juga berkata: “Sesungguhnya seseorang tidak akan sempurna kedudukan ilmunya sampai ilmunya berasal dari Allah ‘Azza wa Jalla secara langsung tanpa melalui perantara, baik dari penukilan ataupun dari gurunya. Sekiranya ilmu tadi diambil melalui penukilan atau seorang guru, maka tidaklah kosong dari sistim belajar model tersebut dari penambahan-penambahan. Ini merupakan aib bagi Allah ‘Azza wa Jalla – sampai dia berkata – maka tidak ada ilmu melainkan dari ilmu kasyaf dan ilmu syuhud bukan dari hasil pembahasan, pemikiran, dugaan ataupun taksiran belaka”.
Ilmu Laduni Dan Dampak Negatifnya Terhadap Umat
Kaum sufi dengan ilmu laduninya memiliki peran sangat besar dalam merusak agama Islam yang mulia ini. Dengannya bermunculan akidah-akidah kufur –seperti diatas – dan juga amalan-amalan bid’ah. Selain dari itu, mereka secara langsung ataupun tidak langsung terlibat dalam kasus pembodohan umat. Karena menuntut ilmu syar’i merupakan pantangan besar bagi kaum sufi. Berkata Al Junaidi: “Saya anjurkan kepada kaum sufi supaya tidak membaca dan tidak menulis, karena dengan begitu ia bisa lebih memusatkan hatinya. (Quutul Qulub 3/135)

Abu Sulaiman Ad Daraani berkata: “Jika seseorang menuntut ilmu hadits atau bersafar mencari nafkah atau menikah berarti ia telah condong kepada dunia”. (Al Futuhaat Al Makiyah 1/37)

Berkata Ibnul Jauzi: “Seorang guru sufi ketika melihat muridnya memegang pena. Ia berkata: “Engkau telah merusak kehormatanmu.” (Tablis Iblis hal. 370)
Oleh karena itu Al Imam Asy Syafi’i berkata: “Ajaran tasawuf itu dibangun atas dasar rasa malas.” (Tablis Iblis:309)

Tak sekedar melakukan tindakan pembodahan umat, merekapun telah jatuh dalam pengkebirian umat. Dengan membagi umat manusia menjadi tiga kasta yaitu: syariat, hakekat, dan ma’rifat, seperti Sidarta Budha Gautama membagi manusia menjadi empat kasta. Sehingga seseorang yang masih pada tingkatan syari’at tidak boleh baginya menilai atau mengkritik seseorang yang telah mencapai tingkatan ma’rifat atau hakekat.

Syubhat-Syubhat Kaum Sufi Dan Bantahannya
1. Kata laduni mereka petik dari ayat Allah yang berbunyi:
وَعَلَمَّنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا
“Dan kami telah ajarkan kepadanya (Nabi khidhir) dari sisi Kami suatu ilmu”. (Al Kahfi: 65)
Mereka memahami dari ayat ini adanya ilmu laduni sebagaimana yang Allah anugerahkan ilmu tersebut kepada Nabi Khidhir. Lebih anehnya mereka meyakini pula bahwa Nabi Khidhir hidup sampai sekarang dan membuka majlis-majlis ta’lim bagi orang-orang khusus (ma’rifat).

Telah menjadi ijma’ (kesepakatan) seluruh kaum muslimin, wajibnya beriman kepada nabi-nabi Allah tanpa membedakan satu dengan yang lainnya dan mereka diutus khusus kepada kaumnya masing-masing. Nabi Khidhir diutus untuk kaumnya dan syari’at Nabi Khidhir bukanlah syari’at bagi umat Muhammad.
Rasulullah bersabda:
كَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً
“Nabi yang terdahulu diutus khusus kepada kaumnya sendiri dan aku diutus kepada seluruh umat manusia” (Muttafaqun ‘alaihi)

Allah berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ
“Dan Kami tidak mengutus kamu (Muhammad), melainkan kepada seluruh umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan peringatan”. (As Saba’: 28)
Adapun keyakinan bahwa Nabi Khidhir masih hidup dan terus memberikan ta’lim kepada orang-orang khusus, maka bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah. Allah berfirman:
وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَ أَفَإِنْ مِتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ
(artinya) “Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad). (Al Anbiya’: 34)
Rasulullah bersabda:
مَا مِنْ مَنْفُوْسَةٍ اليَوْمَ تَأْتِيْ عَلَيْهَا مِائَةُ سَنَةٍ وَهِيَ يَوْمَئِذٍ حَيَّةٌ
“Tidak satu jiwapun hari ini yang akan bertahan hidup setelah seratus tahun kedepan”. (H.R At Tirmidzi dan Ahmad)

Adapun keyakinan kaum sufi bahwa seseorang yang sudah mencapai ilmu kasyaf, akan tersingkap baginya rahasia-rahasia alam ghaib. Dengan cahaya hatinya, ia bisa berkomunikasi dengan Allah, para Rasul, malaikat, ataupun wali-wali Allah. Pada tingkatan musyahadah, ia dapat berinteraksi langsung tanpa adanya pembatas apapun.
Cukup dengan pengakuannya mengetahui ilmu ghaib, sudah bisa dikatakan ia sebagai seorang pendusta. Rasul Shalallahu ‘alaihi wassalam adalah seorang yang paling mulia dari seluruh makhluk Allah, namun Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam tidaklah mengetahui ilmu ghaib kecuali apa yang telah diwahyukan kepadanya.
قُلْ إِنْ أَدْرِي أَقَرِيبٌ مَا تُوعَدُونَ أَمْ يَجْعَلُ لَهُ رَبِّي أَمَدًا ﴿٢٥﴾ عَالِمُ الْغَيْبِ فَلاَ يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا
“Dia (Allah) yang mengetahui ilmu ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan seseorangpun tentang yang ghaib kecuali dari para rasul yang diridhai-Nya”. (Al Jin: 25-26)

Apalagi mengaku dapat berkomunikasi dengan Allah atau para arwah yang ghaib baik lewat suara hatinya atau berhubungan langsung tanpa adanya pembatas adalah kedustaan yang paling dusta. Akal sehat dan fitrah suci pasti menolaknya sambil berkata: “Tidaklah muncul omongan seperti itu kecuali dari orang stres saja”. Kalau ada yang bertanya, lalu suara dari mana itu? Dan siapa yang diajak bicara? Kita jawab, maha benar Allah dari segala firman-Nya:
هَلْ أُنَبِّئُكُمْ عَلَى مَنْ تَنَزَّلُ الشَّيَاطِينُ ﴿٢٢١﴾ تَنَزَّلُ عَلَى كُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ ﴿٢٢٢﴾ يُلْقُونَ السَّمْعَ وَأَكْثَرُهُمْ كَاذِبُونَ ﴿٢٢۳﴾
“Apakah akan Aku beritakan, kepada siapa syaithan-syaithan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi banyak dosa, mereka menghadapkan pendengaran (kepada syaithan) itu, dan kebanyakan mereka orang-orang pendusta”. (Asy Syu’ara: 221-223)

2. Sebagian kaum sufi berkilah dengan pernyataannya bahwa ilmu laduni (Al Kasyaf) merupakan ilham dari Allah (yang diistilahkan wangsit). Dengan dalih hadits Nabi Muhammad:
إِنَّهُ قَدْ كَانَ قَبْلَكُمْ فِيْ الأَمَمِ مُحَدَّثُوْنَ فَإِنْ يَكَنْ فِيْ أُمَّتِي أَحَدٌ فَعُمَر
“Dahulu ada beberapa orang dari umat-umat sebelum kamu yang diberi ilham.
Kalaulah ada satu orang dari umatku yang diberi ilham pastilah orang itu Umar.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Hadits ini sama sekali tidak bisa dijadikan hujjah bagi mereka. Makna dhohir hadits ini, menunjukkan keberadaan ilham itu dibatasi dengan huruf syarat (kalaulah ada). Maksudnya, kalaupun ada pada umat ini, pastilah orang yang mendapatkan ilham adalah Umar Ibnul Khathab. Sehingga beliau digelari al mulham (orang yang mendapatkan ilham). Dan bukan menunjukkan dianjurkannya cari wangsit, seperti petuah tokoh-tokoh tua kaum sufi. Bagaimana mereka bisa memastikan bisikan-bisikan dalam hati itu adalah ilham? Sementara mereka menjauhkan dari majlis-majlis ilmu yang dengan ilmu syar’i inilah sebagai pemisah antara kebenaran dengan kebatilan.

Mereka berkilah lagi: “Ini bukan bisikan-bisikan syaithan, tapi ilmu laduni ini merubah firasat seorang mukmin, bukankah firasat seorang mukmin itu benar? Sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam: “Hati-hati terhadap firasat seorang mukmin. Karena dengannya ia melihat cahaya Allah”. (H.R At Tirmidzi)
Hadits ini dho’if (lemah), sehingga tidak boleh diamalkan. Karena ada seorang perawi yang bernama Athiyah Al Aufi. Selain dia seorang perawi yang dho’if, diapun suka melakukan tadlis (penyamaran hadits).

Singkatnya, ilham tidaklah bisa mengganti ilmu naqli (Al Qur’an dan As Sunnah), lebih lagi sekedar firasat. Ditambah dengan adanya keyakinan-keyakinan batil yang ada pada mereka seperti mengaku mengetahui alam ghaib, merupakan bukti kedustaan diatas kedustaan. Berarti, yang ada pada kaum sufi dengan ilmu laduninya, bukanlah suatu ilham melainkan bisikan-bisikan syaithan atau firasat rusak yang bersumber dari hawa nafsu semata. Disana masih banyak syubhat-syubhat mereka, tapi laksana sarang laba-laba, dengan fitrah sucipun bisa meruntuhkan dan membantahnya.

Hadits-Hadits Dho’if Dan Palsu Yang Tersebar Di Kalangan Umat

Hadits Ali bin Abi Thalib:
عِلْمُ الْبَاطِنِ سِرٌّ مِنْ أَسْرَارِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ ، وَحُكْمٌ مِنْ أَحْكَامِ اللهِ ، يَقْذِفُهُ فِيْ قُلُوْبِ مَنْ يَشَاءَ مِنْ عِبَادِهِ
“Ilmu batin merupakan salah satu rahasia Allah ‘Azza wa Jalla, dan salah satu dari hukum-hukum-Nya yang Allah masukkan kedalam hati hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya”.

Keterangan:
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnul Jauzi di dalam kitab Al Wahiyaat 1/74, beliau berkata: “Hadits ini tidak shahih dan secara mayoritas para perawinya tidak dikenal”. Al Imam Adz Dzahabi berkata: “Ini adalah hadits batil”. Asy Syaikh Al Albani menegaskan bahwa hadits ini palsu. (Lihat Silsilah Adh Dha’ifah no 1227)

(Dikutip dari Buletin Islam Al Ilmu Edisi 31/II/I/1425, diterbitkan Yayasan As Salafy Jember. Judul asli "Tasawuf Dan Ilmu Laduni". Dikirim oleh al Al Akh Ibn Harun via email.)

by Hapsari Wirastuti Susetianingtyas Jan 28, 2009; 04:18pmJan 28, 2009; 04:18pm :: Rate this Message:  

MIMPI. Lima huruf yang nggak sulit diucapkan tapi memiliki makna yang
sangat tinggi. Setiap orang pasti punya mimpi. Mimpi adalah imajinasi,
semangat, harapan, angan, pemikiran, keinginan, tantangan, tujuan.
Siapa yang nggak mau bermimpi maka dia akan hidup tanpa tujuan. Hidup
akan hampa tanpa adanya mimpi, sebagaimana jasad tanpa roh.
Bagaimana
orang itu menentukan mimpi? Hanya dengan melihat, mendengar,
merasakan, memikirkan,..mimpi akan pelan-pelan terbentuk. Membulat
menjadi tekad untuk mewujudkan. Tidak ada yang mudah untuk menggapai
mimpi. Akan banyak hal lalu lalang menghiasi pertaruhan menggapainya.
Tapi apakah setiap mimpi akan terwujud? Usaha dan doalah yang
menentukannya. Karena mimpi adalah warna dari hidup itu sendiri. Jadi
bagaimana kita mengartikan mimpi yang kita miliki?.

Dan inilah salah satu mimpi saya...

Namanya Gunung Semeru. Gunung ini terletak di Malang ke arah selatan
dan Lumajang. Gunung tertinggi di Pulau Jawa dengan ketinggian 3676
meter ini sangat menonjol diantara gugusan Pegunungan Tengger-Semeru
dan disitulah terdapat Puncak Mahameru. Sebuah puncak teragung, puncak
tertiggi tanah jawa. Disebelah barat kita bisa melihat jajaran gunung
Panderman, Arjuno-Welirang, Penanggungan. Agak serong keutara sejurus
hamparan istana hijau TNBTS, dengan gunung Batok dan Bromo sebagai
pusatnya, berada ditengah mengepulkan asap belerangnya. Hingga
pandangan kita tertuju pada puncak gunung Pananjakan. Gunung yang
dalam cerita rakyat disebut sebagai pakubumi tanah Jawa ini termasuk
salah satu gunung paling aktif, hampir tiap hari mengeluarkan asap
atau letusan-letusan sporadis yang keluar dari Kawah Jonggring Saloko,
terutama dipagi dan sore hari. Tapi kalau cuaca buruk, pastinya tidak
akan terlihat.

Untuk pergi ke sana kita harus melewati dulu Ranu Pane dengan
ketinggian 2.200 mdpl. Dari sini perjalanan ke Semeru akan ditempuh
sejauh 17 KM. Naik turun perbukitan selama sekitar 4 jam, kita akan
menemui sebuah hamparan danau yang sangat eksotis, masih alami belum
tersentuh dunia modern. Ranu Kumbolo adalah danau bekas kawah gunung
semeru. Dengan ketinggian 2.300 mdpl. Tidak jauh dari Ranu Kumbolo
kita langsung disuguhi track yang cukup terkenal dan juga terjal
sepanjang 100 M, Tanjakan Cinta. Mitosnya siapa yang mampu melewati
Tanjakan Cinta tanpa behenti, maka kisah cintanya akan mulus.
Turun
dari Tanjakan Cinta, sudah menanti hamparan padang rumput yang cukup
panjang. Kita bisa memilih rute memutari padang rumput ini dengan
jalan menurun atau melewati sepanjang jalan setapak yang mendatar.
Dari sini kita mulai lagi pendakian melalui track naik turun yang
cukup panjang dan melelakan.
Kanan kiri merupakan belantara yang
kering, karena pendakian dilakukan pada musim kemarau. Tapi jika musim
penghujan hutan belantara ini pasti sangat lebat. Setelah melewati
hutan oro-oro ombo, kita akan melewati jalur mendatar lagi yaitu Kali
Mati 2.700 mdpl. Setelah itu masuk hutan Arcopodo. Hutan terakhir
sebelum puncak Mahameru. Track akan langsung mendaki dengan jalanan
yang berdebu. kita akan melewati terjal, berpasir, kering penuh debu.
Perjalanan melewati celah-celah, mungkin dulu bekas kaldera. Terdapat
area yang cukup datar, sehingga banyak digunakan untuk camp terakhir
sebelum pendakian ke puncak. Disini juga terdapat banyak "Nisan" yang
bertulisakan nama-nama pendaki yang gugur sebagai Green Ranger
Indonesia.  Katanya tempat ini sangat indah. (Dari berbagai sumber).

Setelah mendaki dan merayap sejauh 17 KM, sampailah kita dipuncak
Mahameru.
Dan puncak gunung inilah yang selalu menghiasi anggan-anggan
saya.

Regards,
Hapsari Wirastuti Susetianingtyas

ViSiT My BLoG
www.napasbidadari.multiply.com
www.napasbidadari.blogspot.com

Mimpi bisa membuat inspirasi yang menyelesaikan masalah, juga bisa membuat kita tahu bagian mana yang lagi sakit. (GETTY IMAGES)

Mimpi, semenjak ribuan tahun sudah membuat manusia penasaran, di dunia Barat maupun Timur masing-masing memiliki cara untuk menafsirnya. ....
Komentar (0)

 

Soal-Jawab: Kedudukan Firasat Dalam Islam

Ditanya oleh Abu Abdillah as-Sundawy Dijawab oleh Ustadz Zaenal Abidin, Lc. Pertanyaan: Assalaamu’alaikum Warahmatulloh Wabarakatuh Ustadz, bagaimana hukum meyakini intuisi (insting, perasaan)? Karena beberapa kali insting ana sesuai dengan realitas yang ada. Syukron. Wassalaamu’alaikum..

Mimpi Ular

Kamu percaya dengan mimpi? Kalau aku iya. Aku percaya disetiap mimpi yang kita alami pasti ada maknanya. Hanya saja terkadang kita melupakan mimpi tersebut karena haya menganggap ga penting banget.
Paptse pernah bilang kalau kita mau tau mimpi itu ada maknanya atau ga, tergantung dari waktu tidur kita. Kalau kita tidur dibawah jam 12 malam, mimpi yang kita alami cuma mimpi atau fantasi aja (fantasi apa hayo..?). Kalau jam 12 malam – 2 pagi maka kemungkinan mimpi yang teringat jelas setelah bangun itu akan terjadi, atau paling ga asosiasi yang sering diterjemahkan pada buku-buku tabir mimpi terjadi. Nah kalau tidurnya jam 2 – 5 pagi, makna dari mimpi itu bisa kebalikkannya.
Percaya atau ga, tapi apa yang dibilang Paptse bener juga. Beberapa kali aku mengalami mimpi yang menjadi kenyataan (aku tidur diatas jam 12), bahkan terkadang kejadiannya hampir mirip dengan mimpi tersebut. Misalnya waktu aku masih menyusun skripsi, aku pernah bermimpi diuji sidang oleh kajur dan nilainya pun memuaskan. Atau seminggu sebelum tanteku meninggal. Aku melihat acara pernikahan sepupuku berlangsung dengan suasana duka karena tanteku,  ibu dari sepupu yang menikah, meninggal dunia. Dan benar juga, seminggu kemudian akad nikah dilaksanakan di rumah sakit dan tanteku dalam keadaan koma. Paginya tanteku meninggal. Pernikahan tersebut menjadi pernikahan paling sendu yang pernah aku saksikan.
Kebetulan? Oke, aku ceritakan satu mimpi lagi. Pada suatu hari aku bermimpi temanku ada yang marah ketika aku tanya bagaimana hasil sidang skripsinya. Karena aku bingung dengan sikapnya, aku bertanya dengan temanku yang lain. Ternyata oh ternyata dia kecewa dengan nilai yang dia terima, walaupun dia lulus. Seminggu kemudian, setelah sidang terbukti nilainya memang tidak seperti yang dia harapkan, walaupun hasil yang didapat tidak kecil juga. Dia cerita dia bersyukur dapat lulus, tapi tetap ada sedikit kekecewaan mengingat perjuangannya patut diacungi jempol.
Sepertinya aku harus membuat kamus tabir mimpi sendiri. Kebanyakan mimpi yang kualami berbeda makna dengan yang ada dibuku-buku. Seperti misalnya mimpi tentang ular. Orang bilang kalau kita mimpi bertemu ular atau digigit orang, kita akan bertemu dengan jodoh kita. Mungkin itu berlaku untuk kebanyakan orang, tapi tidak untukku. Mimpi tentang ular berarti aku akan mengalami masalah hingga bertengkar dengan orang lain. Contohnya ketika aku mimpi dikejar ular besar sejenis phyton bersama sahabatku. Tidak lama kemudian kami bertengkar hebat hingga sekarang walaupun masalahnya sudah selesai hubungan pertemanan kami tidak seperti dulu. Atau mimpi melihat ular ketika bersama teman-teman di KUM-ITT, dan sekilas ada Paptse yang merengut tidak bersahabat. Dan benar juga karena aku kumpul-kumpul dengan teman KUM-ITT sampai lupa waktu, Paptse marah besar sampai-sampai aku tidak dianggap ada (walaupun cuma beberapa hari). Dan masih banyak lagi contoh lainnya.
Aku pernah membaca disebuah buku untuk bisa manafsirkan sebuah mimpi, kita harus melakukan asosiasi bebas. Untuk ini, kita harus bisa mengingat setiap detail dari mimpi, baik itu orang-orang yang kita temui, tempat, benda atau objek lainnya, serta perasaan selama mimpi itu berlangsung. Misalnya mimpi tentang dikiejar ular tadi. Ular bisa dibilang menjadi lambang segala sesuatu yang jahat, walaupun banyak perusahaan farmasi atau apotek menggunakan lambang ular. Ketika orang bertemu ular pasti hal yang pertama terpikir adalah harus cepat melarikan diri dari bahaya. Maka bisa ular bisa diasosiakan sebagai bahaya. Perhatikan juga detail dari objek, seperti semakin besar ular, makin besar juga bahaya (pertengkaran) yang akan dihadapi. Orang-orang yang ada dalam mimpi tersebut bisa jadi akan menjadi orang yang akan mempunyai masalah dengan kita, menjadi penyebab pertengkaran dengan orang lain, atau orang lain yang tidak kita kenal yang mempunyai kesamaan ciri dengan orang yang kita kenal (terkadang kita sulit mengingat apakah orang dalam mimpi tersebut benar orang yang kita kenal atau orang lain). Perasaan pada waktu mimpi juga penting. Perasaan ngeri dan takut mati ketika bertemu ular bisa diasosiasikan ketakutan akan berpisah dengan orang lain.
Baru-baru ini aku kembali mimpi bertemu ular (selalu mimpi punya masalah dengan orang lain). Kali ini aku bertemu bahkan memegang ular seperti laiknya pawang ular. Ular ini sejenis ular gelang dengan garis warna kuning. Aku melihat ada seorang perempuan tidak jauh dari tempatku. Perasaan yang timbul tentu ketakutan kalau-kalau ular tersebut tiba-tiba menyerang. Walaupun cemas aku berhasil memindahkan ular tersebut sehingga aku dan orang lain menjadi aman.
Aku sudah mencoba melakukan asosiasi bebas. Kemungkinan aku akan mempunyai masalah dengan seorang perempuan (sayangnya aku tidak bisa ingat siapa atau bagaimana ciri-cirinya). Walaupun sekilas tampak menarik (ular dengan belangnya) dan tidak berbahaya, perempuan tersebut memiliki sifat dan sikap yang tidak baik dan mungkin cenderung dominan (ular terkenal memiliki racun yang sangat berbahaya). Aku berhasil memindahkan bahaya sehingga orang lain juga aman, mungkin berarti aku bisa mengatasi perselisihan.
Sampai saat ini aku merasa belum menemui perselisihan yang serius (selama ini cuma sedikit selisih pendapat yang tidak terlalu berarti). Yang pasti, mimpi tersebut membuat aku berhati-hati dalam tiap tindakan jangan sampai aku menemui masalah dengan orang lain.
Rasulullah SAW bersabda bahwa mimpi itu ada 3 sebab (datangnya dari mana) :

1.
Datang dari Allah SWT (mimpi baik)

2. Datang dari Setan (mimpi buruk)

3. Dari bunga tidur (akibat pikiran yang terlalu dalam tentang sesuatu biasanya sebelum tidur)

Mimpi dari Allah SWT disunnahkan menceritakannya pada orang banyak.

Didalam kitab Sahihnya al-Bukhari kitabut ta'bir mengumpulkan kira-kira 99 hadits tentang mimpi, bahkan Imam Muslim mentarjihnya. Dalam hadits -hadits tersebut , sama sekali tidak ada larangan tentang takwil mimpi. Salah satu hadits yang diriwayatkan melalui Abi Said al-Khudry : Rasulullah saw bersabda:

Jika seseorang diantara kalian bermimpi yang ia sukai (mimpi yang baik) sesungguhnya ia datang dari Allah, maka pujilah Allah atasnya dan bicarakanlah mimpi tersebut.........."

Menurut Rasulullah, jika kita ceritakan diharapkan ada malaikat tertentu yang saat itu sedang bertugas di dekat kita dan mendengar cerita kita malaikat akan mengamini artinya mendo'akan itu terjadi. Patut dicatat, bahwa selain yang diajarkan di sekolah-2 tentang beberapa macam malaikat, ada malaikat-2 lain yang sering disebut di hadist, yang mungkin tidak termasuk hafalan jenis malaikat yang kita kenal (yg pernah disebut-2 di salah satu lagu Raihan). Ada malaikat tertentu yang tugasnya hadir di pagi hari, ada yang di sore hari, dsb. Dan jangan lupa, di kanan kiri kita sebetulnya ada dua malaikat pencatat amal baik dan buruk kita. Jadi setidaknya ada beberapa malaikat yang menyaksikan saya mengetik artikel ini atau anda membacanya saat ini. Merekalah yang ikut mengamini jika kita menceritakan mimpi baik kita pada orang lain. Kita tak melihat mereka tapi mereka melihat dan mendengar kita. Jadi ceritakanlah mimpi baik anda pada siapa saja, biarpun yang mendengar tidak terlalu peduli atau bahkan menertawakan mimpi baik anda. Yang penting malaikat mengamini, titik
SmileJanganlah lupa, bukanlah mimpi yang membawa kebaikan bagi anda, tetapi Allah SWT yang memberikan kebaikan. Dia SWT menyampaikan tanda-tandanya lewat mimpi baik ini pada anda. Diceritakan atau tidak,akan terjadi juga kebaikan itu, tetapi alangkah indahnya jika kita ceritakan agar diamini oleh malaikat dan do'a malaikat ini didengar dan dikabulkan oleh Allah SWT. Mungkin saja, kebaikan itu malah bertambah-tambah kan ?

Mimpi dari setan, malah dalam Islam dilarang menceritakannya. Mimpi ini buruk sekali dan seringkali menakutkan. Jika diceritakan, dan ada malaikat yang mengamininya, bisa terjadi kesialan. Ingat : kesialan ini bukan terjadi karena mimpi, tetapi karena Allah SWT mendengar do'a malaikat agar mimpi kita terjadi. Menganggap mimpi penyebab kesialan atau kebahagiaan, adalah termasuk syirik artinya kita menganggap mimpi punya kekuatan membawa kesialan atau kebahagiaan selain Allah, dan ini salah besar.

Mimpi yang nomor 3 bisa dijelaskan secara ilmiah lewat analisa. Banyak buku-2 ilmiah yang menjelaskan mengapa kita mendapat bunga tidur dan bagaimana prosesnya. Namun saya tak akan membicarakan disini karena bukan itu topik yang saya pilih.

Sekali lagi ketiga jenis mimpi itu lebih mungkin terjadi jika ditafsirkan dengan benar, biarpun dari 3 sumber yang berbeda.

Jika Mendapat Mimpi Buruk

Namun karena mimpi buruk itu dilarang menceritakannya, jika kita tak bisa menafsirkannya, jangan bertanya pada siapapun, simpanlah dan berdo'alah. Setelah mendapat mimpi buruk, jika kita sempat terbangun sejenak dari tidur, bacalah A'udzubillahi minasy syaithanirrajiim (Aku berlindung pada Allah SWT dari setan yang terkutuk), lalu meludah 3 kali ke arah kiri dan tidurlah kembali dengan miring menghadap kekanan. Tidur yang baik selain menghadap ke kanan adalah menghadap kiblat. Dan disunnahkan pula sebelum tidur kita mengambil air wudhu', karena ada sebuah hadist yang menyebutkan seandainya nyawa kita diambil saat kita tidur, paling tidak kita sudah dalam keadaan suci dan ini lebih disukai oleh Malaikat Pencabut nyawa.

Mimpi bertemu orang yang telah mati

Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa saat kita tidur, nyawa kita ini seolah-olah dipegang oleh Allah SWT seperti nyawa orang mati.
Dengan kata lain, kita berada di alam/dimensi nyawa/ruh. Jadi jika kita bertemu dengan orang yang telah mati, jangan takut, itu wajar sekali. Biasanya orang yang telah mati tidak berkata-kata dalam mimpi orang lain, tetapi jika itu terjadi berhati-hatilah karena bisa jadi justru mimpi itu berasal dari syetan. Jadi jangan dianggap serius kecuali kata-2 itu bagus.

Mimpi bertemu Rasulullah SAW

Ada pula orang yang mengaku mimpi bertemu dengan Rasulullah SAW. Disini kita mesti waspada. Memang benar Rasulullah SAW bersabda bahwa setan tidak bisa menyerupai Rasulullah SAW di alam ruh/mimpi, jadi jika ada yang mengaku bertemu Rasulullah SAW dalam mimpi berarti memang benar. Tetapi hati-hati dulu. Apakah kita pernah melihat wajah dan tubuh Rasulullah SAW yang sesungguhnya ? Bukankah beliau telah meninggal dunia 1400 tahun yang lalu ? Jadi hadist diatas bisa saja terjadi pada orang-orang yang pernah bertemu / di zaman Rasulullah SAW. Namun bukan tidak mungkin ada seorang yang benar-2 dekat dengan Allah SWT (disebut wali) yang diberi keistimewaan ini (mimpi bertemu Rasulullah SAW).


“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura:30)

“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.” (QS. 4:79)
Kebaikan apa

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Ruum: 41)

Kebaikan apa saja yang kita rasakan baik berupa kenikmatan ataupun keamanan sesungguhnya Allahlah yang telah mengaruniakannya kepada kita. Dialah yang telah memberikan karunia kepada kita (berupa kemudahan untuk bisa melakukan hal-hal yang menyebabkan datangnya kebaikan-kebaikan. Dialah yang telah menyempurnakan kenikmatan bagi kita.
Wahai saudara-saudara kaum muslimin…
Sesungguhnya kebanyakan orang-orang sekarang mengembalikan sebab musibah-musibah yang mereka alami, baik musibah yang menyangkut harta atau yang menyangkut keamanan dan politik, mereka mengembalikan sebab-sebab musibah-musibah ini hanya kepada sebab-sebab alami, materi, atau kepada sebab pergolakan politik, atau sebab perekonomian, atau kepada sebab perselisihan tentang daerah perbatasan antara dua Negara.
Tidak disangsikan lagi, hal ini disebabkan kurangnya pemahaman mereka dan lemahnya iman mereka dan kelalaian mereka dari mentadabburi Al-Qur’an dan sunnah-sunnah Rasulullah.
Wahai saudara-saudaraku kaum muslimin…
Sesungguhnya dibalik semua sebab-sebab materi, alami tersebut adalah sebab syar’I, yang merupakan sebab timbulnya seluruh musibah dan malapetaka. Pengaruhnya lebih kuat, lebih besar, daripada sebab-sebab materi di atas. Sedangkan sebab-sebab materi merupakan sarana timbulnya musibah dan bencana sesuai dengan konsekwensi dari sebab-sebab syar’iyah berupa bencana dan hukuman. Allah berfirman,

Katakanlah:"Dia yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian) kamu kepada keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya). Dan kaummu mendustakannya (azab) padahal azab itu benar adanya. Katakanlah:"Aku ini bukan orang yang diserahi mengurus urusanmu.Untuk tiap-tiap berita (yang dibawa oleh rasul-rasul) ada (waktu) terjadinya dan kelak kamu akan mengetahui.” (QS. Al-An’am: 65-67

“Kami pergi bersama Rasulullah hingga kami melewati sebuah masjid bani Mu’awiyah maka Rasulullahpun masuk dalam masjid tersebut kemudian beliau sholat dua raka’at, maka kamipun sholat bersama beliau. Beliaupun lama bermunajat kepada Allah, setelah itu beliau berkata (kepada kami), “Aku meminta kepada Robku tiga perkara. Aku meminta kepadaNya agar Dia tidak membinasakan umatku dengan meneggelamkan mereka maka Dia mengabulkan permintaanKu. Dan aku meminta kepadaNya agar Dia tidak membinasakan umatku dengan musim kemarau yang berkepenjangan (yaitu sebagaimana yang menimpa kaum Fir’aun) maka Dia mengabulkan permintaanku. Dan aku meminta kepadaNya agar tidak menjadikan mereka saling bertentangan (berperang satu dengan yang lainnya) maka Dia tidak mengabulkan permintaanku”

Wahai hamba-hamba Allah bertakwalah dan takutlah kalian kepada Allah, waspadalah kalian dari sikap melalaikan syari’at Allah…. hati-hatilah kalian dari sikap lalai terhadap ayat-ayat Allah…hati-hatilah kalian dari sikap lalai dari mentadabburi kitabullah (Al-Qur’an)… hati-hatilah kalian terhadap sikap lalai dari mengenal sunnah-sunnah Rasulullah. Sesungguhnya pada Al-Qur’an dan sunnah-sunnah Nabi terdapat sumber kebahagiaan kalian di dunia dan di akhirat jika kalian memegang teguh kepada sunnah-sunnah Nabi dengan membenarkan segala pengkhabaran Rasulullah dan melaksanakan perintah-perintah Rasulullah.

Mungkin ada sebagian orang ragu dan menanamkan keraguan pada orang lain tentang masalah maksiat-maksiat merupakan sebab timbulnya musibah dan bencana. Hal ini karena kelemahan iman dan kurangnya mereka merenungkan kandungan isi Al-Qur’an. Saya akan bacakan kepada mereka dan yang sejenis mereka. Firman Allah (yang artinya): “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?. Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?. Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga) Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi. (QS. Al-A’:99)

“Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui. dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat teguh.” (QS. Al-Qalam: 45)

Diriwayatkan dari Anas ra. Bahwa Rasulullah saw. Bersabda,"kalimat Laa ilaaha illallaah akan selalu memberi manfaat bagi siapa saja yang mengucapkannya dan akan menghindarkan mereka dari adzab dan bencana selama mereka tidak mengabaikan hak-haknya." sahabat bertanya,"Ya Rasulullah, apakah yang dimaksud mengabaikan hak-haknya?" jawab beliau,"kemaksiatan kepada Allah dilakukan secara terang-terangan, tetapi tidak dicegah dan diubah olehnya."(AL-Ashbahani-At Tharghib)

“Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya..”[al-Nuur:31]

Rasulullah bersabda, “Kelak akan ada dari umatku beberapa kaum yang menghalalkan zina, sutra, minuman keras, dan musik” (Shahih Al-Bukhari no 5590, Musnad Imam Ahmad V/342, Sunan Abu Daud no 3688, Sunan Ibnu Majah no 4036)

Simfoni Hari Akhir

x Files October 3rd, 2006
Judul yang mengerikan…
Anyway… bussway… milkyway…
Tahukah kalau sebagian besar ulama Islam mengharamkan musik? Kaget? Tenang dulu. Ga usah demo. Karena sebagian ulama juga ada yang menghalalkannya kok. Tentunya dengan beberapa persyaratan khusus.
Tapi…
Berhubung penulis lebih condong kepada yang melarang penggunaan musik, untuk yang membolehkan cari referensi sendiri ya ^_^.

Sumber Hukum
Dari AlQur’an nih. Sedang tafsirnya cuma dapat yang dari Tafsir Jalalain ma Tafsir Depag (Thx bwt pak Jumadi atas Al Qur’an Elektroniknya ^_^)

Luqman Ayat 6
“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.” (Luqman, ayat 6)

Tafsir Menurut Depag :
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ayat ini diturunkan herhubungan dengan Nadar bin Haris. Ia membeli seorang hamba wanita yang bekerja sebagai penyanyi. Ia menyuruh wanita itu bernyanyi untuk orang yang hendak masuk Islam. Ia berkata kepadanya: "Berilah ia makanan, minuman dan nyanyian". Kemudian ia berkata kepada orang yang akan masuk Islam itu: "Ini adalah lebih baik dari yang diserukan Muhammad kepadamu, yaitu salat, puasa dan berperang membantunya".
Menurut riwayat Muqatil, Nadar bin Haris ini adalah seorang pedagang yang sering pergi ke Persia. Di sana ia membeli kitab-kitab yang bukan bahasa Arab, kemudian isi kitab itu disampaikannya kerpada orang-orang Quraisy, dengan mengatakan: "Jika Muhammad menceriterakan kepadamu kisah kaum Ad dan Samud, maka aku akan menceriterakan kepadamu kisah Rustam dan Isrindiar dan cerita-cerita raja-raja Persia". Kaum musyrikin Quraisy itu sering mendengarkan perkataan Nadar ini, dan berpaling mereka dari mendengarkan Alquran
Ayat ini menerangkan bahwa di antara manusia itu ada yang tidak mengacuhkan perkataan yang bermanfaat, yang dapat menambah keyakinan manusia kepada agama dan memperbaiki budi pekertinya. Mereka lebih suka mengatakan perkataan-perkataan yang tidak ada manfaatnya, menyampaikan khurafat-khurafat, dongengan-dongengan orang purbakala, lelucon-lelucon yang tidak ada artinya, seperti yang dilakukan Nadar bin Haris. Kalau perlu mereka menggaji penyanyi-penyanyi untuk diperdengarkan suaranya kepada orang banyak. Isi nyanyiannya dan suaranya itu dibuat sedemikian rupa sehingga dapat merangsang orang yang mendengarnya, melakukan perbuatan-perbuatan yang dilarang dan berakibat tambah menjauhkan seseorang dari agamanya.
Diriwayatkan dari Nafi’, ia berkata: "Aku berjalan bersama Abdullah bin Umar dalam suatu perjalanan , maka kedengaran-lah bunyi seruling, lalu Umar meletakkan anak jarinya ke lubang telinganya, agar ia tidak mendengar bunyi seruling itu dan ia menyimpang melalui jalan yang lain, kemudian ia berkata: "Ya Nafi", apakah engkau masih mendengar suara itu?". Aku menjawab: "Tidak". Maka ia mengeluarkan anak jarinya dari telinganya dan berkata: "Beginilah aku melihat yang diperbuat Rasulullah saw, jika ia mendengar bunyi semacam itu".
Pada riwayat yang lain dari Abdurrahman bin `Auf, bahwa Rasulullah saw bersabda:
”Aku dilarang (mendengarkan)dua macam suara (bunyi) yang tidak ada artinya dan menimbulkan perbuatan jahat, yaitu suara lagu yang melalaikan dan seruling-seruling setan dan (kedua) suara ketika ditimpa musibah, yaitu yang menampar muka, mengoyak-ngoyak baju dan nyanyian setan.”

Menurut Ibnu Masud, yang dimaksud dengan perkataan "lah wal hadis" dalam ayat ini, ialah nyanyian yang dapat menimbulkan kemunafikan di dalam hati. Sebagian ulama mengatakan bahwa semua suara , perkataan, nyanyian, bunyi-bunyian yang dapat merusak ketaatan kepada Allah dan mendorong orang-orang yang mendengarnya melakukan perbuatan yang terlarang. disebut "lahwal hadis".
Dari ayat dan hadis-hadis di atas dapat diambil kesimpulan bahwa yang dilarang itu ialah mendengarkan nyanyian yang dapat membangkitkan nafsu birahi yang menjurus ke perbuatan zina, seperti nyanyian yang berisi kata-kata kotor, demikian pula nyanyian atau musik yang menyebabkan pendengarnya mengerjakan perbuatan-perbuatan terlarang, seperti minum khamar dan sebagainya.
Mendengar nyanyian atau musik yang tujuannya untuk melapangkan pikiran waktu-waktu istirahat, waktu hari raya tidaklah di larang. Bahkan disuruh mendengarkannya, jika nyanyian atau musik itu mempunyai arti yang baik, menambah iman, memperbaiki budi pekerti, menambah semangat bekerja dan berjuang.

Berkata Qusyairi: "Ditabuh gendang di hadapan Nabi saw, waktu beliau memasuki kota Medinah, lalu Abu Bakar ingin menghentikannya, maka Rasulullah saw berkata: "Biarkanlah mereka menabuh gendang, hai Abu Bakar, hingga orang-orang Yahudi mengetahui bahwa agama kita tidak sempit". Mereka menabuh gendang disertai dengan nyanyian-nyanyian dan syair-syair, di antara bait-baitnya berbunyi: "Nahnu Banatun Najjar. Habbaza Muhammadun min Jar" (kami adalah wanita-wanita Bani Najjar. alangkah baiknya nasib kami, Muhammad menjadi tetangga kami".
Demikian pula Rasulullah saw menyuruh menabuh gendang di waktu melaksanakan walimah suatu perkawinan.

Pada ayat ini Allah SWT menerangkan akibat mendengar dan memperdengarkan nyanyian, musik dan perkataan yang terlarang itu, yaitu mereka akan memperoleh azab yang sangat menghinakan di hari kiamat, akibat perbuatan mereka yang tidak mengindahkan yang hak dan memilih kebatilan, menukar petunjuk dengan dosa.
Al Isra Ayat 64
Dan hasunglah
siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah
terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan
berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka
(Al Isra, ayat 64)

Tafsir Jalalain :
(Dan godalah) bujuklah (siapa yang
kamu sanggupi di antara mereka dengan rayuanmu) dengan ajakanmu melalui
nyanyian dan tiupan serulingmu serta semua seruanmu yang menjurus kepada
perbuatan maksiat (dan kerahkanlah) mintalah bantuan (terhadap mereka dengan
pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki) mereka adalah pasukan yang
berkendaraan dan berjalan kaki dalam keadaan maksiat (dan berserikatlah dengan
mereka pada harta benda) yang diharamkan; seperti hasil dari riba dan rampasan
atau rampokan (dan anak-anak) dari perbuatan zina (dan beri janjilah mereka)
bahwasanya hari berbangkit dan hari pembalasan itu tidak ada. (Dan tidak ada
yang dijanjikan oleh setan kepada mereka) tentang hal-hal tersebut (melainkan
tipuan belaka) kebatilan belaka.

Rasulullah bersabda, “Kelak akan ada dari umatku beberapa kaum yang menghalalkan zina, sutra, minuman keras, dan musik” (Shahih Al-Bukhari no 5590, Musnad Imam Ahmad V/342, Sunan Abu Daud no 3688, Sunan Ibnu Majah no 4036)
Perenungan Pribadi
  • Masjid & mushola hanya rame pas hari Jum’at & hari2 besar Islam saja… Sedangkan klo ada konser, dibela-belain naik pagar…
  • Mayoritas lebih suka denger Peterpan, Ratu, Inul, dll. Sampe2 menitikkan air mata saat mendengar liriknya yang melambungkan angan… Tapi klo dibacakan ayat Al Qur’an dan hadist, banyak yang ngabur… (Perasaan klo jaman dulu yang kabur tuh setannya, deh :D)
  • Mayoritas lebih apal gosip terbaru, kapan lagu baru diluncurkan, dll… Sedangkan profil Rasulullah SAW cuman dianggap cerita orang2 jaman dulu…
  • Lirik lagu mulai jaman Elvis sampe Britney Spears banyak apalnya. Tapi kalo ayat AlQur’an? Hapal juz 30 aja dah luar biasa…
Bener2 bingung… Apakah manusia sudah lupa akan kebesaran Tuhan yang maha pengasih lagi maha penyayang?
Sebagaimana firman Allah.

“Artinya : Dan tidaklah Kami memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakut-nakuti” [Al-Israa : 59]

FirmanNya

“Artinya : Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu benar. Dan apakah Rabb-mu tidak cukup (bagi kamu), bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu” [Fushilat : 53]

“Artinya : Katakanlah (Wahai Muhammad) : “Dia (Allah) Maha Berkuasa untuk mengirimkan adzab kepada kalian, dari atas kalian atau dari bawah kaki kalian, atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan), dan merasakan kepada sebagian kalian keganasan sebahagian yang lain” [Al-An’am : 65]

Jelaslah, bahwa musibah-musibah yang terjadi pada masa-masa ini di beberapa tempat termasuk ayat-ayat (tanda-tanda) kekuasaan yang digunakan untuk menakut-nakuti para hambaNya. Semua yang terjadi di alam ini, (yakni) berupa gempa, longsor, banjir dan peritiwa lain yang menimbulkan bahaya bagi para hamba serta menimbulkan berbagai macam penderitaan, disebabkan oleh perbuatan syirik dan maksiat. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

“Artinya : Dan musibah apa saja yang menimpa kalian, maka disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah mema’afkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” [Asy-Syuura : 30]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Artinya : Nikmat apapun yang kamu terima, maka itu dari Allah, dan bencana apa saja yang menimpamu, maka itu karena (kesalahan) dirimu sendiri” [An-Nisaa : 79]

Tentang umat-umat terdahulu, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu krikil, dan diantara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur (halilintar), dan diantara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri” [Al-Ankabut : 40]

“Artinya : Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” [Al-A’raaf : 96]

“Artinya : Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat, Injil dan (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada mereka dari Rabb-nya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka” [Al-Maidah : 66]

“Artinya : Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggahan naik ketika mereka sedang bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari adzab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari adzab Allah kecuali orang-orang yang merugi” [Al-A’raaf : 97-99]

”Artinya : Jika kalian melihat hal itu, maka segeralah berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla, berdo’a dan beristighfar kepadaNya” [2]

Disunnahkan juga menyayangi fakir miskin dan bershadaqah kepada mereka. Berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam.

”Artinya : Kasihanilah, niscaya kalian akan dikasihani” [3]

Kategori Nasehat

Nasehat Dalam Menghadapi Musibah ; Gemba Bumi Dan Bencana Alam

Selasa, 6 Februari 2007 02:45:14 WIB

NASEHAT DALAM MENGHADAPI MUSIBAH ; GEMPA BUMI DAN BENCANA ALAM


Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Sesungguhnya Allah Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui terhadap semua yang dilaksanakan dan ditetapkan. Sebagaimana juga Allah Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui terhadap semua syari’at dan semua yang diperintahkan. Allah menciptakan tanda-tanda apa saja yang dikehendakiNya, dan menetapkannya untuk menakut-nakuti hambaNya. Mengingatkan terhadap kewajiban mereka, yang merupakan hak Allah Azza wa Jalla. Mengingatkan mereka dari perbuatan syirik dan melanggar perintah serta melakukan yang dilarang.

Sebagaimana firman Allah.

“Artinya : Dan tidaklah Kami memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakut-nakuti” [Al-Israa : 59]

FirmanNya

“Artinya : Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu benar. Dan apakah Rabb-mu tidak cukup (bagi kamu), bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu” [Fushilat : 53]

Allah Aza wa Jalla berfirman.

“Artinya : Katakanlah (Wahai Muhammad) : “Dia (Allah) Maha Berkuasa untuk mengirimkan adzab kepada kalian, dari atas kalian atau dari bawah kaki kalian, atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan), dan merasakan kepada sebagian kalian keganasan sebahagian yang lain” [Al-An’am : 65]

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari di dalam Shahih-nya dari Jabir bin Abdullah Radhiallahu ‘anhu , dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,dia (Jabir) berkata : “sifat firman Allah Azza wa Jalla “ Qul huwal al-qaadiru ‘alaa an yab’atsa ‘alaikum ‘adzaaban min fawuqikum” turun, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a : “Aku berlindung dengan wajahMu”, lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan (membaca) “ Awu min tajti arjulikum”, Rasulullah berdo’a lagi, “Aku berlindung dengan wajahMu” [1]

Diriwayatkan oleh Abu Syaikh Al-Ashbahani dari Mujtahid tentang tafsir ayat ini : “Qul huwal al-qaadiru ‘alaa an yab’atsa ‘alaikum ‘adzaaban min fawuqikum”. Beliau mengatakan, yaitu halilintar, hujan batu dan angin topan. ““ Awu min tajti arjulikum”, gempa dan tanah longsor.

Jelaslah, bahwa musibah-musibah yang terjadi pada masa-masa ini di beberapa tempat termasuk ayat-ayat (tanda-tanda) kekuasaan yang digunakan untuk menakut-nakuti para hambaNya. Semua yang terjadi di alam ini, (yakni) berupa gempa, longsor, banjir dan peritiwa lain yang menimbulkan bahaya bagi para hamba serta menimbulkan berbagai macam penderitaan, disebabkan oleh perbuatan syirik dan maksiat. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

“Artinya : Dan musibah apa saja yang menimpa kalian, maka disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah mema’afkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” [Asy-Syuura : 30]


Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Artinya : Nikmat apapun yang kamu terima, maka itu dari Allah, dan bencana apa saja yang menimpamu, maka itu karena (kesalahan) dirimu sendiri” [An-Nisaa : 79]

Tentang umat-umat terdahulu, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu krikil, dan diantara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur (halilintar), dan diantara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri” [Al-Ankabut : 40]

Maka wajib bagi setiap kaum Muslimin yang mukallaf dan yang lainnya, agar bertaubat kepada Allah Azza wa Jalla, konsisten diatas diin (agama)Nya, serta waspada terhadap semua yang dilarang, yaitu berupa perbuatan syirik dan maksiat. Sehingga, mereka selamat dari seluruh bahaya di dunia dan akhirat, serta Allah menolak semua adzab dari mereka, dan menganugrahkan kepada mereka segala jenis kebaikan. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” [Al-A’raaf : 96]

Allah Azza wa Jalla berfirman tentang Ahli Kitab.

“Artinya : Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat, Injil dan (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada mereka dari Rabb-nya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka” [Al-Maidah : 66]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggahan naik ketika mereka sedang bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari adzab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari adzab Allah kecuali orang-orang yang merugi” [Al-A’raaf : 97-99]

Al-Alamah Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan : ”Pada sebagian waktu, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan ijin kepada bumi untuk bernafas, lalu terjadilah gempa yang dahsyat. Dari peristiwa itu, lalu timbul rasa takut pada diri hamba-hamba Allah, taubat dan berhenti dari perbatan maksiat, tunduk kepada Allah dan penyesalan. Sebagaimana perkataan ulama Salaf, pasca gempa. ”Sesungguhnya Rabb kalian mencela kalian”, Umar bin Khaththab Radhiyallahu ’anhu, pasca gemba di Madinah menyampaikan khutbah dan nasihat ; beliau Radhiyallahu ’anhu mengatakan, ”Jika terjadi gempa lagi, saya tidak akan mengijinkan kalian tinggal di Madinah”. Selesai perkataan Ibnul Qayyim rahimahullah-.

Atsar-atsar dari Salaf tentang hal ini sangat banyak. Maka saat terjadi gempa atau peristiwa lain, seperti gerhana, angin ribut atau banjir, wajib segera bertaubat kepada Allah Azza wa Jalla, merendahkan diri kepadaNya dan memohon afiyah kepadaNya, memperbanyak dzikir dan istighfar. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam ketika terjadi gerhana.

”Artinya : Jika kalian melihat hal itu, maka segeralah berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla, berdo’a dan beristighfar kepadaNya” [2]

Disunnahkan juga menyayangi fakir miskin dan bershadaqah kepada mereka. Berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam.

”Artinya : Kasihanilah, niscaya kalian akan dikasihani” [3]

Sabda Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam.

”Artinya : orang yang menebar kasih sayang akan disayang oleh Dzat Yang Maha Penyayang. Kasihinilah yang di muka bumi, kalian pasti akan dikasihani oleh (Allah) yang di atas langit” [4]

Sabda Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam.

”Artinya : Orang yang tidak memiliki kasih sayang, pasti tidak akan disayang” [5]

Diriwayatkan dari Umar bin Abdul Aziz rahimahulah, bahwa saat terjadi gempa, dia menulis surat kepada pemerintah daerah agar bershadaqah.

Diantara faktor terselamatkan dari segala keburukan, yaitu pemerintah segera memegang kendali rakyat dan mengharuskan agar konsisten dengan al-haq, menerapkan hukum Allah Azza wa Jalla, di tengah-tengah mereka, memerintahkan kepada yang ma’ruf serta mencegah kemungkaran.
Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla.

”Artinya : Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka ta’at kepada Allah dan RasulNya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijakasana” [At-Taubah : 71]

Allah berfirman.

”Artinya : Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa,(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar ; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan” [Al-Hajj : 40-41]

Allah Azza wa Jalla berfirman.

”Artinya : Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya” [Ath-Thalaaq : 2-3]

Ayat-ayat tentang ini sangat banyak.

Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda.

”Artinya : Barangsiapa menolong saudaranya, maka Allah Azza wa Jalla akan menolongnya” [Muttafaq ’Alaih] [6]

Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda.

”Artinya : Barangsiapa yang membebaskan satu kesusahan seorang mukmin dari kesusahan-kesusahan dunia, maka Allah Azza wa Jalla akan melepaskannya dari satu kesusahan di antara kesusahan-kesusahan akhirat. Barangsiapa memberikan kemudahan kepada orang yang kesulitan, maka Allah akan memudahkan dia di dunia dan akhirat. Barangsiapa yang menutup aib seorang muslim, maka Allah Azza wa Jalla akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Dan Allah Azza wa Jalla akan selalu menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya” [Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya] [7]

Hadits-hadits yang semakna ini banyak.

Hanya kepada Allah kita memohon agar memperbaiki kondisi kaum Musimin, memberikan pemahaman agama dan menganugrahkan kekuatan untuk istiqomah, segera bertaubat kepada Allah Azza wa Jalla dari semua perbuatan dosa. Semoga Allah memerbaiki kondisi para penguasa kaum Muslimin, semoga Allah menolong al-haq melalui mereka serta menghinakan kebathilan, membimbing mereka untuk menerapkan syari’at Allah Azza wa Jalla atas para hamba.
Dan semoga Allah melindungi mereka dan seluruh kaum Muslimin dari fitnah dan jebakan setan yang menyesatkan. Sesungguhnya Allah Maha Berkuasa untuk hal itu.

[Majmu Fatawa wa Maqaalaat Mutanawwi’ah IX/148-152]


Dan tidaklah Allah akan mengazab mereka, sedang engkau (wahai Muhammad)
berada diantara mereka, dan tidaklah Allah akan mengazab mereka, sedang
mereka senantiasa istighfar minta ampun" (Al-Anfal 4.33).

Menurut Ibnu Abbas r.a. Ayat ini menjelaskan ada dua benteng yang dapat
menyelamatkan kita dari bencana dan musibah yang besar, pertama adalah
keberadaan Rasulullah saw. ditengah umatnya. Karena kemuliaan Rasulullah
saw. maka Allah berjanji tidak akan mengazab umatnya dihadapan mata
kepalanya. Kedua adalah benteng istighfar, minta ampun dan tobat kepada
Allah swt. Selanjutnya kata Ibn Abbas benteng pertama sudah tidak ada lagi
(dengan wafatnya Rasulullah saw), maka tinggal satu lagi benteng yang
menyelamatkan kita dari bencana dan musibah. Yaitu benteng istighfar dan
minta ampun, tobat kepada Allah swt. (Tafsir Ar-Razi 15:158)

Istighfar akan ada artinya kalau diucapkan secara konsekwen, dengan arti
kata diikuti dengan tindak lanjut meninggalkan segenap dosa yang pernah
dilakukan dan bertekat tidak akan mengulanginya lagi. Istighfar tidak akan
ada artinya kalau sekedar ucapan dilidah, namun dosa tetap juga berlanjut.

Istighfar dan tobat merupakan benteng utama yang akan menyelamatkan
seseorang dari bencana dan musibah, karena pada umumnya bencana dan musibah
itu timbul adalah akibat dari dosa manusia, Allah swt. berfirman :

"Dan apa saja musibah yang menimpa dirimu, maka adalah disebabkan karena
dosa-dosamu, dan Allah memaafkan sebahagian dari dosa-dosamu" (As-Syura
42:30).

"Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang
dahulunya aman lagi tenteram, rezki datang melimpah ruah dari segenap
penjuru, tetapi (penduduk) nya kufur pada ni'mat-ni'mat Allah; karena itu
Allah menimpakan kepada mereka bahaya kelaparan dan ketakutan, disebabkan
apa yang mereka perbuat" (An-Nahl 16:112).

"Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan
kepada orang-orang yang suka hidup mewah (berfoya-foya) dinegeri itu agar
ta'at kepada Allah swt. namun mereka melakukan kedurhakaan (kefasikan) dalam
negeri itu. maku sepantasnya berlaku pada mereka ketetapan hukum, maka Kami
hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya" (Al-lsra' 17).

"Adapun orang-orang yang diberikan kitabnya dari belakang. Maka dia akan
berteriak histeris: "Celakalah aku!". Dan dia akan masuk neraka yang
bernyala-nyala. Sesungguhnya dia dahulu didunia suka hidup bergembira ria.
Sesungguhnya dia menyangka tidak akan kembali kepada Tuhannya" (Al-Insyiqaaq
84; 10-14)

"Dan tidaklah Tuhanmu akan membinasakan suatu negeri secara zalim sedang
penduduk negeri itu senantiasa melakukan perbaikan (amar ma'ruf)" (Hud
11:117).

"Menurut keterangan Hudzaifah bin Yaman, bahwa Rasulullah saw. Pernah
bersabda: "Demi Yang diriku ditanganNya, hendaklah kamu menegakkan yang
ma'ruf dan hendaklah kamu mencegah yang mungkar, atau akan datang masanya
Allah menurunkan hukuman (bencana) kepadamu, lalu kamu berdo'a namun Allah
tidak akan memperkenankan do'amu itu" (HR. Ahmad & Turrmudzi)

"Dan tidaklah Kami membinasakan suatu negeri melainkan apabila penduduk
negeri itu berlaku zhalim" (Al-Qashah 28:59).

"Betapa banyak negeri yang Kami binasakan penduduknya karena mereka berbuat
zhalim, maka tembok-tembok negeri itupun roboh menutupi atapnya, dan betapa
banyak pula sumur-sumur yang telah ditinggalkan, demikian juga istana-istana
yang megah (pun ditinggalkan)" (Al-Haj 22: 45).

Yang dimaksud dengan kezhaliman dalam ayat-ayat diatas selain penganiayaan
atau tindakan sewenang wenang yang berkuasa terhadap rakyat, atau
kesewenangan yang kaya terhadap orang miskin, orang yang kuat terhadap yang
lemah, menurut terminologi Al-Qur'an kemusyrikan juga termasuk kezhaliman,
bahkan termasuk induk kemusyrikan sebagaimana wasiat Luqmanul Hakim pada
anakknya:

Demikian juga perbuatan maksiat dan dosa-dosa besar umumnya termasuk
kezhaliman; karena mereka yang melakukan kemaksiatan dan dosa-dosa besar
secara tidak lansung telah melakukan kezhaliman terhadap dirinya sendiri
dengan menjatuhkannya kejurang kebinasaan dunia dan akhirat.

  1. Menurut Anas r.a. Rasulullah sering dalam menghadapi bencana membaca:

    "Yaa hayyu yaa qayyuumu birahmatika astaghiisyu"

    Artinya:
    Wahai Yang Maha Hidup. Wahai Yang Maha berdiri sendiri. Aku mohonkan
    pertolongan-Mu dengan segera (HR.Turmudzi & Hakim)
  2. Artinya:
    Siapa yang menibaca ayat kursi dan akhir-akhir surat Albaqarah ( ayat
    284-286) dalam menghadapi bencana maka Allah akan menolongnya (HR.Ibnu
    Sinni).

CARA MENYELAMATKAN DIRI DARI BENCANA & MUSIBAH
MENURUT AL-QUR'AN & SUNNAH

Oleh :
Dr. H. Sahairy Ilyas, MA.

Sudah merupakan sunnatullah bahwa kehidupan manusia di dunia ini tidak
pernah luput dari pada cobaan, bencana dan musibah dengan segala macam
bentuknya, mulai dari bencana ketakutan karena adanya hura-hara dan bencana
alam, bencana kelaparan karena kekurangan makanan akibat kemarau yang
berkepanjangan atau kemiskinan yang berlebihan sampai dengan musibah
kematian dengan cara yang biasa sampai dengan yang mengerikan (QS.2:155).

Namun mereka yang diberi Allah jiwa sabar tidak akan merasa kesedihan yang
berlebihan, apalagi sampai stres karena adanya bencana dan musibah
tersebut. Jiwa yang sabar adalah jiwa yang menyadari dan meyakini sepenuhnya
bahwa bencana dan musibah itu semuanya adalah taqdir dari Allah Yang Kuasa;
dan tidak akan dapat dihadapi kecuali dengan mengembalikan kepada-Nya dan
memohonkan perlindungan dengan maghfirah dan belaian kasih sayang Rahman dan
RahimNya. (QS.2:156).

Bagaimanapun besarnya bencana dan musibah yang ditaqdirkanNya, namun ada
saja diantara hamba-hambaNya yang mendapatkan perlindunganNya sehingga
mereka selamat dari ancaman bencana dan musibah tersebut. Bagaimanapun hebat
dan dahsyatnya badai topan dan banjir yang melanda umat nabi Nuh a.s. namun
Nabi Nuh dan umatnya yang setia dan ta'at kepadanya senantiasa beristighfar
memohon perlindungan Allah swt. akhirnya diselamatkan Allah dari banjir
yang dansyat itu.

Bagaimanapun gencarnya Fir'aun dan balatentaranya mengejar Musa a.s. dan
para sahabat setianya, namun akhirnya yang binasa bukanlah Musa dan umatnya,
akan tetapi sebaliknya Fir'aun dan tentaranya yang binasa ditelan lautan
yang dalam. Demikianlah sunnatullah telah berbicara dengan lisanaul hal
bahwa mereka yang senantiasa ta'at, tunduk dan patuh kepada Allah dan
RasulNya serta menjauhkan diri
dari tingkah laku yang mengundang kemurkaanNya akan senantiasa diselamatkan
Allah dari bencana dan musibah yang bagaimanapun besarnya.

Dalam Al-Quran dan Sunnah kita akan menemukan beberapa isyarat dan petunjuk
yang dapat menyelamatkan kita dari bencana dan musibah tersebut dengan izin
dan limpahan Rahmat Allah Yang Maha Kuasa: antara lain kita kutipkan:

1. ISTIGHFAR DAN TAUBAT

Mereka yang senantiasa beristighfar dan minta ampun bertobat kepada Allah
dari segenap dosa yang dilakukannya, baik secara sadar ataupun tidak akan
senantiasa mendapatkan perlindungan Allah swt. dari bencana dan musibah.
Allah swt berfirman :

"Dan tidaklah Allah akan mengazab mereka, sedang engkau (wahai Muhammad)
berada diantara mereka, dan tidaklah Allah akan mengazab mereka, sedang
mereka senantiasa istighfar minta ampun" (Al-Anfal 4.33).

Menurut Ibnu Abbas r.a. Ayat ini menjelaskan ada dua benteng yang dapat
menyelamatkan kita dari bencana dan musibah yang besar, pertama adalah
keberadaan Rasulullah saw. ditengah umatnya. Karena kemuliaan Rasulullah
saw. maka Allah berjanji tidak akan mengazab umatnya dihadapan mata
kepalanya. Kedua adalah benteng istighfar, minta ampun dan tobat kepada
Allah swt. Selanjutnya kata Ibn Abbas benteng pertama sudah tidak ada lagi
(dengan wafatnya Rasulullah saw), maka tinggal satu lagi benteng yang
menyelamatkan kita dari bencana dan musibah. Yaitu benteng istighfar dan
minta ampun, tobat kepada Allah swt. (Tafsir Ar-Razi 15:158)

Istighfar akan ada artinya kalau diucapkan secara konsekwen, dengan arti
kata diikuti dengan tindak lanjut meninggalkan segenap dosa yang pernah
dilakukan dan bertekat tidak akan mengulanginya lagi. Istighfar tidak akan
ada artinya kalau sekedar ucapan dilidah, namun dosa tetap juga berlanjut.

Istighfar dan tobat merupakan benteng utama yang akan menyelamatkan
seseorang dari bencana dan musibah, karena pada umumnya bencana dan musibah
itu timbul adalah akibat dari dosa manusia, Allah swt. berfirman :

"Dan apa saja musibah yang menimpa dirimu, maka adalah disebabkan karena
dosa-dosamu, dan Allah memaafkan sebahagian dari dosa-dosamu" (As-Syura
42:30).

Menyadari bahwa istighfar merupakan benteng penyelamat dari bencana dan
musibah, maka nabi Adam as. serta isterinya Hawa begitu terusir dari surga
dan dibuang kedunia karena melanggar larangan Allah swt. langsung bertobat
kepada Allah swt. dengan isitighfarnya yang terkenal:

"Ya Tuhan kami, kami telah zalim terhadap diri kami sendiri jika engkau
tidak berkenan mengampuni kami dan melimpahkan rahmat pada kami niscaya
pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi" (Al-A'raf 7:23).

Demikian juga nabi Yunus, waktu difonis Allah dipenjarakan dalam perut ikan,
maka beliau langsung beristighfar dengan do'a istighfar beliau yang
terkenal:

"Dan ingatlah ketika Dzunnun (Yunus as.), ketika ia pergi dalam keadaan
marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya
(menyulitkannya), maka iapun berdo'a dalam keadaan sangat gelap (dalam perut
ikan): Bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau (Ya Allah), Maha
Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim. Maka Kami
telah memperkenankan do'anya, dan menyelamatkannya dari kesusahan (dalam
perut ikan), dan demikianlah caranya Kami menolong orang-orang yang beriman"
(Al-Anbiyak 21: 87-88)

2. MENINGKATKAN IMAN DAN TAQWA

Meningkatkan Iman dan Taqwa merupakan benteng yang dapat menyelamatakan kita
dari bencana dan musibah dan akan membawa kita kepada kehidupan yang penuh
berkat, Allah berfirman :

"Kalau penduduk suatu negeri senantiasa beriman dan bertaqwa, niscaya akan
Kami bukakan bagi mereka pintu keberkatan dari langit dan bumi, namun
apabila mereka mendustakan (ayat-ayat) Kami, maka Kami akan menyiksa mereka
karena tingkah laku mereka itu" (Al-A'raf 7:96)

Meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah swt. adalah dengan
melaksanakan "segenap perintahNya dan meninggalkan segenap laranganNya yang
termaktub dalam kitab suciNya dengan penuh keta'atan; Sebaliknya apabila
iman dan taqwa hanya tinggal dimulut, sedang tingkah lakunya sehari hari
bertentangan dengan ayat-ayatNya, hal demikianlah yang dimaksud mendustakan
ayat-ayat ayatNya, dan mereka yang mendustakan ayatNya itulah yang diancam
akan medapatkan bencana dan musibah sebagai akibat dari tingkah lakunya
tersebut.

3. MENSYUKURI NIKMAT ALLAH DAN MENJAUHKAN DIRI DARI
KUFUR NIKMAT

Mensyukuri nikmat Allah akan membawa berkat dalam kehidupan dan sekaligus
merupakan benteng yang akan menyelamatkan seseorang dari bencana dan
musibah, sebaliknya kufur terhadap nikmat Allah akan menigundang siksaan
yang sangat dahsyat dari Allah karena bencana dan musibah yang
diturunkanNya, Allah berfirman :

"Dan ingatlah ketika Tuhan mu memaklumkan: Sungguh jika kamu mensyukuri
nikmatKu, niscaya akan aku tambah (nikmat) pada mu, dan jika kamu kufur pada
nikmat yang Aku berikan, niscaya azabku sangat pedih" (Ibrahim 14:7)

Mensyukuri nikmat Allah dengan mendekat diri kepadaNya, semakin banyak
nikmat Allah yang diterima semakin meningkat pula ibadat kepada Nya.
Mensyukuri nikmat Allah juga dengan mempergunakan segenap nikmat Allah hanya
untuk hal hal yang diredhaiNya saja.

Kufur nikmat adalah, semakin banyak nikmat Allah yang diterima semakin jauh
pula dia dari Allah, kufur nikmat artinya juga mempergunakan nikmat
pemberian Allah hanya untuk kepuasan hawa nafsu, bukan buat hal hal yang
diredhai Allah saja.

Dalam Al-Quran Allah menggambarkan suatu negeri yang penuh dengan nikmatNya,
akan tetapi karena penduduk negeri tersebut kufur terhadap nikmat Allah maka
negeri itupun akhirnya ditimpa bencana dan musibah, seperti yang difirmankan
Allah di dalam Al-Qu'an:

"Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang
dahulunya aman lagi tenteram, rezki datang melimpah ruah dari segenap
penjuru, tetapi (penduduk) nya kufur pada ni'mat-ni'mat Allah; karena itu
Allah menimpakan kepada mereka bahaya kelaparan dan ketakutan, disebabkan
apa yang mereka perbuat" (An-Nahl 16:112).

4. MENJAUHKAN DIRI DARI HEDONISME

Gaya kehidupan Hedonisme yang hanya mengejar kemewahan materi, hidup glamour
penuh gembira ria sepanjang hari dengan aneka ragam hiburan yang mengundang
maksiat akan mengundang kemurkaan Allah dan menimbulkan bencana serta
musibah yang menghancur leburkan suatu negeri. Sebagaimana diperingatkan
Allah dalam Al-Qur'anul Karim:

"Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan
kepada orang-orang yang suka hidup mewah (berfoya-foya) dinegeri itu agar
ta'at kepada Allah swt. namun mereka melakukan kedurhakaan (kefasikan) dalam
negeri itu. maku sepantasnya berlaku pada mereka ketetapan hukum, maka Kami
hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya" (Al-lsra' 17).

Karena itu, menjauhkan diri dari gaya kehidupan yang berbau hedonisme yang
hanya mengejar kepuasan hawa nafsu semata, akan menyelamatkan kita dari
bencana dan musibah dengan lindungan Rahmat Allah swt.

Al-Qur'an menggambarkan diantara penyebab dimasukkannya seseorang kedalam
neraka kelak adalah kehidupan mereka yang suka berfoya foya dan bergembira
ria dengan beraneka hiburan dan tontonan mengejar kepuasan hawa nafsu
belaka, senda gurau tanpa batas, sementara ibadah mereka abaikan, Allah
berfirman :

"Adapun orang-orang yang diberikan kitabnya dari belakang. Maka dia akan
berteriak histeris: "Celakalah aku!". Dan dia akan masuk neraka yang
bernyala-nyala. Sesungguhnya dia dahulu didunia suka hidup bergembira ria.
Sesungguhnya dia menyangka tidak akan kembali kepada Tuhannya" (Al-Insyiqaaq
84; 10-14)

"Apa sebab kamu sampai masuk neraka saqar? Mereka menjawab" Karena dahulunya
kami tidak termasuk orang yang mengerjakan shalat. Dan kami tidak pula
memberi makan orang miskin. Dan kami suka berbicara yang bathil, bersama
dengan orang yang membicarakannya. Dan kami juga mendustakan hari
pembalasan. Sehingga datanglah pada kami kematian" (Al-Mudatsir 74:42-47)

5. MENEGAKKAN AMAR MA'RUF

Menegakkan da'wah amar ma'ruf, mengajak "manusia untuk mengamalkan ayat-ayat
Allah, menegakkan yang haq, bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga
mengajak orang-orang sekitanya merupakan salah satu benteng pengaman dari
bencana dan musibah akibat kemurkaan Allah swt.

Allah tidak akan membinasakan suatu negeri apabila dalam negeri tersebut
masih terdapat orang-orang yang punya kepedulian da'wah, mengajak
masyarakatnya untuk menegakkan syari'at secara kaaffah, Allah berfirman :

"Dan tidaklah Tuhanmu akan membinasakan suatu negeri secara zalim sedang
penduduk negeri itu senantiasa melakukan perbaikan (amar ma'ruf)" (Hud
11:117).

6. MENCEGAH KEMUNGKARAN

Disamping menegakkan yang ma'ruf, mencegah kemungkaran atau kemaksiatan
ditengah masyarakat merupakan salah satu benteng yang akan menyelamatkan
kita dari bencana dan musibah, Allah berfirman :

"Dikutuki Allah orang-orang kafir dari Bani lsrail dengan lisan Daud dan Isa
bin Maryam. Yang demikian itu karena kedurhakaan mereka dan tingkah laku
mereka yang melampaui batas. Mereka tidak punya kepedulian untuk niencegah
kemungkaran yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu
mereka perbuat" (Al-Maidah 5: 78-79)

"Menurut keterangan lbnu Mas'ud r.a. Rasulullah saw. pernah bersabda:
Sesungguhnya awal kerusakan Bani Israil adalah tatkalah seseorang bertemu
dengan seseorang (pelaku kemungkaran/maksiat), dengan spontan iapun
menegurnya: "Takutlah kamu pada kemurkaan Allah ! Tinggalkanlah perbuatan
mungkarmu ini! karena perbuatan itu tidak halal untuk engkau kerjakan!" Lalu
keesokan harinya mereka bertemu lagi; dilihatnya orang itu masih mengerjakan
kemungkaran itu juga, namun tidak lagi ditegurnya, bahkan mereka ikut
bergaul, sama-sama makan dan sama-sama minum. Setelah mereka berbuat yang
demikian, mulailah Allah memecahkan hati sesama mereka (terjadi perpecahan
sesama mereka). Lalu Rasulullah saw. membacakan ayat: Dikutuki Allah
orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan (pada zaman)Daud dan Isa bin
Maryam dst. Sampai dengan: "akan tetapi kabanyakan meraka fasik" (ayat
78-81). Kemudian Rasulullah saw. bersabda: Sungguh demi Allah! Hendaklah
kamu mengajak kepada yang ma'ruf dan hendaklah kamu mencegah kemungkaran,
kemudian hendaklah kamu tarik tangan orang-orang yang zalim. Tariklah tangan
itu menuju yang haq, dan tariklah tangan itu dengan sungguh-sungguh, dan
hendaklah kamu berusaha menegakkan yang haq secepat cepatnya, atau kalau
kamu tidak mau, sesungguhnya akan dipukulkan (dipecahkan) hati sesama kamu,
kemudian Allah akan mengutuki kamu semuanya seperti mereka (Bani Israil)
yang telah dikutuki itu" (HR.Abu Daud & Turmudzi).

"Menurut keterangan Hudzaifah bin Yaman, bahwa Rasulullah saw. Pernah
bersabda: "Demi Yang diriku ditanganNya, hendaklah kamu menegakkan yang
ma'ruf dan hendaklah kamu mencegah yang mungkar, atau akan datang masanya
Allah menurunkan hukuman (bencana) kepadamu, lalu kamu berdo'a namun Allah
tidak akan memperkenankan do'amu itu" (HR. Ahmad & Turrmudzi)

"Menurut keterangan Aisyah ra. Saya pernah mendengar Rasulullah saw.
besabda: "Tegakkanlah yang ma'ruf dan cegahlah kemungkaran sebelum datang
masanya kamu berdo'a namun tidak diperkenankan Allah do'amu" (HR.Ibmu
Majah).

Ayat-ayat dan hadits-hadits diatas menjelaskan bahwa apabila suatu
masyarakat tidak punya kepedulian lagi untuk mencegah kemungkaran dan
kemaksiatan ditengah masyarakat, maka Allah swt. Mengancam akan menurunkan
bencana atau musibah sebagai hukuman bagi mereka. Bahkan apabila bencana itu
datang, lalu mereka berdo'a mohon perlindungan Allah, maka Allah swt. Tidak
akan mendengarkan do'a mereka, apalagi memperkenankannya. Sebaliknya apabila
suatu masyarakat mempunyai kepedulian yang tinggi untuk mencegah kemungkaran
kemaksiatan dan kekufuran, sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing,
maka masyarakat tersebut akan terpelihara dari ancaman bencana dan musibah.

7. MENCEGAH KEZALIMAN

Kezhaliman merupakan salah satu pemicu kemurkaan Allah swt. karena Allah
swt. sangat membenci kezhaliman. Dalam sebuah hadist kudsi Allah swt.
berfirman :

"Wahai hambaku! Sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezhaliman pada diriKu,
dan Akupun mengharamkan untuk sesama kamu, maka janganlah kamu saling
menzhalimi" (HR.Muslim dari Abi Dzar al-Ghifariy).

Karena Allah swt, sangat membenci dan bahkan mengharamkan kezhaliman, maka
Dia mengancam akan menghancurkan suatu negeri apabila negeri itu dipenuhi
kezhaliman. Karena itu sebaliknya menjauhkan diri dari kezaliman merupakan
salah satu benteng untuk memelihara diri dan masyarakat dari kemurkaan Allah
swt yang mengakibatkan timbulnya bencana dan musibah yang menghancurkan
suatu negeri.

"Dan tidaklah Kami membinasakan suatu negeri melainkan apabila penduduk
negeri itu berlaku zhalim" (Al-Qashah 28:59).

Dalam Al-Quran Allah swt. meperingatkan bahwa betapa banyak negeri yang
telah dibinasakan Allah swt pada masa yang lalu karena kezaliman yang telah
merajalela ditengah negeri itu.

"Betapa banyak negeri yang Kami binasakan penduduknya karena mereka berbuat
zhalim, maka tembok-tembok negeri itupun roboh menutupi atapnya, dan betapa
banyak pula sumur-sumur yang telah ditinggalkan, demikian juga istana-istana
yang megah (pun ditinggalkan)" (Al-Haj 22: 45).

Yang dimaksud dengan kezhaliman dalam ayat-ayat diatas selain penganiayaan
atau tindakan sewenang wenang yang berkuasa terhadap rakyat, atau
kesewenangan yang kaya terhadap orang miskin, orang yang kuat terhadap yang
lemah, menurut terminologi Al-Qur'an kemusyrikan juga termasuk kezhaliman,
bahkan termasuk induk kemusyrikan sebagaimana wasiat Luqmanul Hakim pada
anakknya:

"Dan ingatlah ketika Luqman berwasiat kepada anaknya diwaktu dia memberikan
pengajaran kepadanya: Wahai. Anakku ! Janganlah kamu mempersekutukan Allah
karena kemusyrikan itu merupakan kezhaliman yang besar" (Luqman 31: 13).

Demikian juga perbuatan maksiat dan dosa-dosa besar umumnya termasuk
kezhaliman; karena mereka yang melakukan kemaksiatan dan dosa-dosa besar
secara tidak lansung telah melakukan kezhaliman terhadap dirinya sendiri
dengan menjatuhkannya kejurang kebinasaan dunia dan akhirat.

8. DO'A DAN DZIKIR

Do'a dan dzikir merupakan salah satu benteng yang kokoh untuk melindungi
diri dan masyarakat dari bencana dan mushibah.

Berikut ini kita kutipkan beberapa do'a dan dzikir yang akan dibaca disa'at
menghadapi musibah dan bencana:

1. Menurut keterangan Ibnu Abbas, r.a. Rasulullah disaat menghadapi bencana
membaca :

"Laa ilaahaillallahul 'azhim, Laa illaha illallahu rabbil 'arsyil 'azhim,
Laa ilaaha illallahu rabbus samawaati wa rabbul ardhi wa rabbul 'arsyil
kariim".

Artinya:
Tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah Yang Maha Agung dan Maha
penyantun. Tiada Tuhan (yag berhak disembah) selain Allah, Tuhan yang
mempunyai Arasy yang Agung. Tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah
pencipta dan pemelihara langit dan bumi, dan Tuhan yang mempunyai Arasy yang
mulia. (HR.Muslin dari lbn Abbas).

2. Menurut Anas r.a. Rasulullah sering dalam menghadapi bencana membaca:

"Yaa hayyu yaa qayyuumu birahmatika astaghiisyu"

Artinya:
Wahai Yang Maha Hidup.
Wahai Yang Maha berdiri sendiri. Aku mohonkan
pertolongan-Mu dengan segera (HR.Turmudzi & Hakim)

3. Menurut Abu Bakar Shidiq, r.a. Rasulullah dalam menghadapi bencana
membaca:

"Allahumma rahmataka arjuu falaa takilnii ila nafsi tharfata 'ainin, wa
ashlih li sha'ni kullahu, laa ilaaha illa anta"

Artinya:
Ya Allah ! Hanya rahmat-Mu yang aku harapkan, maka janganlah Engkau lepaskan
aku pada diri ku sendiri walaupun sekejap mata, dan perbaikilah keadaan ku
seluruhnya.Tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. (HR.Abu Daud)

4. Menurut keterangan Abu Qatadah Rasulullah saw.bersabda:

"Man qara a ayatal kursyi wa khawaa tima suratil baqarata 'indal karbi a
'anahullahu 'azza wa jalla"

Artinya:
Siapa yang menibaca ayat kursi dan akhir-akhir surat Albaqarah ( ayat
284-286) dalam menghadapi bencana maka Allah akan menolongnya (HR.Ibnu
Sinni).

5. Suatu waktu ada seseorang menyampaikan kepada Abu Darda' r.a :

"Rumahmu terbakar. Jawab Abu Darda''. 'Tidak! Tuhan tidak akan memperlakukan
daku demikian", karena aku telah membaca do'a yang aku dengar dari
Rasulullah saw, siapa yang membacanya pagi hari akan selamat dari musibah
sampai sore, dan siapa yang membacanya petang hari maka dia akan selamat
dari musibah sampai pagi esoknva, inilah doa'a tersebut:

"Allahumma anta rabbi laa ilaaha illa anta 'alaika tawakkaltu wa anta rabbul
arsyil 'azhim. Maa syaa allahu kaana wa maalam yasya'lam yakun laahaula wa
laa quwwata illa billahil 'aliyil 'azhim. A'lamu annallahu 'ala kulli syay
in qadiiru. Wa annallaha qad ahatha bikulli syain 'ilman. Allahumma inni a
'uzubika min syarri nafsin. Wa min kulli daabbatin anta uhizu bina
shiyatiha. Inna rabbi 'ala shira thin mustaqiimin"

Artinya:
Ya Allah, Engkaulah Tuhanku Tak ada Tuhan selain Engkau, kepada-Mu aku
bertawakal dan Engkau adalah Penguasa dari 'arasy Yang Maha Agung. Apa-apa
yang dikehendaki Allah, pastilah terjadi, sebaliknya apa-apa yang tak
dikehendaki-Nya, tidaklah akan terjadi. Tiada daya dan tiada upaya kecuali
dengan Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. Saya menginsyafi bahwa Allah
Kuasa atas segala sesuatu, dan bahwa ilmu Allah itu meliputi segala sesuatu.
Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan diriku sendiri, dan dari
kejahatan semua makhluq melata yang kendalinya tergenggam dalam tangan-Mu!
Sungguh Tuhanku itu berada pada jalan yang lurus (HR. Thalaq bin Habib)

Pada beberapa riwayat, Abu Darda' berkata: "Ayolah bangkit!" iapun berdiri
dan merekapun turut berdiri lalu pergi ke rumahnya, setelah sampai
didapatinya rumahnya tidak apa-apa sedang sekelilingnya terbakar semua.

9. BERTAWAKAL PADA ALLAH SWT

Setelah berusaha dan bedo'a dengan penuh pengharapan dan keyakinan marilah
berserah diri, bertawakal kepada Allah, semoga Allah senantiasa melindungi
dan meridhai kita semua. Amiin.

Pasir Putih, 22 Dzulqaedah 1425.H / 3 Januari 2005.M
Dr.H.Suhairy Ilyas, MA.


Category:
Other
Oleh: Mochamad Bugi
--------------------------------------------------------------------------------

Dari Abdullah bin Mas’ud r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah suatu kaum yang melakukan dengan terang-terangan berupa riba dan zina, melainkan halal bagi Allah untuk menimpakan azabnya kepada mereka.” (HR. Ahmad)

Cobaan dan ujian adalah sunnatullah yang Allah ‘berlakukan’ terhadap hamba-hamba-Nya di muka bumi.
Ada beberapa gambaran mengenai hal ini dari Alquran dan hadits. Setidaknya seperti berikut.

1. Cobaan dan ujian adalah sarana untuk mengungkap keimanan seseorang; apakah ia benar-benar beriman atau tidak.

“Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah berimanâ€
, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Al-Ankabut: 1-3)

2. Cobaan dan ujian merupakan hakikat dari kehidupan manusia di dunia.

Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (Al-Mulk: 1-2)

3. Cobaan dan ujian alat introspeksi diri dan pelajaran agar manusia dapat lebih baik dalam beribadah kepada Allah swt.

Maka Kami hukumlah Fir`aun dan bala tentaranya, lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut.
Maka lihatlah bagaimana akibat orang-orang yang zalim. (Al-Qashas: 40)

4. Cobaan dan ujian sebagai sarana peningkatan ketakwaan seseorang kepada Allah swt.

Dari Sa’d bin Abi Waqash, aku bertanya kepada Rasulullah saw., “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berat cobaannya?â€
 Beliau menjawab, “Para nabi, kemudian orang-orang yang seperti para nabi, kemudian orang-orang yang seperti mereka. Seorang hamba diuji Allah berdasarkan keimanannya. Jika keimanannya kokoh, maka akan semakin berat cobaannya. Namun jika keimanannya lemah, maka ia akan diuji berdasarkan keimanannya tersebut. Dan cobaan tidak akan berpisah dari seorang hamba hingga nanti ia meninggalkannya berjalan di muka bumi seperti ia tidak memiliki satu dosa pun. (HR. Turmudzi).

5. Cobaan dan ujian merupakan salah satu bentuk cinta Allah terhadap hamba-hamba-Nya.

Dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Besarnya suatu pahala adalah tergantung dari besarnya ujian dari Allah. Dan sesungguhnya Allah swt. apabila mencintai suatu kaum, Allah menguji mereka. Jika (dengan ujian tersebut) mereka ridha, maka Allah pun memberikan keridhaan-Nya. Dan siapa yang marah (tidak ridha), maka Allah pun marah terhadapnya.â€
 (HR. Turmudzi dan Ibnu Majah)

Bencana Alam: Antara Ujian dan Azab

Ketika bencana datang dan menimbulkan korban dan kerugian yang besar –seperti gempa dan tsunami di Aceh, banjir yang melumpuhkan Jakarta– sering muncul pertanyaan: musibah ini azab atau cobaan dari Allah?

Sesungguhnya kita telah punya jawabannya dari ayat-ayat Alquran. Ketika Allah membinasakan suatu kaum, di satu sisi hal tersebut adalah azab yang Allah timpakan kepada mereka lantaran kekufuran mereka kepada Allah swt. Namun, di sisi lain itu merupakan ujian bagi kaum yang beriman; supaya mereka lebih dapat meningkatkan keimanannya kepada Allah swt.

Contoh, kisah Nabi Nuh a.s. yang dipaparkan Allah dalam surat ayat 25-49. Di sana Allah mengisahkan kaum Nabi Nuh senantiasa ingkar dan tidak mau beriman kepada Allah swt., maka Allah timpakan azab kepada mereka berupa banjir yang sangat besar.
Bahkan, Alquran menggambarkan banjir itu datang dengan gelombang seperti gunung. (Hud: 42).

Saat terjadi banjir besar itu, Nabi Nuh melihat anaknya di tempat yang jauh terpencil. Lalu beliau memanggilnya. Namun sang anak tidak mau mengikuti, bahkan berlari ke arah bukit. Kemudian Nabi Nuh berdoa agar Allah menyelamatkan anaknya karena anak itu adalah anggota keluarganya (Nuh : 45). Namun Allah mematahkan logika manusiawi Nabi Nuh. Bagi Allah, anak itu bukan termasuk keluarga Nabi Nuh karena tidak mau beriman kepada Allah swt.

Peristiwa ini jika dilihat dari satu sisi adalah azab yang Allah timpakan kepada kaum Nabi Nuh karena keingkaran dan kekufuran mereka. Namun di sisi yang lain peristiwa itu adalah ujian dan cobaan sekaligus rahmat bagi orang-orang beriman yang mengikuti Nabi Nuh.

Bagi Nabi Nuh sendiri, kejadian tersebut merupakan ujian berat. Karena dengan mata kepalanya sendiri dari bahtera yang dinaikinya, ia menyaksikan anak kandungnya lenyap ditelan ombak besar (Hud: 43). Orang tua mana yang tega melihat anaknya meregang nyawa ditelan ombak besar, sementara ia aman di atas sebuah bahtera? Jadi, ini adalah cobaan yang begitu berat bagi Nabi Nuh, sekaligus peringatan bagi Nabi Nuh sendiri maupun bagi umatnya.

Sebab-sebab Terjadinya Bencana

Dalam Alquran banyak sekali diceritakan tentang musibah dan bencana yang menimpa orang-orang terdahulu. Dan, semua musibah dan bencana besar yang pernah menimpa manusia –diterangkan oleh Alquran—adalah selalu terkait dengan kekufuran dan keingkaran manusia itu sendiri kepada Allah swt. Silakan simak beberapa data di bawah ini.

Kaum Nabi Nuh, Allah tenggelamkan dengan banjir yang sangat dahsyat, yang tinggi gelombangnya sebesar gunung (Hud: 42). Hingga, tak ada makhluk pun yang tersisa melainkan yang berada di atas kapal bersama Nabi Nuh (Asyu’ara’: 118).
Kaum nabi Syu’aib, Allah hancurkan dengan gempa bumi yang dahsyat. Sampai-sampai Alquran menggambarkan seolah-olah mereka belum pernah mendiami kota tempat yang mereka tinggali. Lantaran begitu hancurnya kota mereka pasca gempa (Al-A’raf: 92).
Kaum Nabi Luth, Allah hancurkan dengan hujan batu. Alquran menggambarkan, bangunan-bangunan tinggi hasil peradaban kaum Nabi Luth menjadi rata dengan tanah (Hud: 82).
Kaum Tsamud (kaumnya Nabi Shaleh), juga Allah hancurkan dengan gempa. Mereka mati bergelimpangan di dalam rumah mereka sendiri (Hud: 67).
Fir’aun dan pengikutnya dihancurkan oleh Allah dengan ditenggelamkan ke dalam lautan hingga tidak satu pun yang tersisa (Al-A’raf: 136).
Karun beserta pengikutnya, Allah benamkan mereka ke dalam bumi sehingga kekayaannya sedikitpun tidak tersisa. Ini lantaran ia sombong kepada Allah swt. (Al-Qashash:81).
Alquran juga mengabarkan bahwa bencana atau musibah yang tidak terkait dengan kaum tertentu, penyebabnya juga sama: karena kemaksiatan, kufur, ingkar, dan mendustakan ayat-ayat Allah. Penyebab yang paling ringan adalah karena perbuatan tangan manusia sendiri yang merusak alamnya (Ar-Rum: 41-42).

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Katakanlah: “Adakan perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang dahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).â€


Berikut adalah di antara ayat-ayat Alquran yang berbicara mengenai bencana atau azab yang menimpa suatu kaum kaum, termasuk diri kita.

Penyebab terjadi azab atau musibah adalah lantaran mendustakan ayat-ayat Allah. Padahal jika kita beriman, Allah akan membukakan pintu-pintu keberkahan baik dari langit maupun dari bumi. (Al-A’raf: 96)
Penyebab terjadinya bencana atau musibah adalah lantaran manusia menyekutukan Allah dengan sesuatu (baca: syirik), seperti mengatakan bahwa Allah memiliki anak.
Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.â€
 Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar. Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh. Karena mereka mendakwa Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. (Maryam: 91)

Allah timpakan bencana kepada kaum yang tidak mau memberikan peringatan kepada orang-orang dzalim di antara mereka.
Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. (Al-Anfal: 25)

Dalam hadits juga digambarkan bahwa azab dan bencana itu bisa bersumber dari kemaksiatan yang akibatnya dirasakan secara sosial. Di antaranya adalah perbuatan zina dan riba.
Dari Abdullah bin Mas’ud r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah suatu kaum mereka melakukan dengan terang-terangan berupa riba dan zina, melainkan halal bagi Allah untuk menimpakan azabnya kepada mereka.â€
 (HR. Ahmad)

Sesungguhnya masih banyak ayat dan hadits yang memaparkan tentang sebab-sebab terjadinya musibah atau bencana. Tapi, dari yang dipaparkan di atas kita tahu bahwa setiap musibah dan bencana selalu terkait dengan dosa yang dilakukan oleh manusia. Bentuknya bisa berupa membudayanya praktik riba dan zina. Bisa juga karena mengkufuri nikmat Allah, mendustakan ayat-ayat Allah, dan menyekutukan Allah.

Karena itu, atas semua musibah dan bencana yang tengah kita alami saat ini, seharusnya kita mawasdiri: apakah ini azab akibat kemaksiatan yang kita lakukan, ataukah cobaan untuk meningkatkan ketakwaan kita? Yang pasti, tidak ada waktu lagi bagi kita untuk tidak segera bertaubat. Jangan sampai menunggu bencana yang lebih besar kembali datang memusnahkan kita.
Ketika bencana itu datang, tak ada lagi kata taubat diterima!

Seberkas cahaya di tengah gelapnya musibah
Maka hakikat penghambaan adalah tunduk melaksanakan perintah syariat serta menjauhi larangan syariat dan bersabar menghadapi musibah-musibah. Musibah yang dijadikan sebagai batu ujian oleh Allah jalla wa ‘ala untuk menempa hamba-hambaNya. Dengan demikian ujian itu bisa melalui sarana ajaran agama dan melalui sarana keputusan takdir. Adapun ujian dengan ajaran agama sebagaimana tercermin dalam firman Allah jalla wa ‘ala kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam sebuah hadits qudsi riwayat Muslim dari ‘Iyaadh bin Hamaar. Dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, ‘Allah ta’ala berfirman: Sesungguhnya Aku mengutusmu dalam rangka menguji dirimu. Dan Aku menguji (manusia) dengan dirimu.’ Maka hakikat pengutusan Nabi ‘alaihish shalaatu was salaam adalah menjadi ujian. Sedangkan adanya ujian jelas membutuhkan sikap sabar dalam menghadapinya. Ujian yang ada dengan diutusnya beliau sebagai rasul ialah dengan bentuk perintah dan larangan.

“Sesungguhnya sabar terbagi tiga; sabar dalam berbuat taat, sabar dalam menahan diri dari maksiat dan sabar tatkala menerima takdir Allah yang terasa menyakitkan.”

“Tidaklah ada sebuah musibah yang menimpa kecuali dengan izin Allah. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah (bersabar) niscaya Allah akan memberikan hidayah kepada hatinya. Allahlah yang maha mengetahui segala sesuatu.” (QS At Taghaabun: 11)

Syaikh Muhammad bin Abdul ‘Aziz Al Qar’awi mengatakan, “Di dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala menginformasikan bahwa seluruh musibah yang menimpa seorang individu di antara umat manusia, baik yang terkait dengan dirinya, hartanya atau yang lainnya hanya bisa terjadi dengan sebab takdir dari Allah. Sedangkan ketetapan takdir Allah itu pasti terlaksana tidak bisa dielakkan. Allah juga menyinggung barang siapa yang tulus mengakui bahwa musibah ini terjadi dengan ketetapan dan takdir Allah niscaya Allah akan memberikan taufik kepadanya sehingga mampu untuk merasa ridho dan bersikap tenang tatkala menghadapinya karena yakin terhadap kebijaksanaan Allah. Sebab Allah itu maha mengetahui segala hal yang dapat membuat hamba-hambaNya menjadi baik. Dia juga maha lembut lagi maha penyayang terhadap mereka.” (Al Jadiid, hal. 313).
Iman itulah yang menjadi sebab hati dapat meraih hidayah dan merasakan ketenteraman diri.

Oleh sebab itu dalam konteks tersebut (ridho yang hukumnya wajib) Alqamah mengatakan, ‘Ayat ini berbicara tentang seorang lelaki yang tertimpa musibah dan dia menyadari bahwa musibah itu berasal dari sisi Allah maka dia pun merasa ridha’ yakni merasa puas terhadap ketetapan Allah ‘dan ia bersikap pasrah’ karena ia mengetahui musibah itu datangnya dari sisi (perbuatan) Allah jalla jalaaluhu. Inilah salah satu ciri keimanan.” (At Tamhiid, hal. 392-393).
“Sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, kelaparan serta kekurangan harta benda, jiwa, dan buah-buahan. Maka berikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila tertimpa musibah mereka mengatakan, ‘Sesungguhnya kami ini berasal dari Allah, dan kami juga akan kembali kepada-Nya.’ Mereka itulah orang-orang yang akan mendapatkan ucapan sholawat (pujian) dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh hidayah.” (QS Al Baqoroh: 155-157)





Ditulis oleh superadmin on Minggu, 02 Agustus 2009 05:47 | Dibaca : 757 kali
badaiSegala puji bagi Allah Zat yang telah menciptakan kematian dan kehidupan dalam rangka menguji manusia siapakah di antara mereka yang terbaik amalnya. Zat yang telah mengutus Rasul-Nya dengan hidayah dan agama yang benar untuk dimenangkan di atas seluruh agama yang ada. Sholawat beriring salam semoga senantiasa terlimpah kepada Nabi pembawa rahmah beserta keluarga dan sahabat juga seluruh pengikut mereka yang setia hingga tegaknya kiamat di alam semesta. Amma ba’du.
Saudaraku. Semoga Allah melimpahkan taufik untuk menggapai cinta dan ridho-Nya kepadaku dan dirimu. Perjalanan kehidupan terkadang membawamu terperosok dan jatuh dalam berbagai kesulitan. Kesulitan-kesulitan itu terasa berat bagimu. Dadamu seolah-olah menjadi sesak. Bumi yang begitu luas terhampar seolah-olah menjadi sempit bagimu. Apakah keadaan ini akan membawamu berputus asa wahai saudaraku, jangan. Akan tetapi bersabarlah. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

واعلم أن النصر مع الصبر ، وأن الفرج مع الكرب ، وأن مع العسر يسرا

“Dan ketahuilah, sesungguhnya kemenangan itu beriringan dengan kesabaran. Jalan keluar beriringan dengan kesukaran. Dan sesudah kesulitan itu akan datang kemudahan.” (Hadits riwayat Abdu bin Humaid di dalam Musnad-nya dengan nomor 636, Ad Durrah As Salafiyyah hal. 148)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menggambarkan kepada umatnya bahwa kesabaran itu bak sebuah cahaya yang panas. Dia memberikan keterangan di sekelilingnya akan tetapi memang terasa panas menyengat di dalam dada.

Sebuah Bab di Dalam Kitab Tauhid

Syaikh Al Imam Al Mujaddid Al Mushlih Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah ta’ala membuat sebuah bab di dalam Kitab Tauhid beliau yang berjudul, “Bab Minal iman billah, ash-shabru ‘ala aqdarillah” (Bab: Bersabar dalam menghadapi takdir Allah termasuk cabang keimanan kepada Allah).

Syaikh Shalih bin Abdul ‘Aziz Alusy Syaikh hafizhahullah ta’ala mengatakan dalam penjelasannya tentang bab yang sangat berfaedah ini:

“Sabar tergolong perkara yang menempati kedudukan agung (di dalam agama). Ia termasuk salah satu bagian ibadah yang sangat mulia. Ia menempati relung-relung hati, gerak-gerik lisan dan tindakan anggota badan. Sedangkan hakikat penghambaan yang sejati tidak akan terealisasi tanpa kesabaran. Hal ini dikarenakan ibadah merupakan perintah syariat (untuk mengerjakan sesuatu), atau berupa larangan syariat (untuk tidak mengerjakan sesuatu), atau bisa juga berupa ujian dalam bentuk musibah yang ditimpakan Allah kepada seorang hamba supaya dia mau bersabar ketika menghadapinya.

Maka hakikat penghambaan adalah tunduk melaksanakan perintah syariat serta menjauhi larangan syariat dan bersabar menghadapi musibah-musibah. Musibah yang dijadikan sebagai batu ujian oleh Allah jalla wa ‘ala untuk menempa hamba-hambaNya.
Dengan demikian ujian itu bisa melalui sarana ajaran agama dan melalui sarana keputusan takdir. Adapun ujian dengan ajaran agama sebagaimana tercermin dalam firman Allah jalla wa ‘ala kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam sebuah hadits qudsi riwayat Muslim dari ‘Iyaadh bin Hamaar. Dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, ‘Allah ta’ala berfirman: Sesungguhnya Aku mengutusmu dalam rangka menguji dirimu. Dan Aku menguji (manusia) dengan dirimu.’ Maka hakikat pengutusan Nabi ‘alaihish shalaatu was salaam adalah menjadi ujian. Sedangkan adanya ujian jelas membutuhkan sikap sabar dalam menghadapinya. Ujian yang ada dengan diutusnya beliau sebagai rasul ialah dengan bentuk perintah dan larangan.

Untuk melaksanakan berbagai kewajiban tentu saja dibutuhkan bekal kesabaran. Untuk meninggalkan berbagai larangan dibutuhkan bekal kesabaran. Begitu pula saat menghadapi keputusan takdir kauni (yang menyakitkan) tentu juga diperlukan bekal kesabaran. Oleh sebab itulah sebagian ulama mengatakan, “Sesungguhnya sabar terbagi tiga; sabar dalam berbuat taat, sabar dalam menahan diri dari maksiat dan sabar tatkala menerima takdir Allah yang terasa menyakitkan.”

Karena amat sedikitnya dijumpai orang yang sanggup bersabar tatkala tertimpa musibah maka Syaikh pun membuat sebuah bab tersendiri, semoga Allah merahmati beliau. Hal itu beliau lakukan dalam rangka menjelaskan bahwasanya sabar termasuk bagian dari kesempurnaan tauhid. Sabar termasuk kewajiban yang harus ditunaikan oleh hamba, sehingga ia pun bersabar menanggung ketentuan takdir Allah. Ungkapan rasa marah dan tak mau sabar itulah yang banyak muncul dalam diri orang-orang tatkala mereka mendapatkan ujian berupa ditimpakannya musibah. Dengan alasan itulah beliau membuat bab ini, untuk menerangkan bahwa sabar adalah hal yang wajib dilakukan tatkala tertimpa takdir yang terasa menyakitkan. Dengan hal itu beliau juga ingin memberikan penegasan bahwa bersabar dalam rangka menjalankan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan hukumnya juga wajib.

Secara bahasa sabar artinya tertahan. Orang Arab mengatakan, “Qutila fulan shabran” (artinya si Fulan dibunuh dalam keadaan “shabr”) yaitu tatkala dia berada dalam tahanan atau sedang diikat lalu dibunuh, tanpa ada perlawanan atau peperangan. Dan demikianlah inti makna kesabaran yang dipakai dalam pengertian syar’i. Ia disebut sebagai sabar karena di dalamnya terkandung penahanan lisan untuk tidak berkeluh kesah, menahan hati untuk tidak merasa marah dan menahan anggota badan untuk tidak mengekspresikan kemarahan dalam bentuk menampar-nampar pipi, merobek-robek kain dan semacamnya. Maka menurut istilah syariat, sabar artinya: “Menahan lisan dari mengeluh, menahan hati dari marah dan menahan anggota badan dari menampakkan kemarahan dengan cara merobek-robek sesuatu dan tindakan lain semacamnya.”

Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Di dalam Al Quran kata sabar disebutkan dalam 90 tempat lebih. Sabar adalah bagian iman, sebagaimana kedudukan kepala bagi jasad. Sebab orang yang tidak punya kesabaran dalam menjalankan ketaatan, tidak punya kesabaran untuk menjauhi maksiat serta tidak sabar tatkala tertimpa takdir yang menyakitkan maka dia kehilangan banyak sekali bagian keimanan.”

Perkataan beliau “Bab Minal imaan, ash shabru ‘ala aqdaarillah” artinya: Salah satu ciri karakteristik iman kepada Allah adalah bersabar tatkala menghadapi takdir-takdir Allah. Keimanan itu mempunyai cabang-cabang. Sebagaimana kekufuran juga bercabang-cabang. Maka dengan perkataan “Minal imaan ash shabru” beliau ingin memberikan penegasan bahwa sabar termasuk salah satu cabang keimanan. Beliau juga memberikan penegasan melalui sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim yang menunjukkan bahwa niyaahah (meratapi mayat) itu juga termasuk salah satu cabang kekufuran. Sehingga setiap cabang kekafiran itu harus dihadapi dengan cabang keimanan. Meratapi mayat adalah sebuah cabang kekafiran maka dia harus dihadapi dengan sebuah cabang keimanan yaitu bersabar terhadap takdir Allah yang terasa menyakitkan.” (At Tamhiid, hal. 389-391).

Ridha Terhadap Musibah Melahirkan Hidayah

Allah ta’ala berfirman yang artinya,

مَا أَصَابَ يَهْدِ قَلْبَهُ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Tidaklah ada sebuah musibah yang menimpa kecuali dengan izin Allah. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah (bersabar) niscaya Allah akan memberikan hidayah kepada hatinya. Allahlah yang maha mengetahui segala sesuatu.” (QS At Taghaabun: 11)

Syaikh Muhammad bin Abdul ‘Aziz Al Qar’awi mengatakan, “Di dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala menginformasikan bahwa seluruh musibah yang menimpa seorang individu di antara umat manusia, baik yang terkait dengan dirinya, hartanya atau yang lainnya hanya bisa terjadi dengan sebab takdir dari Allah. Sedangkan ketetapan takdir Allah itu pasti terlaksana tidak bisa dielakkan. Allah juga menyinggung barang siapa yang tulus mengakui bahwa musibah ini terjadi dengan ketetapan dan takdir Allah niscaya Allah akan memberikan taufik kepadanya sehingga mampu untuk merasa ridho dan bersikap tenang tatkala menghadapinya karena yakin terhadap kebijaksanaan Allah. Sebab Allah itu maha mengetahui segala hal yang dapat membuat hamba-hambaNya menjadi baik. Dia juga maha lembut lagi maha penyayang terhadap mereka.” (Al Jadiid, hal. 313).

Alqamah, salah seorang pembesar tabi’in, mengatakan, “Ayat ini berbicara tentang seorang lelaki yang tertimpa musibah dan dia menyadari bahwa musibah itu berasal dari sisi Allah maka dia pun merasa ridho dan bersikap pasrah kepada-Nya.”

Syaikh Shalih bin Abdul ‘Aziz Alusy Syaikh hafizhahullah ta’ala mengatakan dalam penjelasannya tentang perkataan Alqamah ini:

“Ini merupakan tafsir dari Alqamah -salah seorang tabi’in (murid sahabat)- terhadap ayat ini. Ini merupakan penafsiran yang benar dan lurus. Hal itu disebabkan firman-Nya, ‘Barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Allah akan memberikan hidayah ke dalam hatinya,’ disebutkan dalam konteks ditimpakannya musibah sebagai ujian bagi hamba. ‘Barangsiapa yang beriman kepada Allah,’ artinya ia mengagungkan Allah jalla wa ‘ala dan melaksanakan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya. ‘Niscaya Allah akan memberikan hidayah ke dalam hatinya,’ yakni supaya bersabar. ‘Allah akan memberikan hidayah ke dalam hatinya’ supaya tidak merasa marah dan tidak terima. ‘Allah akan memberikan hidayah ke dalam hatinya,’ yakni untuk menunaikan berbagai macam ibadah. Oleh sebab itulah beliau (Alqamah) berkata, ‘Ayat ini berbicara tentang seorang lelaki yang tertimpa musibah dan karena dia menyadari bahwa musibah itu berasal dari sisi Allah maka dia pun merasa ridho dan bersikap pasrah kepada-Nya.’ Inilah kandungan iman kepada Allah; ridho dan pasrah kepada Allah.” (At Tamhiid, hal. 391-392).

Dari ayat di atas kita dapat memetik banyak pelajaran berharga, di antaranya adalah:
Keburukan itu juga termasuk perkara yang sudah ditakdirkan ada oleh Allah, sebagaimana halnya kebaikan.
Penjelasan agungnya nikmat iman. Iman itulah yang menjadi sebab hati dapat meraih hidayah dan merasakan ketenteraman diri.
Penjelasan tentang ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu.
Balasan suatu kebaikan adalah kebaikan lain sesudahnya.
Hidayah taufik merupakan hak prerogatif Allah ta’ala.

(Al Jadiid, hal. 314).

Hukum Merasa Ridho Terhadap Musibah

Syaikh Shalih bin Abdul ‘Aziz Alusy Syaikh hafizhahullah ta’ala menjelaskan:

“Hukum merasa ridha dengan adanya musibah adalah mustahab (sunnah), bukan wajib. Oleh karenanya banyak orang yang kesulitan membedakan antara ridho dengan sabar. Sedangkan kesimpulan yang pas untuk itu adalah sebagai berikut. Bersabar menghadapi musibah hukumnya wajib, dia adalah salah satu kewajiban yang harus ditunaikan. Hal itu dikarenakan di dalam sabar terkandung meninggalkan sikap marah dan tidak terima terhadap ketetapan dan takdir Allah. Adapun ridho memiliki dua sudut pandang yang berlainan:

Sudut pandang pertama, terarah kepada perbuatan Allah jalla wa ‘ala. Seorang hamba merasa ridho terhadap perbuatan Allah yang menetapkan terjadinya segala sesuatu. Dia merasa ridho dan puas dengan perbuatan Allah. Dia merasa puas dengan hikmah dan kebijaksanaan Allah. Dia merasa ridho terhadap pembagian jatah yang didapatkannya dari Allah jalla wa ‘ala. Rasa ridho terhadap perbuatan Allah ini termasuk salah satu kewajiban yang harus ditunaikan. Meninggalkan perasaan itu hukumnya haram dan menafikan kesempurnaan tauhid (yang harus ada).

Sudut pandang kedua, terarah kepada kejadian yang diputuskan, yaitu terhadap musibah itu sendiri. Maka hukum merasa ridho terhadapnya adalah mustahab. Bukan kewajiban atas hamba untuk merasa ridho dengan sakit yang dideritanya. Bukan kewajiban atas hamba untuk merasa ridho dengan sebab kehilangan anaknya. Bukan kewajiban atas hamba untuk merasa ridho dengan sebab kehilangan hartanya. Namun hal ini hukumnya mustahab (disunahkan).

Oleh sebab itu dalam konteks tersebut (ridho yang hukumnya wajib) Alqamah mengatakan, ‘Ayat ini berbicara tentang seorang lelaki yang tertimpa musibah dan dia menyadari bahwa musibah itu berasal dari sisi Allah maka dia pun merasa ridha’ yakni merasa puas terhadap ketetapan Allah ‘dan ia bersikap pasrah’ karena ia mengetahui musibah itu datangnya dari sisi (perbuatan) Allah jalla jalaaluhu. Inilah salah satu ciri keimanan.” (At Tamhiid, hal. 392-393).

Hikmah yang Tersimpan di Balik Musibah yang Disegerakan

Dari Anas, beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila Allah menginginkan kebaikan bagi hamba-Nya, maka Allah segerakan hukuman atas dosanya di dunia. Dan apabila Allah menghendaki keburukan pada hamba-Nya maka Allah tahan hukuman atas dosanya itu sampai dibayarkan di saat hari kiamat.” (Hadits riwayat At Tirmidzi dengan nomor 2396 di dalam Az Zuhud. Bab tentang kesabaran menghadapi musibah. Beliau mengatakan: hadits ini hasan gharib. Ia juga diriwayatkan oleh Al Haakim dalam Al Mustadrak (1/349, 4/376 dan 377). Ia tercantum dalam Ash Shahihah karya Al Albani dengan nomor 1220).

Syaikhul Islam mengatakan:

“Datangnya musibah-musibah itu adalah nikmat, Karena ia menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa. Ia juga menuntut kesabaran sehingga orang yang tertimpanya justru diberi pahala. Musibah itulah yang melahirkan sikap kembali taat dan merendahkan diri di hadapan Allah ta’ala serta memalingkan ketergantungan hatinya dari sesama makhluk, dan berbagai maslahat agung lainnya yang muncul karenanya. Musibah itu sendiri dijadikan oleh Allah sebagai sebab penghapus dosa dan kesalahan. Bahkan ini termasuk nikmat yang paling agung. Maka seluruh musibah pada hakikatnya merupakan rahmat dan nikmat bagi keseluruhan makhluk, kecuali apabila musibah itu menyebabkan orang yang tertimpa musibah menjadi terjerumus dalam kemaksiatan yang lebih besar daripada maksiat yang dilakukannya sebelum tertimpa. Apabila itu yang terjadi maka ia menjadi keburukan baginya, bila ditilik dari sudut pandang musibah yang menimpa agamanya.

Sesungguhnya ada di antara orang-orang yang apabila mendapat ujian dengan kemiskinan, sakit atau terluka justru menyebabkan munculnya sikap munafik dan protes dalam dirinya, atau bahkan penyakit hati, kekufuran yang jelas, meninggalkan sebagian kewajiban yang dibebankan padanya dan malah berkubang dengan berbagai hal yang diharamkan sehingga berakibat semakin membahayakan agamanya. Maka bagi orang semacam ini kesehatan lebih baik baginya. Hal ini bila ditilik dari sisi dampak yang timbul setelah dia mengalami musibah, bukan dari sisi musibahnya itu sendiri. Sebagaimana halnya orang yang dengan musibahnya bisa melahirkan sikap sabar dan tunduk melaksanakan ketaatan, maka musibah yang menimpa orang semacam ini sebenarnya adalah nikmat diniyah. Musibah itu sendiri terjadi sesuai dengan ketetapan Robb ‘azza wa jalla sekaligus sebagai rahmat untuk manusia, dan Allah ta’ala Maha terpuji karena perbuatan-Nya tersebut. Barang siapa yang diuji dengan suatu musibah lantas diberikan karunia kesabaran oleh Allah maka sabar itulah nikmat bagi agamanya. Setelah dosanya terhapus karenanya maka muncullah sesudahnya rahmat (kasih sayang dari Allah). Dan apabila dia memuji Robbnya atas musibah yang menimpanya niscaya dia juga akan memperoleh pujian-Nya.

أُولَـئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَـئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

“Mereka itulah orang-orang yang diberikan pujian (shalawat) dari Rabb mereka dan memperoleh curahan rahmat.” (QS. Al Baqoroh: 157)

Ampunan dari Allah atas dosa-dosanya juga akan didapatkan, begitu pula derajatnya pun akan terangkat. Barang siapa yang merealisasikan sabar yang hukumnya wajib ini niscaya dia akan memperoleh balasan-balasan tersebut.” Selesai perkataan Syaikhul Islam dengan ringkas (lihat Fathul Majiid, hal. 353-354).

Dari hadits di atas kita dapat memetik beberapa pelajaran berharga, yaitu:
Penetapan bahwa Allah memiliki sifat Iradah (berkehendak), tentunya yang sesuai dengan kemuliaan dan keagungan-Nya.
Kebaikan dan keburukan sama-sama telah ditakdirkan dari Allah ta’ala.
Musibah yang menimpa orang mukmin termasuk tanda kebaikan. Selama hal itu tidak menimbulkan dirinya meninggalkan kewajiban atau melakukan yang diharamkan.
Hendaknya kita merasa takut dan waspada terhadap nikmat dan kesehatan yang selama ini senantiasa kita rasakan.
Wajib berprasangka baik kepada Allah atas ketetapan takdir tidak mengenakkan yang telah diputuskan-Nya terjadi pada diri kita.
Pemberian Allah kepada seseorang bukanlah mesti berarti Allah meridhoi orang tersebut.

(Al Jadiid, hal. 320 dengan sedikit penyesuaian redaksional).

Balasan Bagi Orang-Orang Yang Sabar

Allah ta’ala berfirman,

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ اْلأَمْوَالِ وَاْلأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ {155} الَّذِينَ إِذَآ أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا للهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ {156} أُوْلآئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتُُ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُوْلآئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

“Sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, kelaparan serta kekurangan harta benda, jiwa, dan buah-buahan. Maka berikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila tertimpa musibah mereka mengatakan, ‘Sesungguhnya kami ini berasal dari Allah, dan kami juga akan kembali kepada-Nya.’ Mereka itulah orang-orang yang akan mendapatkan ucapan sholawat (pujian) dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh hidayah.” (QS Al Baqoroh: 155-157)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah berkata di dalam kitab tafsirnya, “Ayat ini menunjukkan bahwa barang siapa yang tidak bersabar maka dia berhak menerima lawan darinya, berupa celaan dari Allah, siksaan, kesesatan serta kerugian. Betapa jauhnya perbedaan antara kedua golongan ini. Betapa kecilnya keletihan yang ditanggung oleh orang-orang yang sabar bila dibandingkan dengan besarnya penderitaan yang harus ditanggung oleh orang-orang yang protes dan tidak bersabar…” (Taisir Karimir Rahman, hal. 76).

Allah ta’ala juga berfirman,

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya balasan pahala bagi orang-orang yang sabar adalah tidak terbatas.” (QS. Az Zumar: 10)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah berkata di dalam kitab tafsirnya, “Ayat ini berlaku umum untuk semua jenis kesabaran. Sabar dalam menghadapi takdir Allah yang terasa menyakitkan, yaitu hamba tidak merasa marah karenanya. Sabar dari kemaksiatan kepada-Nya, yaitu dengan cara tidak berkubang di dalamnya.
Bersabar dalam melaksanakan ketaatan kepada-Nya, sehingga dia pun merasa lapang dalam melakukannya. Allah menjanjikan kepada orang-orang yang sabar pahala untuk mereka yang tanpa hitungan, artinya tanpa batasan tertentu maupun angka tertentu ataupun ukuran tertentu. Dan hal itu tidaklah bisa diraih kecuali disebabkan karena begitu besarnya keutamaan sifat sabar dan agungnya kedudukan sabar di sisi Allah, dan menunjukkan pula bahwa Allahlah penolong segala urusan.” (Taisir Karimir Rahman, hal. 721).

Semoga Allah memasukkan kita di kalangan hamba-hambaNya yang sabar.

Wa shalallahu ‘ala nabiyyina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa shahbihi wa sallam.

***

Penulis: Abu Muslih Ari Wahyudi (Staf Pengajar Ma’had Ilmi)
Murojaah: Ustadz Abu Saad
Artikel www.muslim.or.id

“Tidak akan turun suatu bencana kecuali di undang oleh dosa, dan tidak akan di cabut suatu bencana kecuali dengan taubatan Nasuha.” (Ali bin Abu Thalib).
Allah sudah menyiratkan pada kita untuk kembali ke jalan yang Dia kehendaki. Ketika bencana alam kembali melanda negeri ini untuk kesekian kalinya masihkah kita akan mengatakan : ini semua hanyalah ujian ? Setelah datang bertubi – tubi dan menelan korban yang tidak sedikit, dan korban jiwa yg kembali tumpah. Dan kita masih juga mengatakannya sebagai ujian, padahal melihat tingkah kita sebagai bangsa yang mudah marah, gampang terpecah belah, dan kerap mengingkari kebenaran itu, sesungguhnya kata azab lebih tepat dibandingkan kata : ujian.    

Ketika kita mengabaikan teguran Nya
2009-08-18 18:50:24

Ketika Kita mengabaikan Teguran NYA.             Banjir menenggelamkan Ibu kota ! Miris melihat kemegahan Jakarta hilang di telan banjir. Dimana mana yang ada hanya genangan air. Hampir merata diseluruh tempat.  Bahkan tempat – tempat yang biasanya tidak banjir kali ini tergenang air. Ketinggian airpun tidak main – main, menenggelamkan semua harta benda. Lima tahun yang lalu hal serupa pernah juga terjadi, sekarang terulang kembali dan lebih parah. Mengapa kita tidak belajar dari lima tahun yang lalu untuk menghindari kerusakan yang lebih parah ?             Murni bencana alam ? Tidak. Banjir adalah musibah yang diakibatkan dari kebodohan dan keangkuhan kita sendiri. Tidak perlu menyalahkan alam, tidak perlu menyalahkan siapa – siapa. Seandainya musibah banjir 5 tahun lalu kita kaji dan teliti kemudian mencari solusi, pasti hal seperti ini tidak akan berlaku. Seandainya masing – masing dari kita mau menjaga kebersihan lingkungan dengan tidak mengotori sungai dengan berbagai sampah, banjir tidak akan mampir.
Seandainya daerah resapan di perluas pasti kita tak menuai bencana. Namun penyesalan selalu saja datang terlambat. Yang ada hanya ratapan dan tangisan menuai bencana yang kita buat sendiri.            Musibah ini sebenarnya harus disikapi dengan benar. Tidak sekedar musibah, namun lebih tepat bila dikatakan hal ini adalah ‘TEGURAN ALLAH’. Begitu banyak kelalaian dan kemaksiatan yang telah kita lakukan selama ini. Sehingga perlu bagi sang PEMILIK untuk memberi teguran agar kembali. Sayangnya, hati yang telah dipenuhi dengan nafsu duniawi telah membutakan mata hati ini untuk menyikapi semua kejadian – kejadian di sekitar kita. Kita tidak lagi peka menyikapi teguran – teguran tsb, bahkan mengabaikannya, dan menganggapnya sebagai bagian dari musibah biasa.             Sebentar kita menoleh ke belakang. Rasanya Tsunami di Aceh sudah sangat dahsyat. Hanya perlu 15 menit saja bagi Allah menggulung sebagian wilayah Aceh dengan air. Padahal bila dalam keadaan biasa, air tidak akan menghancurkan. Namun dengan kekuatan dahsyat sang PEMILIK, air mampu menghancurkan apa saja yang dilewati. Meluluh lantakan suatu wilayah hanya sekejap mata. Subhanallah… jumlah korban yang sangat fenomenal mestinya merangsang hati ini untuk bertanya ? Ada apa dengan Aceh, apa yang ingin Allah sampaikan melalui musibah itu ?            Baru sebentar kita bernafas lega, Nias kembali mendapat musibah. Lumpuh karena gempa yang membuat beberapa daerah terisolir karena lumpuhnya sarana transpotasi menuju ke daerah bencana. Lagi – lagi kita menganggapnya hanya sebagai bencana alam biasa.             Kemudian Jogjakarta. Ketika perhatian setiap orang terpusat kepada gunung Merapi yang menunjukan gejala akan meletus, ketika semua penduduk yang tinggal di bawah merapi sudah di evakuasi ke tempat aman. Jogjakarta malah di goyang gempa tektonik yang luar biasa dahsyat. Tidak lama, hanya 56detik ! Kurang dari 1 menit. Namun mampu menghancurkan begitu banyak wilayah dan jatuhnya korban yang juga sangat banyak.            Berhenti kah sampai di situ ? Tidak ! Di seluruh wilayah Indonesia musibah yang lain terjadi berkali – kali. Angin puting beliung melanda beberapa daerah, banjir dimana – mana, banjir bandang yang kembali melanda Aceh, tanah longsor yang menimbulkan korban jiwa. Mendera bertubi – tubi. Membuat kita lelah.            Kemudian kecelakaan transpotasi yang mengambil korban begitu besar di awal tahun. Kapal laut SENOPATI yang tenggelam dan hilang tak berbekas, lalu ADAM AIR yang terhempas. Keduanya membawa korban yang cukup besar !            Sekarang Ibukota di tenggelamkan banjir ! Kota metropolitan yang gagah dan gemerlap, menjadi impian semua orang untuk bisa mencari nafkah di dalamnya, kalah oleh banjir !            Ah…… mengapa bertubi – tubi musibah ini. Begitu beruntun dan memilukan. Hati yang tak lagi peka tak mampu lagi mengartikan teguran Allah. “ Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena ulah mereka sendiri, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagai akibat dari perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar. “ (QS. Ar Rum : 41) dalam surat yang lain Allah mengingatkan kita perlunya menjaga keseimbangan. “Agar kamu jangan merusak keseimbangan itu. Dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu.” (QS. Ar Rahman : 8-9)            Ketika musibah demi musibah melanda, tidak kah kita menyadari kekerdilan diri ini di hadapanNya ? Tidakkah kita menyadari ketidak mampuan kita melawan kekuatanNya ? Sangat lemah dan tak punya daya upaya apapun tanpa kuasaNya.  Sayangnya kesadaran itu hanya datang sesaat kala musibah menyapa. Setelah berlalu kita kembali hanyut dalam kemaksiatan lain yang kadang bahkan lebih parah !            Tidak kah kita ingin Allah menghentikan musibah – musibah ini ? “Tidak akan turun suatu bencana kecuali di undang oleh dosa, dan tidak akan di cabut suatu bencana kecuali dengan taubatan Nasuha.” (Ali bin Abu Thalib). Tunggu apa lagi. Allah sudah menyiratkan pada kita untuk kembali ke jalan yang Dia kehendaki. Ketika bencana alam kembali melanda negeri ini untuk kesekian kalinya masihkah kita akan mengatakan : ini semua hanyalah ujian ? Setelah datang bertubi – tubi dan menelan korban yang tidak sedikit, dan korban jiwa yg kembali tumpah. Dan kita masih juga mengatakannya sebagai ujian, padahal melihat tingkah kita sebagai bangsa yang mudah marah, gampang terpecah belah, dan kerap mengingkari kebenaran itu, sesungguhnya kata azab lebih tepat dibandingkan kata : ujian.            Sekalipun tak dapat di pungkiri sifat Rahman sang pencipta jauh lebih besar dari Murka Nya. Azab yang di timpakan ini pun bukan untuk maksud mendzhalimi hamba Nya. Tapi lebih tepat sebagai bentuk kasih sayang Nya agar kita mau menyadari kekeliruan yang kita lakukan selama ini dan kembali ke jalan Nya !Bila kita bosan mengalami episode demi episode yang penuh darah dan airmata ini, mengapa kita sebagai bangsa tidak bosan untuk melakukan perbuatan-perbuatan ingkar yang sesungguhnya merupakan pengundang daripada azab Allah ? Apakah hati kita masih juga hendak bersikeras, masih hendak menunggu peringatan Allah yang berikutnya ? Akhirnya, semua kembali pada hati dan sanubari masing-masing. Selesai bencana yang terakhir ini, maka sepantasnya pula kita berdoa : mohon kepada Allah yang Maha Membolak-balikkan hati, semoga Dia berkenan mengaruniakan kepada segenap rakyat negeri ini : “hati yang hidup.” Sebab demi ketenteraman dan ketenangan bangsa dan tumpah darah ini, demi dijauhkannya diri kita dari azab dan bencana, sesungguhnya kita sangat membutuhkan “hati yang hidup.” Hati yang mampu mengenali kebenaran dan menunaikannya. Hati yang mampu menolak kemungkaran dan menggerakkan lisan dan tangan untuk memutus kemungkaran tersebut.Semoga banjir kali ini adalah musibah terakhir yang kita rasakan sebagai teguran keras Allah pada kita dan bangsa ini. Semoga jangan ada lagi air mata tertumpah, dan jiwa yang terkorban. Bencana yang tak pandang bulu, menimpa siapa saja. Tak perduli dhuafa ataupun si kaya, tak melihat tua atau muda. Mulailah mengasah hati agar lebih peka dan hidup. Tidak mudah marah dan berbuat anarkis, tidak gampang di pecah belah, dan menjauhi kemungkaran. Insya Allah, semua bencana yang memilukan ini akan segera berakhir…. Amiien.

Manda Amalia Prasetyo      

manda_cute | 2009-08-18 18:50:24
Re: Ketika kita mengabaikan teguran Nya
Dalam Alquran banyak sekali diceritakan tentang musibah dan bencana yang
menimpa orang-orang terdahulu. Dan, semua musibah dan bencana besar yang
pernah menimpa manusia -diterangkan oleh Alquran-adalah selalu terkait
dengan kekufuran dan keingkaran manusia itu sendiri kepada Allah swt.
Silakan simak beberapa data di bawah ini.

* Kaum Nabi Nuh, Allah tenggelamkan dengan banjir yang sangat dahsyat,
yang tinggi gelombangnya sebesar gunung (Hud: 42). Hingga, tak ada makhluk
pun yang tersisa melainkan yang berada di atas kapal bersama Nabi Nuh
(Asyu'ara': 118).
* Kaum nabi Syu'aib, Allah hancurkan dengan gempa bumi yang dahsyat.
Sampai-sampai Alquran menggambarkan seolah-olah mereka belum pernah mendiami
kota tempat yang mereka tinggali. Lantaran begitu hancurnya kota mereka
pasca gempa (Al-A'raf: 92).
* Kaum Nabi Luth, Allah hancurkan dengan hujan batu. Alquran
menggambarkan, bangunan-bangunan tinggi hasil peradaban kaum Nabi Luth
menjadi rata dengan tanah (Hud: 82).
* Kaum Tsamud (kaumnya Nabi Shaleh), juga Allah hancurkan dengan
gempa. Mereka mati bergelimpangan di dalam rumah mereka sendiri (Hud: 67).
* Fir'aun dan pengikutnya dihancurkan oleh Allah dengan ditenggelamkan
ke dalam lautan hingga tidak satu pun yang tersisa (Al-A'raf: 136).
* Karun beserta pengikutnya, Allah benamkan mereka ke dalam bumi
sehingga kekayaannya sedikitpun tidak tersisa. Ini lantaran ia sombong
kepada Allah swt. (Al-Qashash:81).

Alquran juga mengabarkan bahwa bencana atau musibah yang tidak terkait
dengan kaum tertentu, penyebabnya juga sama: karena kemaksiatan, kufur,
ingkar, dan mendustakan ayat-ayat Allah. Penyebab yang paling ringan adalah
karena perbuatan tangan manusia sendiri yang merusak alamnya (Ar-Rum:
41-42).

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan
tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari
(akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).
Katakanlah: "Adakan perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana
kesudahan orang-orang yang dahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah
orang-orang yang mempersekutukan (Allah)."

Berikut adalah di antara ayat-ayat Alquran yang berbicara mengenai bencana
atau azab yang menimpa suatu kaum kaum, termasuk diri kita.

* Penyebab terjadi azab atau musibah adalah lantaran mendustakan
ayat-ayat Allah. Padahal jika kita beriman, Allah akan membukakan
pintu-pintu keberkahan baik dari langit maupun dari bumi. (Al-A'raf: 96)
* Penyebab terjadinya bencana atau musibah adalah lantaran manusia
menyekutukan Allah dengan sesuatu (baca: syirik), seperti mengatakan bahwa
Allah memiliki anak.

Dan mereka berkata: "Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak."
Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar.
Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan
gunung-gunung runtuh. Karena mereka mendakwa Allah Yang Maha Pemurah
mempunyai anak. (Maryam: 91)

* Allah timpakan bencana kepada kaum yang tidak mau memberikan
peringatan kepada orang-orang dzalim di antara mereka.

Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang
yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras
siksaan-Nya. (Al-Anfal: 25)

* Dalam hadits juga digambarkan bahwa azab dan bencana itu bisa
bersumber dari kemaksiatan yang akibatnya dirasakan secara sosial. Di
antaranya adalah perbuatan zina dan riba.

Dari Abdullah bin Mas'ud r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Tidaklah
suatu kaum mereka melakukan dengan terang-terangan berupa riba dan zina,
melainkan halal bagi Allah untuk menimpakan azabnya kepada mereka." (HR.
Ahmad)

Sesungguhnya masih banyak ayat dan hadits yang memaparkan tentang
sebab-sebab terjadinya musibah atau bencana. Tapi, dari yang dipaparkan di
atas kita tahu bahwa setiap musibah dan bencana selalu terkait dengan dosa
yang dilakukan oleh manusia. Bentuknya bisa berupa membudayanya praktik riba
dan zina. Bisa juga karena mengkufuri nikmat Allah, mendustakan ayat-ayat
Allah, dan menyekutukan Allah.

Karena itu, atas semua musibah dan bencana yang tengah kita alami saat ini,
seharusnya kita mawasdiri: apakah ini azab akibat kemaksiatan yang kita
lakukan, ataukah cobaan untuk meningkatkan ketakwaan kita? Yang pasti, tidak
ada waktu lagi bagi kita untuk tidak segera bertaubat. Jangan sampai
menunggu bencana yang lebih besar kembali datang memusnahkan kita.
Ketika
bencana itu datang, tak ada lagi kata taubat diterima!

herman21 | 2009-01-23 13:53:52
Re: Ketika kita mengabaikan teguran Nya
Assalamualaikum...Warohmah.....sebelumnya ana salaut sama tulisan anti, ini bukti bahwa anti sangat peduli dgn berbagai macam masalah yg bangsa kita sedang hadapi, terutama umat Muslim.....setelah ana baca artikel anti, ana hanya ingin memberikan sedikit tangapan bahwasanya segala yg di alami umat islam, baik itu yg kebaikan atau Musibah pastilah ada Hikmahnya....Rasulullah pernah bilang : sangatlah menakjubkan urusan orang yg Mu'min...apabila dia mendapat Kebaikan dia bersyukur, dan apabila dia mendapat Musibah dia sabar..dan kedua2nya adalah baik baginya.....jd,,,kita berdoa aja moga2 mereka y tertimpa musibah allah berikan kesabaran& ini semua kan menjadi kaffarat bagi kita semua.....Jazakillah artikelnya ukhti...Naafa'na bihi InsyaAllah....Ma'assalam

nandoi | 2009-01-23 13:53:37

Re: Ketika kita mengabaikan teguran Nya
Assalamu'alaikum Wr. Wb
curhatan anak jakarta nih ye.
memang kadang manusia lupa tuk melihat kebelakang apa yang pernah terjadi, banjir di jakarta pernah terjadi di tahun 1996 dan tahun 2002 juga pernah terjadi pula dan sekarang malah terjadi kembali di tahun 2007 katanya sih siklus 5 tahunan. kata BMG banjir siklus 5 tahunan tidak akan terjadi, tetapi nyatanya malah terjadi pula dan lebih besar lagi dari tahun 2002. ironis melihat ibukota negara ini malah jadi kota yang jadi penuh air (malah tiap rumah punya kolam renang sendiri), jadi tontonan negara-negara lain bahkan diberitakan di stasiun alzajera loh. 
sebagai anak jakarta asli dan sebagai salah satu rumah yang mengalami kebanjiran pula, melihat bencana siklus banjir 5 tahunan, kadang ana bertanya salah siapa ? ( kaya iklan), tapi ya ga menyalahkan siapa2 sih, mungkin benar kata manda salah semua orang kali ye yang ga mau mengambil pelajaran dari kesalahan yang lalu (jatuh ditempat yang sama) mudah-mudahan kita bukan termasuk orang yang merugi.
banjir di jakarta memang membuat susah para masyarakat jakarta, banyak orang yang ga bisa ngantor, banyak pelajar dan mahasiswa yang ga bisa datang tuk belajar, banyak para pedagang yang ga bisa jualan lagi, banyak para sopir angkot yang ga bisa narik, dan banyak yang lainnya yang merasa susah dengan banjir ini.
tapi dari banjir ini ga semua orang resah dan gelisah melihat air begitu banyaknya, ada yang malah senang dan bergembira dengan datangnya banjir, misalnya anak-anak kecil yang malah bisa bermain air sepuasnya ( kata ade ku enak nih banyak air jadi bisa belajar berenang) dan para tukang pengangkut motor pake grobak, ya meskipun mereka senang mereka juga berharap banjir ga datang.
ya apa boleh buatlah, yang terjadi terjadilah tinggal kita hanya bisa mengambil hikmah dari bencana ini dan mengambil pelajaran biar 5 tahun mendatang banjir ga melanda jakarta lagi dan tentunya Rumah ku tak masuk air lagi. amin
wassalam




Viants | 2009-01-23 13:53:37
Bismillahirrohmaanirrohiim

Asy-Syuuro: 30-31

“Dan apa yang menimpa kamu dari musibah, maka disebabkan usaha
tanganmu, dan Dia memaafkan banyak (kesalahan-kesalahan kamu). Dan
kamu tidak dapat melepaskan diri (dari musibah itu) di bumi, dan bagi
kamu tidak ada pelindung dan penolong selain Allah.”

Mukaddimah :

Ali ra mengatakan, maukah kalian aku beritahukan tentang satu ayat
terbaik yang ada dalam kitab Allah Azza wa Jalla? Beliau
kemudian menyampaikan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda kepadaku,
“Akan aku jelaskan kepadamu wahai Ali, sesungguhnya makna firman Allah
“Dan apa saja musibah dst..” ialah bahwa musibah yang menimpamu, baik
berupa sakit atau hukuman atau bencana yang terjadi di dunia ini,
tidak lain adalah disebabkan oleh ulah perbuatanmu sendiri!

Hasan al-Bashri mengatakan, “Ketika turun ayat ini, Rasulullah saw
bersabda: `Demi dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya,
sesungguhnya bagian tubuh yang tergores oleh dahan, kaki yang
terpeleset, dan keluarnya keringat dingin, semua itu adalah disebabkan
oleh adanya dosa. Dan apa yang diampuni Allah jauh lebih banyak lagi.

Bencana di mana-mana :

Sejak dahulu kala manusia sudah mengenal bencana alam, baik berupa
banjir, tanah longsor, angin puyuh, gunung meletus, dan
berbagai bencana alam lainnya. Al Qur'an sendiri telah mencatat
beberapa bencana alam yang berskala besar yang pernah terjadi
di permukaan bumi. Salah satu bencana yang monumental adalah banjir
yang ditimpakan kepada kaumnya Nabi Nuh, sehingga tidak menyisakan
satupun di antara mereka kecuali yang menumpang di kapalnya
Nabi Nuh saja.

Al Qur'an juga mencatat bencana yang ditimpakan kepada bangsa-bangsa
besar yang pernah berjaya di muka bumi, seperti bangsa Aad, Iram,
Tsamud, dan Fir'aun. Mereka pada mulanya adalah bangsa-bangsa besar
yang memiliki budaya dan tehnologi yang tinggi. Akan tetapi
karena kecongkakannya, mereka dihancur leburkan oleh Allah swt sehingga
tidak ada lagi peninggalan mereka kecuali puing-puingnya semata.

Kini, ketika perkembangan ilmu dan tehnologi telah menpacai puncaknya,
bencana alam masih saja belum bisa diatasi manusia. Bahkan yang terjadi
justru sebaliknya. Bencana alam datang silih berganti dengan skala yang
lebih besar lagi. Manusia dengan ilmu dan tehnologinya tak akan mampu
berbuat apa-apa jika Allah sudah menghendakinya.

Pesawat terbang yang dioperasikan dengan tehnologi canggih, yang sistem
pengendaliannya serba komputer, ternyata masih juga sering jatuh.
Ada yang menabrak gunung, bergeser dari landasan pacu, meledak di udara,
kebakaran, dan macam-macam lagi penyebabnya. Demikian pula
musibah yang terjadi atas kapal laut, kereta api, dan alat transportasi
lainnya. Adapun kecelakaan atas kendaraan bermotor yang lalu lalang
di jalanan sudah tak terhitung lagi jumlahnya. Setiap hari jalan raya
selalu meminta korban. Sesekali korbannya mencapai puluhan hingga
ratusan orang.

Sebagai khalifah, sewajarnya jika manusia berusaha untuk mengatasi
bencana dan musibah, setidak-tidaknya meminimalkan jatuhnya
korban. Berbagai alat terhnologi diciptakan, berbagai riset dan
penelitian dilakukan, akan tetapi dalam kenyataannya bencana dan
musibah itu selalu lebih canggih di atas segala tehnologi manusia.
Dari hari ke hari bencana dan musibah itu semakin dahsyat
dan menelan banyak korban.

Walaupun benar bencana dan musibah itu semua datangnya dari Allah
semata, namun manusia pun turut punya andil dalam mendatangkannya,
seperti dikatakan dalam ayat di atas “Dan apa yang menimpamu dari
musibah, maka disebabkan usaha tanganmu”. Banjir dan tanah
longsor terjadi karena penggundulan hutan oleh tangan manusia. Begitu
pula dengan kebakaran hutan, bahkan kecelakaan mobil dan pesawat pun
tak lepas dari peran tangan manusia. Dari waktu ke waktu, usaha
tangan-tangan manusia ini akan semakin hebat merusak bumi, sehingga
bencana yang ditimbulkannya pun semakin besar pula.

Diterangkan dalam hadis yang diriwayatkan Aisyah ra, “Pada akhir
(zaman) ummat ini akan terjadi bencana ditenggelamkan ke
tanah, diubah rupanya dan berbagai fitnah.” Aisyah bertanya,
“Ya Rasulullah, apakah kami akan turut binasa sedang di antara kami
masih terdapat orang-orang yang shaleh ?” Rasul pun menjawab,
“Ya, kalau kejahatan muncul dimana-mana. (HR Imam At Tirmidzi)

Mengerikan benar kenyataan ini, yang disebabkan oleh besarnya
sebab-sebab terjadinya musibah itu. Dalam hadis lain juga
disebutkan, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, hendaklah kamu
menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar, atau Allah
nyaris akan menurunkan azab-Nya kepadamu, kemudian kamu berdo'a
kepada-Nya namun Dia tidak berkenan memenuhi (do'a)mu.”

Ternyata kehadiran orang shaleh semata belumlah dirasa cukup jika
tidak dilengkapi dengan perbuatan kepedulian kepada orang
lain, lingkungan dan masyarakatnya. Maka, perbuataan amar ma'ruf nahi
munkar pun selanjutnya dijadikan standard penilaian. Dimana jika
perbuatan ini sudah dihilangkan, maka akan memudahkan turunnya azab
Allah kepada suatu bangsa.

Jarir bin Abdullah pun pernah menceritakan hadis Nabi saw seperti
berikut, “Apabila di tengah-tengah suatu kaum terdapat seorang
laki-laki yang suka melakukan perbuatan maksiat dan mereka sebenarnya
sanggup untuk menghentikan perbuatan laki-laki tersebut namun
mereka enggan menghentikannya, maka Allah akan menimpakan siksa
kepada mereka sebelum mereka mati.” (HR Imam Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Sementara Jabir pun menceritakan sabda serupa dari Rasulullah saw,
“Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung memberikan wahyu kepada Jibril
untuk membalikkan kota Madinah begini dan begini. Jibril berkata,
"Ya Tuhanku, sesungguhnya di tengah-tengah mereka (penduduk Madinah)
masih terdapat hamba-Mu si fulan yang tak pernah berbuat maksiat
kepada-Mu barang sejenak pun.' Allah berfirman,
`Balikkanlah kota Madinah atas laki-laki tersebut dan juga
atas mereka. Sesungguhnya wajah laki-laki tersebut tidak memperlihatkan
rona kemarahan sama sekali untuk kepentingan-Ku.'”
(HR Ath Thabrani)

Hadis-hadis lain yang memiliki arti serupa ternyata tidak sedikit.
Kesemuanya memaksa kita untuk kembali menengok kepada nasib
bangsa kita, yang tengah dilanda musibah demi musibah. Barangkali
karena telah sirnanya amar ma'ruf dari bumi tercinta?

Mari kita tengok kembali ribuan wanita yang lalu lalang di jalanan,
berapakah dari mereka itu yang menutup aurat? Barangkali hanya satu
atau dua persen saja. Dari yang membuka aurat itu, berapakah yang
masih memiliki malu dengan memelihara adat kesopanan dunia Timur?
Justru mereka yang tampil di tengah khalayak ramai, yang menjadi
publik figur, yang dijadikan idola di berbagai media, adalah mereka
yang semakin berani meninggalkan rasa malunya dalam berbusana!

Patut juga kita membuka mata lebar-lebar di depan layar kaca televisi
di kamar kita, berapa banyak acara yang masih terbingkai aturan syariah
Islam? Mulai dari kisah film yang dibalut asmara, pergaulan
bebas laki perempuan, busana-busana mini dan seksi, hingga suara
nyanyian merayu-rayu sang biduanita yang bergoyang penuh berahi.


Terhadap kedua fenomena ini, sudahkah kita berbuat sesuatu? Sudahkah
kita memberi peringatan kepada mereka yang terus menerus membuka aurat
dan mengumbar nafsu berahinya itu? Sudahkah pula kita berbuat sesuatu
memperingatkan, mencegah atau mengingatkan para produser dan konsumer
media cetak serta elektronik agar tidak mengetengahkan hiburan yang
menyimpang dari syariah Islam?


Bagaimana pula dengan minuman keras, yang seperti sudah lazim tersedia
di hampir setiap warung dan rumah makan? Sudahkah kita
memperingatkan mereka? Padahal bahaya khamar ini begitu besarnya,
sehingga mendapatkan perhatian serius dalam syariah Islam. Dalam hal
ini Rasulullah bersabda, “Takutlah kamu kepada khamar, karena
sesungguhnya ia adalah kunci segala kejahatan.” (HR Al Hakim)


Bersumber dari Abul Abbas, dari Muhammad bin Abdullah, dari Ibnu Wahab,
dan dari Malik bin Azzabadi; Bahwa Malik bin Sa'ad At-Tayyibi pernah
bercerita kepadanya bahwa dia mendengar Abdullah bin Abbas
mengatakan; “Sesungguhnya Rasulullah saw pernah didatangi oleh
Jibril as lalu berkata:`Wahai Muhammad, Sesungguhnya Allah itu mengutuk
khamar, orang yang memerasnya, orang yang menyuruh untuk memerasnya,
orang yang membawanya, orang yang minta dibawakan kepadanya,
orang yang meminumnya, orang yang menjualnya, orang yang
membelinya, orang yang memberinya untuk diminum dan orang yang
diberinya lalu diminumnya.”

Cobalah perhatikan betapa banyak orang yang ditimpa laknat oleh
Allah swt dan Rasul-Nya berdasarkan minuman yang diharamkan
oleh syari'at ini. Kita dapat membayangkan bagaimana nasib orang-orang
yang mendapat laknat dari Allah yang sebenarnya Maha Penyayang kepada
hamba-hamba-Nya dan laknat dari Rasul yang sebenarnya sangat sayang
kepada ummatnya. Betapapun laknat tidak akan menjauh dari orang-orang
shaleh yg membiarkan saja kemungkaran yang satu ini sementara mereka
sebenarnya sanggup merubahnya.

Dalam kehidupan ekonomi, praktek riba masih digunakan di mana-mana.
Hampir-hampir kita tak mampu mengelak dari riba ini, karena prakteknya
telah meluas ke segala jenis praktek dagang, hingga barang-barang kecil
sekalipun.
Dari mulai urusan bank tempat menyimpan wang jutaan
dollar, hingga urusan kredit panci ibu-ibu rumah tangga, semua sudah
terjerat riba. Mengenai hal ini diterangkan dalam sebuah hadis,
“Rasulullah saw melaknati orang yang memakan riba, orang yang
mewakilkannya, orang yang menuliskannya dan orang-orang yang menjadi
saksinya.” Beliau bersabda “Mereka semua adalah sama.” (HR Muslim)

Lebih jauh, dalam al-Qur'an bahkan Allah telah mengizinkan kita untuk
memerangi mereka. “Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa
riba) maka ketahuilah, bahwa Allah dan RasulNya akan memerangimu.”
(Qs Al Baqarah 279)

Bagaimana pula dengan masa lalu negara dan bangsa kita, dimana praktek
korupsi dilakukan oleh sebagian besar pejabat dengan terang-terangan
dan tanpa malu-malu? Kala itu, segala sesuatu yang berhubungan dengan
korupsi menjadi hal yang biasa, orang merasa tak ada yang
salah dengannya. Dan siapa mau peduli dengan keadaan ini? Semua orang
diam, tak ada yang berani mengatakan mana yang benar dan mana yang
salah. Semua orang pasrah, dan tak ada lagi amar ma'ruf nahi munkar.

Maka jika kemudian datang azab Allah berupa krisis ekonomi, yang terus
merebak menjadi krisis moral, juga krisis politik yang menghancurkan
bangsa kita, siapa yang mau disalahkan? Sungguh tak ada yang salah
kecuali diri-diri kita sendiri, bukan?

Wallahu a'lam


Walaupun nyanyian yang memalukan itu haram dikerjakan bila disertai dengan
perbuatan haram atau mungkar namun mendengarkannya tidaklah haram.
Keharamannya itu terbatas pada mendengarkannya secara langsung dari
penyanyinya ditempat maksiat (contohnya konsert secara langsung), bukan
kerana suara penyanyi wanita itu aurat. Keharaman itu terletak pada sikap
berdiam diri terhadap nyanyian yang berisi kata-kata mungkar dan sipenyanyi
wanita tersebut menampilkan kecantikkannya untuk ditonjolkan dengan membuka
auratnya, misalnya rambut, leher, dada, betis, paha dan bahagian aurat
lainnya. Inilah yang diharamkan oleh syara¹, bukan kerana masalah
mendengarkan nyanyian wanita itu.

Re: [wanita-muslimah] Re: AURAT ; Aceh & Syariat Islam.

dari file lama kiriman he-man (sumbernya dari harokah juga
dari fatwa yusuf al qordhowi - suara perempuan bukan aurat



Penetapan suara perempuan sebagai aurat tidak didasari oleh
dalil yang qoth`iy , melainkan hanya berdasarkan penafsiran
terhadap ayat , ayat tersebut adalah surah Al Ahzab ayat 32 "Hai
Para istri Nabi , kamu sekalian tidaklah seperti perempuan yang lain ,
jika kamu bertaqwa , Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara
sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya
dan ucapkanlah perkataan yang baik"

Mainstream ulama ketika menafsirkan ayat ini yang dimaksud dengan
menundukkan suara adalah tidak bersuara yang genit/dibuat-buat ,
jadi tidak mengharamkan suara perempuan.Apalagi dalam nash-nash
hadis ada banyak sekali hadis dimana perempuan menyuarakan
pendapatnya secara terbuka di depan publik termasuk di depan
nabi ataupun mengkoreksi putusan khalifah (misal ketika Umar
hendak membatasi mahar)

Yang menetapkan suara perempuan sebagai aurat adalah ulama-ulama
radikal utamanya yang bermazhab Wahaby.Kalangan Wahaby sebetulnya
dianggap menyempal dari Islam Sunni (walaupun mereka mengklaim
sebagai sunni/Aswaja sejati).Yang menyebabkan fatwa-fatwa mereka
menjadi janggal dan aneh utamanya disebabkan penolakan keras mereka
terhadap penggunaan akal/logika dalam masalah agama , mereka hanya
melandasinya dengan nash tanpa reserve.Sementara mainstream Sunni
(golongan Al Asy'ariyah) menempatkan ilmu logika/mantiq sebagai
landasan berpikir dalam menentukan hukum , ilmu Ushul Fiqh sendiri
merupakan turunan dari ilmu mantiq.Dan seperti diketahui ilmu ushul
fiqh ini sangat diperlukan dalam menelaah hukum-hukum misal kenapa
nash/dalil ini digunakan kenapa tidak , jadi menjadi semacam pisau
analisis untuk menelaah produk-produk hukum.

Sementara golongan Wahaby karena menolak ilmu mantiq , seringkali
menyebabkan fatwa-fatwa ulamanya sulit dikritisi karena tidak adanya
pisau analisis ini .Sehingga bagi pengikutnya produk fiqh dan fatwa
ulama-ulama dari golongannya dianggap sebagai sebuah kebenaran
mutlak bahkan dianggap sebagai Syari'at Islam itu sendiri.Golongan
ini sangat berlebih-lebihan dalam memperlakukan dalil , kalangan
Wahaby lebih mengutamakan ilmu riwayah daripada dirayah dalam
ilmu hadis , jadi mereka lebih mengutamakan sanad daripada
matan , bagi mereka bila sanadnya sahih maka akan dipakai begitu
saja , misal sholat pakai sepatu , ulama-ulama sunni tidak ada yang
mensunnahkan sholat pakai sepatu (walaupun ada hadis yang
menyebutkan Rasul sholat memakai sepatu) , tapi bagi kaum Wahaby
ini dianggap sunnah.Begitu juga tafsiran ayat bagi kalangan ini
dianggap sebagai ayat itu sendiri.Jadi golongan ini sangat ekstrim
dalam memahami dalil/nash , sehingga tidak aneh kalau produk
hukum (fiqh dan fatwa) golongan ini seringkali terdengar aneh
dan tidak logis termasuk ditelinga ummat Islam mainsteram

Sejarah singkat mengenai golongan Wahaby yang lebih suka menyebut
dirinya sebagai Salafy ini sudah saya ceritakan dalam artikel "fundamentalis
Islam Indonesia" kemarin.

He-Man
Admin milis Wanita-Muslimah@yahoogroups.com
Mantan Sekrataris Wilayah Lembaga Pembinaan dan Pengembangan
Keluarga Sakinah , Jawa Barat (1997-2000)

Berikut fatwa mengenai suara perempuan bukan aurat

http://unity99.tripod.com/suara.html

SUARA WANITA: Aurat atau Bukan ?

Perbahasan mengenai kedudukan suara wanita telah banyak dibahaskan. Pelbagai
pendapat berhubung permasalahan ini telah dikemukan samada yang disandarkan
kepada nash syarak atau secara aqliyah semata. Tidak dinafikan wujudnya
percanggahan pendapat dalam perkara ini. Pada kesempatan kali ini, sekali
lagi kita akan turut membahaskan perkara ini. Apa yang bakal kami tampilkan
di sini merupakan prinsip yang dipegang oleh penulis setelah mengkaji secara
dalam dan menyeluruh (al-fikrul al-mustanir) berdasarkan nash-nash yang ada.
Sekiranya para pembaca menginginkan penjelasan lanjut, anda dialu-alukan
berhubung terus dengan sidang redaksi.

Adakah boleh mendengar nyanyian dari seorang wanita ? Apakah kedudukannya
dan bagaimanakah seharusnya sikap dan pendirian kita ?
Mungkin persoalan
sedemikian rupa sering berlegar di benak pemikiran kita. Ada yang mengatakan
bahawa yang boleh didengar adalah nyanyian dari lelaki, sedangkan nyanyian
seorang wanita adalah haram untuk didengar.
Alasannya, suara wanita itu
aurat (hal yang tidak boleh ditampilkan). Jawapannya wallahu Oalam.

Walaupun nyanyian yang memalukan itu haram dikerjakan bila disertai dengan
perbuatan haram atau mungkar namun mendengarkannya tidaklah haram.
Keharamannya itu terbatas pada mendengarkannya secara langsung dari
penyanyinya ditempat maksiat (contohnya konsert secara langsung), bukan
kerana suara penyanyi wanita itu aurat. Keharaman itu terletak pada sikap
berdiam diri terhadap nyanyian yang berisi kata-kata mungkar dan sipenyanyi
wanita tersebut menampilkan kecantikkannya untuk ditonjolkan dengan membuka
auratnya, misalnya rambut, leher, dada, betis, paha dan bahagian aurat
lainnya. Inilah yang diharamkan oleh syara¹, bukan kerana masalah
mendengarkan nyanyian wanita itu.

Suara wanita bukan aurat kerana jika disebut demikian, mengapa Rasulullah
SAW mengizinkan dua budak wanita menyanyi di rumahnya ? Selain itu, baginda
SAW juga tidak keberatan berbicara dengan kaum wanita, sebagaimana yang
terjadi ketika menerima bai¹at dari kaum ibu sebelum dan sesudah hijrah.
Bahkan beliau pernah mendengar nyanyian seorang wanita yang bernazar untuk
memukul rebana dan menyanyi di hadapan Rasulullah SAW. Semua keterangan
tersebut dan keterangan serupa lainnya menunjukkan bahawa suara wanita bukan
aurat.

Selain itu, syara¹ telah memberikan hak dan kekuasaan/kebenaran kepada
kaum wanita untuk melakukan aktiviti jual-beli, berdagang, menyampaikan
ceramah atau mengajar, mengaji Al Quran di rumah sendiri, membaca qasidah
atau syair dan sebagainya. Jika suara mereka itu dianggap aurat atau haram
diperdengarkan maka tentu syara¹ akan mencegah mereka melakukan semua
aktiviti tersebut. Inilah hujjah yang kuat. Memang diakui, syara¹ melarang
wanita menampilkan perhiasannya di hadapan kaum lelaki yang bukan mahramnya,
melenggak-lenggok atau manja dalam berbicara sebagaimana yang telah
diterangkan oleh Allah dalam firmanNya yang mafhumnya:

³...dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka atau
ayah mereka atau ayah suami mereka atau putera-putera mereka atau
putera-putera suami mereka atau saudara-saudara lelaki mereka atau
putera-putera saudara lelaki mereka atau putera-putera saudara perempuan
mereka atau wanita-wanita Islam atau budak-budak yang mereka miliki atau
pelayan-pelayan lelaki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau
anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita...²[An Nur: 31]

Syara¹ tidak melarang wanita berbicara dengan lelaki dengan syarat ia tidak
menampilkan kecantikkan atau perhiasannya kepada masyarakat umum di samping
ketentuan lain yang telah ditetapkan oleh syara¹. Oleh kerana itu, mendengar
suara wanita tidaklah haram sebab ianya bukan aurat. Tidak ada larangan
wanita untuk berbicara dengan kaum lelaki kecuali dengan suara manja,
merayu, mendayu atau keluhan yang dapat menimbulkan keinginan kaum lelaki
untuk berbuat jahat, serong dan perbuatan dosa besar yang lainnya terhadap
wanita tersebut. Hal ini telah ditegaskan oleh Allah dalam firmanNya yang
mafhumnya:

³...maka, janganlah kamu tunduk ketika berbicara (dengan manja, merayu, dan
sebagainya).(sebab), nanti akan timbul keinginan orang yang ada penyakit
dalam hatinya (keinginan nafsu berahinya). Dan ucapkanlah perkataan yang
baik (sopan santun).² [Al Ahzab:32]

Apabila wanita sudah melanggar perintah tersebut maka tidak hanya dirinya
yang terlibat dalam perbuatan dosa atau haram, tetapi setiap orang yang
membiarkan hal tersebut kerana mereka tidak menyeru kepada yang ma¹ruf
terhadap wanita itu dan tidak pula mencegahnya melakukan yang mungkar.

Rasulullah SAW bersabda mengenai hal ini:

³Siapa saja di antara kalian yang melihat adanya kemungkaran maka hendaklah
ia ubah dengan tangannya. Jika ia tidak mampu melakukannya, maka hendaklah
dengan lisannya. Kalau inipun tidak mapu dilakukannya, maka hendaklah dengan
menolaknya dii dalam hatinya. Tetapi itulah iman yang selemah-lemahnya.² [HR
Muslim, Abu Daud, Tirmizi, An Nasa¹i dan Ibn Majah]

Jadi, itulah sedikit penjelasan ringkas yang dapat kami berikan berhubung
perkara ini.
Sebarang komentar bolehlah dipanjangkan kepada kami. InsyaAllah
kami sedia menerima sebarang komentar anda. Wallahu Oalam.



2.
http://www.geocities.com/zek_my/news/ut205.html

Soalan
SAYA bingung dengan kenyataan pemimpin kerajaan negeri Kelantan dan
Terengganu mengenai suara wanita (qariah) untuk membaca al-Quran sebagai
aurat hingga tidak dibenarkan menyertai musabaqah kebangsaan dan
antarabangsa sebagaimana yang berlangsung setiap tahun sejak 1960 itu.
Bolehkah ustaz terangkan apakah sebenarnya kedudukan suara wanita pada sudut
Islam. BolehkaH wanita bersuara nyaring dan meninggi seperti menyanyi dan
memperdengarkan azan?

SALMAH ABDUL RAHMAN,
Kuala Terengganu.

Jawapan
Pada prinsipnya suara wanita tidak dikira aurat. Suara suatu alat komunikasi
utama yang dianugerahkan Allah kepada manusia, termasuk wanita.
Sekiranya suara wanita itu dikira sebagai aurat, maka kita seolah-olah
meletakkan kesusahan kepada wanita sedangkan prinsip agama Islam itu ialah
mudah (yusrun).

Tanpa suara, bayangkan kesusahan (usrun) yang terpaksa dialami wanita untuk
berkomunikasi dengan orang lain di rumahnya, di tempat kerja, di pasar dan
di bilik darjah, kuliah dan lain-lain seumpamanya. Akan terbantutlah urusan
pembelajaran, pengurusan dan pelbagai jenis lagi perhubungan dunia moden
sekiranya suara wanita dibatas-bataskan hingga sukar mereka hendak
berkomunikasi.

Allah tidak melarang wanita bercakap dengan lelaki selagi tidak menimbulkan
fitnah bagi dirinya dan bagi lelaki itu, tetapi tidak boleh
melembut-lembutkan suara dengan tujuan menggoda atau melalaikan.
(Al-Ahzab: 33).

Dalam ayat itu, Allah memerintahkan wanita berkata dengan yang makruf. Ini
membuktikan suara mereka bukan aurat. Demikianlah pendapat Syeikh Atiyah
Saqr, Pengerusi Jawatankuasa Fatwa Universiti Al-Azhar, Mesir dalam koleksi
fatwanya ³Soal Jawab Wanita Islam.² (Yadim Kuala Lumpur, 1997).

Pada zaman dulu ramai kaum wanita di kalangan sahabat yang datang menemui
Rasulullah untuk bertanya dan berdialog bersama baginda. Mereka menanyakan
pelbagai perkara, termasuk hukum dan didengar oleh kalangan sahabat lelaki.
Mereka tidak dilarang bersuara ketika itu.

Syeikh Atiyah juga memetik beberapa pendapat ulama terdahulu mengenai
perkara ini. Al-Qurtubi berkata, suara wanita ketika berkata-kata bukanlah
termasuk aurat, kecuali ketika dia menyanyi, maka pada saat itu suaranya
aurat.

Lelaki dibolehkan bercakap atau berdialog dengan pegawainya (wanita) dengan
suatu hajat yang perlu, tetapi wanita tidak boleh memerdukan atau
melembut-lembutkan suaranya pada saat bercakap dengan lelaki kerana ia boleh
menimbulkan berahi dan fitnah.

Imam al-Ghazali juga berkata: ³Sesungguhnya suara wanita bukanlah aurat
kecuali ketika dia menyanyi - maka pada saat itu suaranya aurat.
Dr Yusof al-Qardhawi dalam Fatwa Muasirah memetik dalil, suara wanita bukan
aurat. Katanya, al-Quran sendiri mengandungi ayat yang membenarkan wanita
berdialog dengan Nabi Muhammad.

Allah berfirman bermaksud: ³Apabila mereka ingin menanyakan sesuatu mereka
menanyakannya dari balik tabir.² (Al-Ahzab:53)
Walaupun begitu, wanita tidak boleh mengeluarkan suara sewenang-wenang;
tidak disyariat kepada wanita untuk azan bagi mendirikan sembahyang, kecuali
di kalangan mereka sendiri.

Apabila seorang wanita ingin menegur kesalahan yang dilakukan imam dalam
sembahyang tidak boleh dengan melafazkan tasbih seperti yang dilakukan oleh
lelaki, tetapi memadailah dengan menepuk tangannya saja. Mereka juga tidak
boleh membaca nyaring dalam bacaan sembahyang.

Di antara fitnah dalam suara wanita ialah hilai ketawa, suara yang
memberahikan, nyanyian yang bertujuan menggoda dan melalaikan. Ia dilarang
bagi menjaga martabat wanita.

Sebaliknya, wanita yang ingin mempelajari lagu al-Quran tidaklah dilarang.
Imam Nawawi menyebut di dalam kitabnya Riadhus Salihin mengenai galakan
belajar lagu al-Quran.

Daripada Abu Hurairah katanya, Rasulullah bersabda, bermaksud: ³Allah tidak
senang mendengar sesuatu selain daripada mendengar seseorang yang sedang
melagukan bacaan al-Quran dengan suara lantang dan merdu.² - (Riwayat
Bukhari dan Muslim).

Ibnu Abbas juga menyatakan, Rasulullah bersabda bermaksud: ³Sesiapa yang
tidak suka berlagu (mengelokkan bacaan) al-Quran maka bukanlah daripada
golonganku² (Riwayat Abu Daud).



3.
http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Kontemporer/SuaraWanita.html

FITNAH DAN SUARA WANITA Dr. Yusuf Qardhawi

PERTANYAAN

Sebagian orang berprasangka buruk terhadap wanita.
Mereka menganggap wanita sebagai sumber segala bencana
dan fitnah. Jika terjadi suatu bencana, mereka berkata,
"Periksalah kaum wanita!" Bahkan ada pula yang
berkomentar, "Wanita merupakan sebab terjadinya
penderitaan manusia sejak zaman bapak manusia (Adam)
hingga sekarang, karena wanitalah yang mendorong Adam
untuk memakan buah terlarang hingga dikeluarkannya dari
surga dan terjadilah penderitaan dan kesengsaraan atas
dirinya dan diri kita sekarang."

Anehnya, mereka juga mengemukakan dalil-dalil agama
untuk menguatkan pendapatnya itu, yang kadang-kadang
tidak sahih, dan adakalanya - meskipun sahih - mereka
pahami secara tidak benar, seperti terhadap
hadits-hadits yang berisi peringatan terhadap fitnah
wanita, misalnya sabda Rasulullah saw:

"Tidaklah aku tinggalkan sesudahku suatu fitnah yang
lebih membahayakan bagi laki-laki daripada (fitnah)
perempuan."

Apakah maksud hadits tersebut dan hadits-hadits lain
yang seperti itu? Hadits-hadits tersebut kadang-kadang
dibawakan oleh para penceramah dan khatib, sehingga
dijadikan alat oleh suatu kaum untuk menjelek-jelekkan
kaum wanita dan oleh sebagian lagi untuk
menjelek-jelekkan Islam. Mereka menuduh Islam itu dusta
(palsu) karena bersikap keras terhadap wanita dan
kadang-kadang bersikap zalim.

Mereka juga mengatakan, "Sesungguhnya suara wanita -
sebagaimana wajahnya - adalah aurat. Wanita dikurung
dalam rumah sampai meninggal dunia."

Kami yakin bahwa tidak ada agama seperti Islam, yang
menyadarkan kaum wanita, melindunginya, memuliakannya,
dan memberikan hak-hak kepadanya. Namun, kami tidak
memiliki penjelasan dan dalil-dalil sebagai yang Ustadz
miliki. Karena itu, kami mengharap ustadz dapat
menjelaskan makna dan maksud hadits-hadits ini kepada
orang-orang yang tidak mengerti Islam atau berpura-pura
tidak mengerti.

Semoga Allah menambah petunjuk dan taufik-Nya untuk
Ustadz dan menebar manfaat ilmu-Nya melalui Ustadz.
Amin.

JAWABAN

Sebenarnya tidak ada satu pun agama langit atau agama
bumi, kecuali Islam, yang memuliakan wanita, memberikan
haknya, dan menyayanginya. Islam memuliakan wanita,
memberikan haknya, dan memeliharanya sebagai manusia.
Islam memuliakan wanita, memberikan haknya, dan
memeliharanya sebagai anak perempuan.

Islam memuliakan wanita, memberikan haknya, dan
memeliharanya sebagai istri. Islam memuliakan wanita,
memberikan haknya, dan memeliharanya sebagai ibu. Dan
Islam memuliakan wanita, memberikan haknya, dan
memelihara serta melindunginya sebagai anggota
masyarakat.

Islam memuliakan wanita sebagai manusia yang diberi
tugas (taklif) dan tanggung jawab yang utuh seperti
halnya laki-laki, yang kelak akan mendapatkan pahala
atau siksa sebagai balasannya. Tugas yang mula-mula
diberikan Allah kepada manusia bukan khusus untuk
laki-laki, tetapi juga untuk perempuan, yakni Adam dan
istrinya (lihat kembali surat al-Baqarah: 35)

Perlu diketahui bahwa tidak ada satu pun nash Islam,
baik Al-Qur'an maupun As-Sunnah sahihah, yang
mengatakan bahwa wanita (Hawa; penj.) yang menjadi
penyebab diusirnya laki-laki (Adam) dari surga dan
menjadi penyebab penderitaan anak cucunya kelak,
sebagaimana disebutkan dalam Kitab Perjanjian Lama.
Bahkan Al-Qur'an menegaskan bahwa Adamlah orang pertama
yang dimintai pertanggungjawaban (lihat kembali surat
Thaha: 115-122).

Namun, sangat disayangkan masih banyak umat Islam yang
merendahkan kaum wanita dengan cara mengurangi
hak-haknya serta mengharamkannya dari apa-apa yang
telah ditetapkan syara'. Padahal, syari'at Islam
sendiri telah menempatkan wanita pada proporsi yang
sangat jelas, yakni sebagai manusia, sebagai perempuan,
sebagai anak perempuan, sebagai istri, atau sebagai
ibu.

Yang lebih memprihatinkan, sikap merendahkan wanita
tersebut sering disampaikan dengan mengatas namakan
agama (Islam), padahal Islam bebas dari semua itu.
Orang-orang yang bersikap demikian kerap menisbatkan
pendapatnya dengan hadits Nabi saw. yang berbunyi:
"Bermusyawarahlah dengan kaum wanita kemudian
langgarlah (selisihlah)."

Hadits ini sebenarnya palsu (maudhu'). Tidak ada
nilainya sama sekali serta tidak ada bobotnya ditinjau
dari segi ilmu (hadits).

Yang benar, Nabi saw. pernah bermusyawarah dengan
istrinya, Ummu Salamah, dalam satu urusan penting
mengenai umat. Lalu Ummu Salamah mengemukakan
pemikirannya, dan Rasulullah pun menerimanya dengan
rela serta sadar, dan ternyata dalam pemikiran Ummu
Salamah terdapat kebaikan dan berkah.

Mereka, yang merendahkan wanita itu, juga sering
menisbatkan kepada perkataan Ali bin Abi Thalib bahwa
"Wanita itu jelek segala-galanya, dan segala kejelekan
itu berpangkal dari wanita."

Perkataan ini tidak dapat diterima sama sekali; ia
bukan dari logika Islam, dan bukan dari nash.1

Bagaimana bisa terjadi diskriminasi seperti itu,
sedangkan Al-Qur'an selalu menyejajarkan muslim dengan
muslimah, wanita beriman dengan laki-laki beriman,
wanita yang taat dengan laki-laki yang taat, dan
seterusnya, sebagaimana disinyalir dalam Kitab Allah.

Mereka juga mengatakan bahwa suara wanita itu aurat,
karenanya tidak boleh wanita berkata-kata kepada
laki-laki selain suami atau mahramnya. Sebab, suara
dengan tabiatnya yang merdu dapat menimbulkan fitnah
dan membangkitkan syahwat.

Ketika kami tanyakan dalil yang dapat dijadikan acuan
dan sandaran, mereka tidak dapat menunjukkannya.

Apakah mereka tidak tahu bahwa Al-Qur'an memperbolehkan
laki-laki bertanya kepada isteri-isteri Nabi saw. dari
balik tabir? Bukankah isteri-isteri Nabi itu
mendapatkan tugas dan tanggung jawab yang lebih berat
daripada istri-istri yang lain, sehingga ada beberapa
perkara yang diharamkan kepada mereka yang tidak
diharamkan kepada selain mereka? Namun demikian, Allah
berfirman:

"Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka
(istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir
..."(al-Ahzab: 53)

Permintaan atau pertanyaan (dari para sahabat) itu
sudah tentu memerlukan jawaban dari Ummahatul Mukminin
(ibunya kaum mukmin: istri-istri Nabi). Mereka biasa
memberi fatwa kepada orang yang meminta fatwa kepada
mereka, dan meriwayatkan hadits-hadits bagi orang yang
ingin mengambil hadits mereka.

Pernah ada seorang wanita bertanya kepada Nabi saw.
dihadapan kaum laki-laki. Ia tidak merasa keberatan
melakukan hal itu, dan Nabi pun tidak melarangnya. Dan
pernah ada seorang wanita yang menyangkal pendapat Umar
ketika Umar sedang berpidato di atas mimbar. Atas
sanggahan itu, Umar tidak mengingkarinya, bahkan ia
mengakui kebenaran wanita tersebut dan mengakui
kesalahannya sendiri seraya berkata, "Semua orang
(bisa) lebih mengerti daripada Umar."

Kita juga mengetahui seorang wanita muda, putri seorang
syekh yang sudah tua (Nabi Syu'aib; ed.) yang berkata
kepada Musa, sebagai dikisahkan dalam Al-Qur'an:

"... Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia
memberi balasan terhadap (kebaikan)-mu memberi minum
(ternak) kami ..." (al-Qashash: 25)

Sebelum itu, wanita tersebut dan saudara perempuannya
juga berkata kepada Musa ketika Musa bertanya kepada
mereka:

"... Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)? Kedua
wanita itu menjawab, 'Kami tidak dapat meminumkan
(ternak kami), sebelum penggembala-penggembala itu
memulangkan (ternaknya), sedangkan bapak kami adalah
orang tua yang telah lanjut usianya." (al-Qashash: 23)

Selanjutnya, Al-Qur'an juga menceritakan kepada kita
percakapan yang terjadi antara Nabi Sulaiman a.s.
dengan Ratu Saba, serta percakapan sang Ratu dengan
kaumnya yang laki-laki.

Begitu pula peraturan (syariat) bagi nabi-nabi sebelum
kita menjadi peraturan kita selama peraturan kita tidak
menghapuskannya, sebagaimana pendapat yang terpilih.

Yang dilarang bagi wanita ialah melunakkan pembicaraan
untuk menarik laki-laki, yang oleh Al-Qur'an
diistilahkan dengan al-khudhu bil-qaul
(tunduk/lunak/memikat dalam berbicara), sebagaimana
disebutkan dalam firman Allah:

"Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti
wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah
kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah
orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah
perkataan yang baik." (al-Ahzab: 32)

Allah melarang khudhu, yakni cara bicara yang bisa
membangkitkan nafsu orang-orang yang hatinya
"berpenyakit." Namun, dengan ini bukan berarti Allah
melarang semua pembicaraan wanita dengan setiap
laki-laki. Perhatikan ujung ayat dari surat di atas:

"Dan ucapkanlah perkataan yang baik"

Orang-orang yang merendahkan wanita itu sering memahami
hadits dengan salah. Hadits-hadits yang mereka
sampaikan antara lain yang diriwayatkan Imam Bukhari
bahwa Nabi saw. bersabda:

"Tidaklah aku tinggalkan sesudahku suatu fitnah yang
lebih membahayakan bagi laki-laki daripada (fitnah)
wanita."

Mereka telah salah paham. Kata fitnah dalam hadits
diatas mereka artikan dengan "wanita itu jelek dan
merupakan azab, ancaman, atau musibah yang ditimpakan
manusia seperti ditimpa kemiskinan, penyakit,
kelaparan, dan ketakutan." Mereka melupakan suatu
masalah yang penting, yaitu bahwa manusia difitnah
(diuji) dengan kenikmatan lebih banyak daripada diuji
dengan musibah. Allah berfirman:

"... Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan
kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya) ...."
(al-Anbiya: 35)

Al-Qur'an juga menyebutkan harta dan anak-anak - yang
merupakan kenikmatan hidup dunia dan perhiasannya -
sebagai fitnah yang harus diwaspadai, sebagaimana
firman Allah:

"Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan
(bagimu)..." (at-Taghabun: 15)

"Dan ketabuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu
hanyalah sebagai cobaan ..." (al-Anfal: 28)

Fitnah harta dan anak-anak itu ialah kadang-kadang
harta atau anak-anak melalaikan manusia dari kewajiban
kepada Tuhannya dan melupakan akhirat.
Dalam hal ini
Allah berfirman:

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu
dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah.
Barangsiapa yang membuat demikian, maka mereka itulah
orang-orang yang rugi." (al-Munaafiqun: 9)

Sebagaimana dikhawatirkan manusia akan terfitnah oleh
harta dan anak-anak, mereka pun dikhawatirkan terfitnah
oleh wanita, terfitnah oleh istri-istri mereka yang
menghambat dan menghalangi mereka dari perjuangan, dan
menyibukkan mereka dengan kepentingan-kepentingan
khusus (pribadi/keluarga) dan melalaikan mereka dari
kepentingan-kepentingan umum. Mengenai hal ini
Al-Qur'an memperingatkan:

"Hai orang-orang beriman, sesungguhnya diantara
istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh
bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka ..."
(at-Taghabun: 14)

Wanita-wanita itu menjadi fitnah apabila mereka menjadi
alat untuk membangkitkan nafsu dan syahwat serta
menyalakan api keinginan dalam hati kaum laki-laki. Ini
merupakan bahaya sangat besar yang dikhawatirkan dapat
menghancurkan akhlak, mengotori harga diri, dan
menjadikan keluarga berantakan serta masyarakat rusak.

Peringatan untuk berhati-hati terhadap wanita disini
seperti peringatan untuk berhati-hati terhadap
kenikmatan harta, kemakmuran, dan kesenangan hidup,
sebagaimana disebutkan dalam hadits sahih:

"Demi Allah, bukan kemiskinan yang aku takutkan atas
kamu, tetapi yang aku takutkan ialah dilimpahkan
(kekayaan) dunia untuk kamu sebagaimana dilimpahkan
untuk orang-orang sebelum kamu, lantas kamu
memperebutkannya sebagaimana mereka dahulu
berlomba-lomba memperebutkannya, lantas kamu binasa
karenanya sebagaimana mereka dahulu binasa karenanya."
(Muttafaq alaih dari hadits Amr bin Auf al-Anshari)

Dari hadits ini tidak berarti bahwa Rasulullah saw.
hendak menyebarkan kemiskinan, tetapi beliau justru
memohon perlindungan kepada Allah dari kemiskinan itu,
dan mendampingkan kemiskinan dengan kekafiran. Juga
tidak berarti bahwa beliau tidak menyukai umatnya
mendapatkan kelimpahan dan kemakmuran harta, karena
beliau sendiri pernah bersabda:

"Bagus nian harta yang baik bagi orang yang baik" (HR.
Ahmad 4:197 dan 202, dan Hakim dalam al-Mustadrak 2:2,
dan Hakim mengesahkannya menurut syarat Muslim, dan
komentar Hakim ini disetujui oleh adz-Dzahabi)

Dengan hadits diatas, Rasulullah saw. hanya menyalakan
lampu merah bagi pribadi dan masyarakat muslim di jalan
(kehidupan) yang licin dan berbahaya agar kaki mereka
tidak terpeleset dan terjatuh ke dalam jurang tanpa
mereka sadari.

Catatan kaki:

1 Perkataan ini sudah kami sangkal dalam
Fatwa-fatwa Kontemporer jilid I ini.

-----------------------
Fatwa-fatwa Kontemporer
Dr. Yusuf Qardhawi
Gema Insani Press
Jln.
Kalibata Utara II No. 84 Jakarta 12740
Telp. (021) 7984391-7984392-7988593
Fax. (021) 7984388
ISBN 979-561-276-X

----- Original Message -----
From: "st sabri" <st_sabri@...>

:=))
Pak Ary, saya khan masih 'baru' di aceh jadi belum berani
sembarangan, lagi pula sekarang ndak bisa semau gue, selalu ada
yg 'mengingatkan'; terutama kalo mau pulang ke rumah mertua, baju,
dandanan, rambut dan juga ada larangan jangan ngomong hal-hal
tertentu. Begitu juga saat di pesantren, hanya boleh membahas yg
standar.

Tanpa bermaksud mewakili masyarakat aceh, kebanyakan teman yg saya
kenal, baik individu maupun kelompok, mengeluhkan diterapkannya
syariat islam. Tentu ini bukan pathokan, karena dibutuhkan
referendum untuk mengetahui kehendak rakyat.Sedikit sekali [dan
kebanyakan hanya para ulama/ulamawati] yg dengan berbunga bunga
membanggakan syariat islam di aceh. Kebanyakan teman [pengusaha,
kalangan lsm nasional/internasional, pelajar, pedagang] tidak ingin
syariat islam tapi takut berkomentar, jadi yg ada hanya keluhan dan
cibiran.

lagi pula menurut pengamatan saya setelah 3 bulan di aceh,
masyarakat aceh [banda aceh] suka dandan, suka penampilan wah, suka
makan diluar dan suka dugem juga [dugemnya ke medan]. Pada umumnya
beranggapan penerapan syariat Islam kurang disenangi, dan tidak
yakin bisa menjadi solusi pemecahan masalah.

wah kok jadi crita ginian.... udah dulu deh.
Met lebaran buat semua

salam

--- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "Ary Setijadi Prihatmanto"
<asetijadi@g...> wrote:
>
> :D
>
> ustadz sabri nih sudah lupa jadi orang Jawa,
> harusnya temen sampeyan sowan dulu ke YM ulama setempat itu.
> Tanya artis mana yang beliau sukai....
> Mungkin yang bukan aurat itu lagu-lagunya Ummu Kultsum atau
Jamrud....
>
> he he he he
>
> Sering-sering mampir ustadz
>
> Salam
> Ary


  • abdulloh Feb 27, 2009, 22:09
بسم الله الرحمن الرحيم
Al Hafizh Ibnu Hajar meceritakan sebuah riwayat dari Asyhab tentang seseorang yang sholat hanya dengan menggunakan celana panjang (tanpa ditutupi sarung atau jubah atau gamis), beliau berkata, “Hendaknya ia mengulangi sholatnya ketika itu juga kecuali bila celananya tebal.” Sedangkan sebagian ulama Hanafiyah memakruhkan hal itu. Padahal saat itu keadaan celana panjang mereka sangat longgar, lalu bagaimana dengan celana pantalon yang sangat sempit?!
Syaikh Al Albani berkata, “Celana pantalon mengandung dua cela.”
Pertama, orang yang menggunakannya berarti bertasyabuh dengan kaum kafir. Pada mulanya kaum muslimin mengenakan celana panjang yang luas dan longgar yang sekarang masih digunakan oleh sebagian orang di Suriah dan Libanon. Mereka sama sekali tidak mengenal celana pantalon, kecuali setelah mereka ditaklukkan dan dijajah. Kemudian setelah kaum penjajah takluk dan mengundurkan diri mereka meninggalkan jejak yang buruk, lalu dengan kebodohan dan kejahilan kaum muslimin melestarikan peninggalan mereka tadi.
Kedua, celana pantalon dapat membentuk aurat, sedangkan aurat laki-laki adalah dari lutut hingga pusar. Ketika sholat seorang muslim seharusnya amat jauh dari keadaan bermaksiat kepada RabbNya, namun bagi mereka yang menggunakan celana pantalon, anda akan melihat kedua belahan pantatnya terbentuk, bahkan dapat membentuk apa yang ada di antara kedua pantatnya tersebut. Bagaimana muungkin orang yang dalam keadaannya semacam ini dikatakan sholat dan berdiri di hadapan Rabbul ‘Alamin?!
Anehnya banyak di antara pemuda muslim yang mengingkari wanita-wanita berpakaian ketat atau sempit karena membentuk bodinya sementara mereka sendiri lupa akan diri mereka. Mereka sendiri terjatuh pada hal yang diingkari, sebab tidak ada perbedaan antara wanita yang berpakaian sempit dan membentuk tubuhnya dengan pria yang memakai celana pantalon yang juga membentuk pantatnya. Pantat pria dan pantat wanita keduanya sama-sama aurat. Karena itu wajib bagi para pemuda untuk segera menyadari musibah yang telah melanda mereka kecuali orang yang dipelihara Allah, namun mereka sedikit [3].
Adapun bila celana pantalon tersebut luas, maka sah sholat dengannya. Namun akan lebih utama bila di atasnya ada gamis yang menutup antara pusar hingga lutut atau lebih rendah hingga pertengahan betis atau mata kaki. Yang demikian lebih sempurna dalam menutup aurat [4]. (Al Fatawa 1/69 oleh Syaikh bin Baz).
Kesimpulannya, kalau seseorang memakai pantalon ketat, dia salah, oleh karena itu perlu diberitahu atau dinasehati (bukan di tahdzir). Kalau ia pakai pantalon yang tidak ketat, maka boleh saja. Kalau ia memakai pakaian yang lebih selamat, seperti memakai sarung, sirwal, gamis atau pakaian yang lebar lainnya maka ia telah memilih yang afdhal

AKIBAT MAKSIAT


إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.

يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ ...

فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.

Wahai saudara-saudaraku kaum Muslimin….
Sesungguhnya musibah-musibah yang menimpa kaum muslimin saat ini berupa penderitaaan, kesulitan dan kesempitan baik pada harta maupun keamana, baik yang menyangkut pribadi ataupun social, sesungguhnya disebabkan oleh maksiat-maksiat yang mereka lakukan. Sikap mereka yang meninggalkan perintah-perintah Allah serta meninggalkan penegakkan syari’at Allah, bahkan ada diantara mereka mencari-cari hukum selain dari syari’at Allah yang telah menciptakan seluruh makhluk. Allah Yang paling sayang terhadap mereka daripada kasih sayang ibu-ibu dan bapak-bapak mereka. Dan Yang paling mengetahui kemaslahatan dan kebaikan bagi mereka daripada diri mereka sendiri.
Allah berfirman,
وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura:30)

مَّا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِن سَيِّئَةٍ فَمِن نَّفْسِكَ وَأَرْسَلْنَاكَ لِلنَّاسِ رَسُولاً وَكَفَى بِاللّهِ شَهِيداً
“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.” (QS. 4:79)
Kebaikan apa saja yang kita rasakan baik berupa kenikmatan ataupun keamanan sesungguhnya Allahlah yang telah mengaruniakannya kepada kita. Dialah yang telah memberikan karunia kepada kita (berupa kemudahan untuk bisa melakukan hal-hal yang menyebabkan datangnya kebaikan-kebaikan. Dialah yang telah menyempurnakan kenikmatan bagi kita.
Wahai saudara-saudara kaum muslimin…
Sesungguhnya kebanyakan orang-orang sekarang mengembalikan sebab musibah-musibah yang mereka alami, baik musibah yang menyangkut harta atau yang menyangkut keamanan dan politik, mereka mengembalikan sebab-sebab musibah-musibah ini hanya kepada sebab-sebab alami, materi, atau kepada sebab pergolakan politik, atau sebab perekonomian, atau kepada sebab perselisihan tentang daerah perbatasan antara dua Negara.
Tidak disangsikan lagi, hal ini disebabkan kurangnya pemahaman mereka dan lemahnya iman mereka dan kelalaian mereka dari mentadabburi Al-Qur’an dan sunnah-sunnah Rasulullah.
Wahai saudara-saudaraku kaum muslimin…
Sesungguhnya dibalik semua sebab-sebab materi, alami tersebut adalah sebab syar’I, yang merupakan sebab timbulnya seluruh musibah dan malapetaka. Pengaruhnya lebih kuat, lebih besar, daripada sebab-sebab materi di atas. Sedangkan sebab-sebab materi merupakan sarana timbulnya musibah dan bencana sesuai dengan konsekwensi dari sebab-sebab syar’iyah berupa bencana dan hukuman. Allah berfirman,
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Ruum: 41)
Wahai saudara-saudaraku kaum muslimin…, wahai ummat Nabi Muhammad…
Bersyukurlah atas kenikmatan-kenikmatan yang Allah karuniakan kepada kalian. Nikmat yang telah kalian rasakan dan kalian nikmati. Wahai pengikut nabi Muhammad, kalian adalah umat yang paling baik daripada umat nabi-nabi yang lain, kalian telah dimuliakan oleh Allah. Allah tidak menimpakan kebinasaan yang menyeluruh yang menghancurkan seluruh umat sekaligus sebagaimana yang telah Allah timpakan kepada kaum ‘Aad tatkala Allah binasakan mereka dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang. Allah timpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu dengar kaum ‘Aad pada waktu itu mati bergelimpangan.
Allah juga tidak menimpakan hukuman kepada umat ini sebagaimana hukuman yang Allah timpakan kepada kaum Tsamud, yang ditimpa suara yang sangat keras dan mengguntur dan gempa. Sehingga mereka menjadi mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka (lihat: QS 54-31 dan QS 7: 78), tidak juga sebagaimana hukuman yang Allah timpakan kepada kaum Nabi Luth yang Allah kirimkan kepada mereka hujan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi. Allah membalikkan negeri kaum Luth. (lihat: QS 11: 82)
Wahai saudara-saudaraku kaum muslimin…
Sesungguhnya Allah dengan kebijaksanaanNya dan rahmatNya kepada ummat ini, Allah menjadikan hukuman kepada mereka akibat dosa-dosa dan kemaksiatan yang dikerjakan mereka berupa penguasaan sebagian mereka terhadap yang lain sesama kaum muslimin.
Allah berfirman:
قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَن يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَاباً مِّن فَوْقِكُمْ أَوْ مِن تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعاً وَيُذِيقَ بَعْضَكُم بَأْسَ بَعْضٍ انظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الآيَاتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُونَ وَكَذَّبَ بِهِ قَوْمُكَ وَهُوَ الْحَقُّ قُل لَّسْتُ عَلَيْكُم بِوَكِيلٍ لِّكُلِّ نَبَإٍ مُّسْتَقَرٌّ وَسَوْفَ تَعْلَمُونَ
Katakanlah:"Dia yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian) kamu kepada keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya). Dan kaummu mendustakannya (azab) padahal azab itu benar adanya. Katakanlah:"Aku ini bukan orang yang diserahi mengurus urusanmu.Untuk tiap-tiap berita (yang dibawa oleh rasul-rasul) ada (waktu) terjadinya dan kelak kamu akan mengetahui.” (QS. Al-An’am: 65-67)
Ibnu katsir menyebutkan, banyak hadits berkaitan dengan ayat yang pertama. Diantaranya adalah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Al-Bukhari dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Tatkala turun firman Allah (yang artinya), “Katakanlah: “Dia yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu”, Nabi berkata,
أَعُوْذُ بوَجْهكَ
“Aku berlindung dengan wajahMu (darinya adzab ini)”. (ketika firman Allah, yang artinya) “Atau dari bawah kaki kalian”, Nabi berkata,
أَعُوْذُ بوَجْهكَ
“Aku berlindung dengan wajahMu (darinya adzab ini)”. (ketika firman Allah, yang artinya) “Atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian) kamu kepada keganasan sebahagian yang lain”, Nabi bersabda,
هَذه أَهْوَنُ أَوْ أَيْسَرُ
“Yang ini lebih ringan atau lebih mudah. (HR Bukhari)
Dan hadits yang dikeluarkan oleh Imam Muslim dari Sa’ad bin Abi Waqqas, beliau berkata,
أَقْبَلْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- حَتَّى مَرَرْنَا عَلَى مَسْجِدِ بَنِى مُعَاوِيَةَ فَدَخَلَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَصَلَّيْنَا مَعَهُ وَنَاجَى رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ طَوِيلاً قَالَ « سَأَلْتُ رَبِّى عَزَّ وَجَلَّ ثَلاَثاً سَأَلْتُهُ أَنْ لاَ يُهْلِكَ أُمَّتِى بِالْغَرَقِ فَأَعْطَانِيهَا وَسَأَلْتُهُ أَنْ لاَ يُهْلِكَ أُمَّتِى بِالسَّنَةِ فَأَعْطَانِيهَا وَسَأَلْتُهُ أَنْ لاَ يَجْعَلَ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ فَمَنَعَنِيهَا
“Kami pergi bersama Rasulullah hingga kami melewati sebuah masjid bani Mu’awiyah maka Rasulullahpun masuk dalam masjid tersebut kemudian beliau sholat dua raka’at, maka kamipun sholat bersama beliau. Beliaupun lama bermunajat kepada Allah, setelah itu beliau berkata (kepada kami), “Aku meminta kepada Robku tiga perkara. Aku meminta kepadaNya agar Dia tidak membinasakan umatku dengan meneggelamkan mereka maka Dia mengabulkan permintaanKu. Dan aku meminta kepadaNya agar Dia tidak membinasakan umatku dengan musim kemarau yang berkepenjangan (yaitu sebagaimana yang menimpa kaum Fir’aun) maka Dia mengabulkan permintaanku. Dan aku meminta kepadaNya agar tidak menjadikan mereka saling bertentangan (berperang satu dengan yang lainnya) maka Dia tidak mengabulkan permintaanku”
Wahai saudara-saudaraku kaum muslimin…
Sesungguhnya kalian beriman dan mempercayai kebenaran ayat-ayat ini dan kalian beriman dan membenarkan hadits-hadits yang shahih dari Rasulullah, namun kenapakah kalian tidak merenungkanya…??, kenapa kalian tidak merenugkan kandungannya..??, kenapa kalian tidak mengembalikan sebab musibah dan malapetaka yang menimpa kalian kepada kekurang dan kelemahan agama kalian hingga kalian kembali kepada Rabb kalian.
Sehingga kalian menyelamatkan jiwa kalian dari sebab-sebab kebinasaan dan kehancuran??
Bertakwalah kepada Allah, takutlah kepada Allah wahai hamba-hamba Allah, lihatlah kepada kondisi kalian, bertaubatlah kepada Allah dan luruskanlah jalan kalian menuju kepadaNya.
Wahai umat Muhammad, ketahuilah bahwa seluruh musibah dan fitnah yang menimpa kalian akibat dari perbuatan kalian, akibat dari dosa-dosa kalian. Maka hendaklah kalian bertaubat dari setiap dosa yang kalian lakukan, kembalilah kepada jalan Allah dan berlindunglah kalian kepada Allah dari fitnah, ujian, dan bencana, baik bencana dunia maupun bencana yang berkaitan dengan agama, berupa syubhat-syubhat dan syahwat (hawa nafsu) yang telah merintangi umat ini dari agama Allah dan menjauhkannya dari jalan salaf. Sehingga umat ini terjerumus ke jurang api neraka.
Sesungguhnya fitnah (bencana) yang menimpa hati lebih besar dan lebih bahaya dan lebih buruk akibatnya daripada bencana dunia, karena bencana dunia bagaimanapun juga akan musnah cepat atau lambat. Sedangkan bencana yang menimpa agama seseorang, maka akibatnya adalah kerugian di dunia dan akhirat. Allah berfirman, “Katakanlah: “Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat”. Ingatlah yang demikian itu adalah kerugian yang nyata”. (QS. 39: 15)
Ya Allah jadikanlah kami termasuk mukmin yang sebenar-benarnya, yang mereka mengembalikan sebab musibah yang melanda mereka kepada sebab yang hakiki yaitu sebab syar’I yang telah Engkau jelaskan dalam kitabMu melalu lisan RasulMu Mumamad.
Ya Allah karuniakanlah bagi umat ini dan bagi para pemimpin-pemimpin mereka agar kembali taubat kepada Engkau dengan taubat yang sebenar-benarnya, karena kebaikan para pemimpin merupakan kebaikan bagi umat yaitu kabaikan mereka merupakan sebab kebaikan bagi umat.
أَقُوْلُ قَوْلِي هَذا أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ
Khutbah yang kedua
إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَلَّى اللَّّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا

Wahai hamba-hamba Allah bertakwalah dan takutlah kalian kepada Allah, waspadalah kalian dari sikap melalaikan syari’at Allah…. hati-hatilah kalian dari sikap lalai terhadap ayat-ayat Allah…hati-hatilah kalian dari sikap lalai dari mentadabburi kitabullah (Al-Qur’an)… hati-hatilah kalian terhadap sikap lalai dari mengenal sunnah-sunnah Rasulullah. Sesungguhnya pada Al-Qur’an dan sunnah-sunnah Nabi terdapat sumber kebahagiaan kalian di dunia dan di akhirat jika kalian memegang teguh kepada sunnah-sunnah Nabi dengan membenarkan segala pengkhabaran Rasulullah dan melaksanakan perintah-perintah Rasulullah.
Wahai hamba-hamba Allah…
Mungkin ada sebagian orang ragu dan menanamkan keraguan pada orang lain tentang masalah maksiat-maksiat merupakan sebab timbulnya musibah dan bencana.
Hal ini karena kelemahan iman dan kurangnya mereka merenungkan kandungan isi Al-Qur’an. Saya akan bacakan kepada mereka dan yang sejenis mereka. Firman Allah (yang artinya): “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?. Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?. Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga) Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi. (QS. Al-A’:99)
Sebigian salaf mengatakan, “Jika engkau melihat Allah memberikan kenikmatan memberikan kenikmatan kepada seseorang sedangkan engkau melihat orang ini terus melakukan kemaksiatan maka ketauhilah bahwa ini adalah tipuan Allah kepadanya, dan orang tersebut masuk dalam katagori firman Allah,
سَنَسْتَدْرِجُهُم مِّنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ وَأُمْلِي لَهُمْ إِنَّ كَيْدِي مَتِينٌ
“Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui. dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat teguh.” (QS. Al-Qalam: 45)
Wahai kaum muslimin…., wahai hamba-hamba Allah…
Sesungguhnya kemaksiatan sangat mempengaruhi keamanan Negara, sangat berpengaruh terhadap ketentraman bangsa dan perekonomiannya, serta mempengaruhi hati-hati rakyat.
Meskipun berbagai kemaksiatan terpampang di depan mata dengan berbagai macam dan raga, jika kita saling bahu membahu mencegahnya sesuai dengan kemampuan kita, insya Allah semuanya akan sirna dan barakah akan diturunkan ke muka bumi.
Saya mengajak diri saya sendiri dan kalian wahai saudara-saudaraku untuk bersatu di jalan Allah dan saling bergandengan tangan dalam menegakkan syari’at Allah, saling menasehati satu dengan yang lainnya, berdialog dengan siapa saja yang memang butuh untuk diajak dialog namun dengan metode yang terbaik dan dengan hujjah (argumentasi) dari Al-Qur’an dan As-Sunnah serta dengan argumentasi akal, tidak membiarkan para pelaku kebatilan tetap dalam kebatilan mereka karena mereka berhak untuk kita jelaskan kepada mereka kebenaran yang hakiki kemudian kita memotivasi mereka untuk melaksanakannya serta kita jelaskan juga kepada mereka kebatilan mereka dan kita memperingatkan mereka dari kebatilan tersebut.
Kita mohon kepada Allah agar mengembalikan orang yang sesat dari umat ini kepada jalan yang benar, agar menjadikan kita saling bergandengan tangan dalam melaksanakan kebenaran, saling tolong menolong dalam mengerjakan kebajikan dan ketakwaan hingga kit mengembalikan apa-apa yang telah sirna berupa kemuliaan dan ketinggiannya, sesungguhnya Allah yang Menguasai hal itu dan Maha mampu mewujudkannya.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.
رَبَّنا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَْيتَنا ، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمة ، إِنّكَ أنتَ الوَّهابُ
رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
َاللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ وَالأَبْصَارِ ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ.
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. والحمد لله رب العالمين.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar